
"Aku mau kamu menerima Gita sebagai istriku juga!",
Deg
Anisa tersenyum mendengar keputusan putranya. Berbeda dengan senyum Tari meredup seketika, benarkah yang dia dengar barusan?.
"Ka-kamu bilang apa?", ulangnya ragu
"Apa kamu tuli?", kesal Anisa
"Aku mau kamu menerima Gita sebagai istriku juga. Kenyataannya, istriku bukan hanya kamu. Tapi juga Gita!", jelas Danar
Tari menggeleng, air matanya kembali mengalir. Dia tidak rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Jangankan berbagi, membayangkannya saja, dadanya terasa sesak.
"Bukankah kamu sudah berjanji untuk menceraikannya mas. Kenapa sekarang memintaku menerimanya?", lirihnya pilu
Danar kembali menatap istri keduanya. Bagiamanapun, Danar tidak boleh egois. Dia sudah merenggut kehormatan Gita, dan dia harus bertanggung jawab. Anisa hanya diam, dia ingin mendengar alasan putranya,
"Bukankah sejak awal kamu tahu jika aku sudah beristri?. Kenapa sekarang kamu keberatan dengan permintaanku. Gita saja berlapang dada menerimamu sebagai madunya!", ucap Danar enteng
"Apa kamu mulai mencintainya?", tanya Tari menyelidik
Danar hanya diam, haruskan dia berterus terang tentang kejadian semalam?.
"JAWAB MAS!!!, APA KAMU MULAI MENCINTAINYA?", teriak Tari,
Perempuan itu tersenyum getir saat suaminya hanya bergeming. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi, Danar mulai mencintai istri pilihan mamanya. Cinta, perhatian dan kasih sayang pria yang dicintainya perlahan akan berpindah pada wanita lain. Dan dirinya akan tersingkir seiring berjalannya waktu.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu bukan?. Begitupun cinta Danar pada Gita. Gita wanita yang baik, meskipun Danar memperlakukannya dengan buruk. Gita tetap melakukan kewajibannya. Kalian juga selalu makan masakannya. Kurang berbesar hati apa lagi menantu kesayanganku. Sekarang giliranmu yang harus berbesar hati menerima keputusan suamimu!!", ucap Anisa
"Aku akan berlaku adil pada kalian berdua!", ucap Danar mantap
Lagi-lagi hati Tari berdenyut nyeri, ucapan Danar sudah jelas menyatakan jika pria itu akan menjadikan Gita istri yang sesungguhnya. Mereka akan berbagi cinta, kasih sayang bahkan raga Danar. Tidak, Tari tidak akan sanggup menjalani semua itu. Dia tidak akan sanggup menyaksikan suaminya berada dalam selimut yang sama dengan perempuan lain.
"Jangan, jangan siksa aku dengan permintaanmu mas. Aku bahkan rela menukar nyawaku, tapi tidak dengan berbagi dirimu. Aku tidak akan sanggup melakukan semua itu. Aku mohon jangan lakukan itu!!", Tari bersujud di kaki suaminya.
Jujur Danar iba, dia kasihan melihat Tari rela menjatuhkan harga diri dan bersujud dikakinya. Tapi dia tak mungkin meninggalkan Gita setelah semua yang terjadi. Dia adalah seorang pria, jika saja Danar belum menyentuhnya. Dia akan melepas Gita tanpa rasa bersalah. Tapi sekarang semua sudah berbeda.
"Jangan egois, kamu harus menerima keputusan suamimu. Karena apa?!", Anisa menggantung kalimatnya, "Karena mereka sudah tidur bersama!!",
__ADS_1
Tari menggeleng keras,
"Tidak mungkin, katakan jika semua yang mama katakan tidak benar mas!!", pintanya memohon
"Maafkan aku Tar, aku yakin kamu masih mencintaiku. Dan kamu akan melakukan apapun yang aku katakan. Aku janji akan berlaku adil pada kalian berdua!", Danar beranjak meninggalkan Tari yang masih bersimpuh dilantai.
Tari semakin tersedu-sedu. Hatinya hancur, rasanya dia tak sanggup harus menjalani hari esok. Dia tidak terima dengan semua ini, dia tidak rela harus berada diposisi ini.
"Kau lihat, sejauh apapun usahamu memisahkan mereka. Nyatanya takdir yang menyatukan mereka. Dan aku berharap, ada benih Danar yang tumbuh dirahim menantuku!!", Anisa melenggang pergi meninggalkan Tari seorang diri.
