Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Emaknya Singa


__ADS_3

"Dirga Ibrahim!! Kamu puasa satu bulan!!."


Dirga mendelik, puasa sebulan? Bisa-bisa dia mati kejang.


"S-sayang ... Aku bukan ngusir kamu. Tapi si Andre!!", ucapnya berusaha menjelaskan. Namun Gita sudah terlanjur kesal. Perempuan itu langsung meninggalkan ruangan kerja suaminya sambil menhentakkan kaki.


"Sayang, dengarkan aku dulu. Jangan marah. Ingat! Kamu sedang hamil. Jangan sampai kamu membuat anak kita kenapa-napa karena kamu yang sedang kesal!!."


Gita menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Jadi kamu menuduhku akan mencelakakan anak kita kalau aku marah, begitu?",


Astaga, salah ngomong lagi! Bathin Dirga menangis


"Bukan gitu, sayang! Sumpah!! Aku nggak bermaksud mengusir kamu. Sumpah!!."


"Heleh ... Kalau saja aku nggak datang tepat waktu, kamu pasti menerima tawaran makan siang wanita genit itu!! Kamu tahu!? Aku sudah susah payah masak makanan yang kamu pesan. Membuang tenaga dan keringat untuk menurutimu yang nyatanya sama saja dengan kucing garong lainnya!!."


Astaga, sudah dibilang impoten. Tititnya kecil, sekarang kucing garong. Emang susah ngadepin emaknya singa!!


"Nggak usah mengumpat dalam hati!!", sentak Gita.


"Kamu bukan turunan cenayang, kan yank?", tanya Dirga dengan bodohnya.


"Iya. Aku memang turunan dukun. Kamu mau apa? Ingat Dirga Ibrahim. Sekali kamu berani selingkuh dan tergoda wanita lain. Mati kamu aku santet!!."

__ADS_1


Glek


Andre meringis mendengar perdebatan bos dan istrinya. Emak-emak kalau ngamuk ngeri juga. Bathinnya


"Andre!!."


"Saya nyonya!."


"Kamu ambil rantang didalam. Kamu makan itu sama Ana. Saya mau pulang!!".


"Loh, yank. Kok dikasih ke Andre. Kan itu makan siang aku!!", protes Dirga.


Gita tersenyum manis, tapi begitu menyeramkan bagi Dirga. "Kalau kamu tidak mau memberikan makanan itu pada Andre. Hukuman kamu jadi tiga kali lipat!!."


Glek


*


*


*


"Sudah kamu urus semuanya?", tanya Tania

__ADS_1


"Sudah beres. Aku memang sudah merencanakan ini sejak lama. Awalnya aku melakukan ini untuk berjaga-jaga. Tapi pria sialan itu rupanya berani menduakan dan menyakiti aku. Jadi, inilah yang akan dia terima!."


Tania tersenyum sinis, "Ternyata kamu lebih licik daripada Mama!."


"Hahahah, aku mencintai Danar. Aku mengorbankan hidupku untuknya. Tapi apa yang aku dapat? Hanya luka! Setidaknya, jika aku tidak bisa mendapatkan raganya. Hartanya juga tidak apa-apa!."


Tania ikut tertawa bersama putrinya. "Lalu apa rencanamu selanjutnya?."


"Tentu saja mengajukan cerai. Dan tepat saat sidang putusan dibacakan. Aku akan memberikan mereka kejutan!!."


"Kau memang licik. Tapi bagaimana dengan papamu?. Dia pasti tahu apapun yang kita lakukan. Terakhir kali, dia membantu Danar. Tidak menutup kemungkinan, dia akan kembali membantu Danar!."


Tari menatap Mamanya sekilas, "Kalau itu urusan Mama. Mama kan pawangnya, buat Papa tidak melakukan apapun. Kalau perlu, sekap dia juga tidak apa-apa!."


Tania berdecak, "Walau bagaimanapun, Mama masih mencintai dia. Jangan sentuh dia sedikitpun. Kalau tidak, Mama akan buat perhitungan denganmu!."


"Cih, dasar bucin. Jangan mau dibodohi laki-laki, Ma. Semua laki-laki didunia ini sama saja. Jangan lemah, nanti bisa-bisa Mama yang terperdaya dan kalah!."


"Tidak usah khawatir soal itu. Mama punya cara sendiri menaklukkan Papamu. Yang jelas, dia tidak akan bisa berkutik. Kamu tenang saja!."


Tari tersenyum seraya menyesap minumannya. Kata orang, cinta dan benci beda tipis. Tapi kalau cinta sudah menimbulkan kebencian yang tersisa hanyalah dendam. Begitulah yang kini Tari rasakan.


Kau akan membayar mahal atas semua yang sudah kau lakukan, Danar Adiaksa!

__ADS_1


__ADS_2