"Arrggg .... Tidak mas. Sampai kapanpun aku tidak rela membagimu dengan wanita lain. Kau akan membayar semuanya, Anggita Geavina!!",
****
Danar tidak melajukan mobilnya ke kantor, melainkan kerumah Gita. Danar akan menemui Gita dan membicarakan semuanya. Dia akan meminta maaf pada perempuan cantik itu.
Mobil Danar sudah berada dipelataran rumah istrinya. Dia memperhatikan Gita yang duduk termenung disamping rumahnya. Tatapan wanita itu terlihat kosong. Danar tahu, pasti Gita masih memikirkan kejadian semalam. Bukan hanya fisik perempuan itu yang sakit, Danar yakin hatinya tak kalah sakit.
Pria yang berstatus suami Gita itu berjalan pelan mendekati istrinya,
"Mau apa kau kemari, pria bajingan!!",
"Git, aku mohon. Kita harus bicara!", pinta Danar
Gita memalingkan wajah, dia masih enggan untuk menatap suaminya.
"Aku minta maaf atas kejadian semalam. Ayo kita bicarakan semuanya!", pintanya lagi
Ana menatap Danar tajam, ingin sekali dia mematahkan badan pria pecundang tersebut. Bisa-bisanya dia berbicara tanpa beban setelah semua yang terjadi pada sahabatnya.
"Jangan paksa Gita jika dia tidak ingin berbicara denganmu. Dasar tidak tahu diri, seharusnya sebagai seorang pria, kau malu menampakkan diri setelah semua yang kau lakukan!!", sarkas Ana
Danar menatap Gita dengan tatapan memohon, sayangnya perempuan itu masih memalingkan wajah
"Baiklah, mngkin kita bisa bicara lain waktu!", Danar mulai meninggalkan rumah Gita
"Masuklah, kita bicara didalam!",
Danar tersenyum, dia mengekori perempuan cantik itu memasuki rumahnya. Begitupun dengan Ana. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Sepertinya memang kita tidak ditakdirkan bersama Git!!", gumamnya dalam hati
****
Danar duduk diruang tamu bersama Gita dan Ana. Sebenarnya Danar ingin bicara berdua dengan istrinya. Tapi melihat Gita yang masih takut menatap dirinya. Danar mempersilahkan Ana menemani mereka.
"Jadi, apa yang ingin mas sampaikan!", tanya Gita
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi. Aku ..., tidak sadar saat melakukan hal itu!", bohongnya, nyatanya Danar setengah sadar malam itu, dia yang memang sudah tergoda dengan tubuh Gita, dan tak bisa menahan dirinya lagi.
"Cih, gampang sekali mulutmu mengatakan hal itu. Apa kau tahu jika Gita menangis semalam. Ah ..., tentu saja kau tidak tahu, paling kau sedang tidur dengan istri mudamu!!", sindir Ana
"Sebaiknya kau tidak ikut bicara. Ini urusanku dengan Gita!", kesal Danar
Ana mulai tersulut emosi, namun Gita menahannya agar tidak berdebat dengan Danar. Ana nampak begitu kesal, dia melipat tangannya didada dan menatap Danar dengan sengit.
"Aku sungguh minta maaf, maaf sudah melukai fisikmu juga hatimu!", ucapan Danar terdengar tulus. Gita perlahan memberanikan diri menatap suaminya, dimata pria itu terlihat sebuah penyesalan.
"Tidak ada yang salah seorang suami menyentuh istrinya. Tapi caramu sungguh melukaiku mas. Kau benar, bukan hanya fisikku yang terluka. Hatiku bahkan jauh lebih sakit atas perbuatanmu. Kau sudah melukai harga diriku!", ujar Gita lirih
Danar menatap Gita dengan perasaan bersalah
"Maka dari itu, aku sungguh minta maaf Git. Aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam. Izinkan aku menebus semua perbuatanku!",
Ana merasa mual mendengar bualan Danar, begitulah seorang pria. Dia akan berkata manis jika sedang ada maunya.
"Aku sudah memaafkanmu mas!", Danar tersenyum, dia reflek menyentuh tangan Gita namun segera ditepis oleh wanita itu. Tak ayal hal itu membuatnya kecewa, namun Danar sadar jika Gita masih takut padanya.
"Terima kasih sudah memafkanku Git. Sekarang, ayo kita pulang!",
Gita dan Ana menatap Danar dengan heran
"Apa maksudmu mas?", tanya Gita tak mengerti
"Kita akan kembali kerumah kita dan memulai semuanya dari awal!",
****
Jangan lupa like dan komennya
__ADS_1