
Sudah dua hari Gita kembali ke rumah Adi dan Mika. Karena sudah terbiasa bangun pagi. Gita pergi ke dapur untuk memasak. Dia terlihat begitu asyik, bahkan sesekali bersenandung kecil.
"Git, apa yang kau lakukan sepagi ini?", tanya Mika yang baru saja turun dari kamarnya. Ini masih jam 6 pagi, tapi Gita sudah berada didapur dan tercium aroma wangi masakan yang menggugah selera.
Gita menoleh ke arah Mika. "Aku baru selesai memasak kak!", jawab Gita tersenyum.
"Astaga, kamu tidak perlu repot seperti itu. Aku merasa tidak enak jika begini!", ujar Mika. Dia mendekat ke arah Gita dan melihat beberapa hidangan sudah tersaji di piring.
"Aku yang tidak enak jika harus berdiam diri kak. Aku bukan tamu disini, jadi aku mau membantu kakak sedikit!",
Sejak awal Mika memang sudah menyukai Gita. Perempuan itu terlihat tulus dan sederhana.
"Ada apa ribut pagi-pagi begini?", tanya Adi yang baru turun. Dia sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Oh, ini Pa. Gita memasak. Aku kan jadi tidak enak. Padahal masih pagi!", jawab Mika
Adi mendekat kemudian mencium kening istrinya,
"Tidak apalah Ma. Gita akan merasa tidak enak jika berdiam diri. Bukankah begitu Git?", Gita tersenyum lalu mengangguk
"Kamu sudah mau berangkat?", tanya Mika pada suaminya.
"Aku ada meeting penting pagi ini!",
"Kalau begitu, sarapan dulu kak. Semoga kalian suka masakanku!", Gita kembali tersenyum
"Terima kasih Git. Maaf merepotkanmu!!",
Gita hanya mengulum senyum. Dia izin kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Dirga itu lelet, andai dia lebih cepat bergerak. Mereka pasti sudah bahagia!!", ucap Adi disela suapannya.
"Semua sudah takdir Pa. Dirga saja baru tahu kalau Gita sudah menikah. Apalagi suaminya adalah mantan adik tiri Dirga. Kau ingat ketika dia pura-pura baru mengenal kita di ulang tahun perusahaanmu. Aku merasa konyol. Tapi ya, kita berhasil membuat madu Gita memucat!", ucap Mika mengingat kekonyolan mereka.
"Kamu benar Ma. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka!", Mika mengaminkan ucapan suaminya. Mereka sudah lama mengenal Dirga dan mereka tahu bagaimana Dirga selalu memuji Gita. Sayangnya, takdir belum menyatukan mereka.
Gita sudah membersihkan diri. Hari ini dia belum tahu akan melakukan apa. Sebenarnya, Gita merasa sungkan harus menumpang dirumah Adi. Tapi mereka justru menerimanya dengan tangan terbuka. Apalagi Adi memang sering ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Jadi Mika sering merasa kesepian, kalau dulu Mika akan ikut kemanapun Adi pergi. Tapi sejak memiliki anak, dia lebih sering tinggal dirumah.
"Morning Aunty!", sapa Aysel, putri cantik Adi dan Mika yang berusia 15 tahun.
"Morning Ay!", jawab Gita sembari tersenyum. Aysel cepat sekali akrab, padahal mereka baru saja bertemu dua hari yang lalu.
"Ay mau ke sekolah kan?. Aunty sudah masak, kita sarapan bareng ya!", gadis itu tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuruni tangga kemudian menuju ke dapur dimana Papi dan Maminya masih disana menikmati sarapan mereka.
"Pagi sayangnya daddy!", ucap Adi
"Aku berangkat dulu ya!", Adi mencium pipi istri dan putrinya. Kemudian pergi ke kantor.
"Git, apa rencanamu hari ini?", tanya Mika
"Aku belum punya rencana kak!",
"Kalau begitu, ikut kakak ke butik ya. Mungkin kamu akan bosan jika hanya berdiam dirumah!",
"Baiklah kak. Aku juga belum memiliki rencana apapun!", jawab Gita tersenyum
"Kalau begitu, setelah mengantar Ay ke sekolah. Kita ke butik kakak!",
Seusai sarapan, mereka berangkat menggunakan mobil milik Mika. Jalanan lumayan padat mengingat sekarang jam masuk kerja dan masuk sekolah.
__ADS_1
Setelah menurunkan Aysel didepan gerbang sekolahnya. Mika dan Gita kembali melanjutkan perjalanan menuju ke butik milik Mika.
"Madumu itu membuka butik. Tapi dia bukan desainer. Dia memesan pakaian dari temannya yang juga temanku. Dan tentunya biayanya jadi semakin mahal. Pasti dia menjual bajunya dengan harga yang juga mahal!", ujar Mika memecah keheningan
"Dia mantan maduku kak. Aku dan Danar kan sudah resmi bercerai. Lagipula, mau membuka butik meski tidak memiliki bakat tidak masalah baginya. Toh Danar begitu royal untuk istri tercintanya", jawab Gita tersenyum masam
"Ah ya, mantan madu. Madu yang tak semanis madu. Seharusnya kau meracuninya, Hahaha. Sudahlah, manusia kejam ditambah manusia licik. Bukankah mereka pasangan yang serasi?!!", keduanya tertawa bersama. Hingga tak terasa mereka telah sampai dibutik Mika.
"Morning Miss!", sapa karyawan Mika
Mika mengangguk kemudian melangkah menuju ruangannya. Ruangan yang sangat nyaman dan modern.
"Duduklah disana. Aku akan meminta karyawanku mengambilkan minum untukmu!",
Mika keluar dari ruangannya. Gita menatap keliling ruangan milik Mika. Banyak foto Mika dengan beberapa model juga rancangannya. Dulu, Gita juga ingin menjadi seorang perancang busana. Apalah daya, mimpi itu lenyap begitu saja saat kedua orang tuanya meninggal. Dia terpaksa mengambil jurusan perkuliahan yang lebih cepat mendapatkan pekerjaan.
Tangannya bergerak mengambil selembar kertas dan pensil. Gita duduk ditempat yang tadi Mika katakan. Kemudian mulai menggoreskan pensilnya menjadi sebuah gambar.
"Astaga, gambarmu bagus sekali. Ternyata kau memiliki bakat terpendam!", ucap Mika yang entah sejak kapan berada dibelakangnya. Entah Gita yang terlalu fokus atau bagaimana hingga dia tidak menyadari kehadiran istri Adi tersebut.
"Aku yakin kau akan menjadi desainer berbakat. Kau harus mengasah kemampuanmu. Jangan khawatir, aku akan membantumu!", lanjutnya antusias.
Gita tersenyum malu, gambarnya hanya goresan biasa yang jika dibandingkan dengan karya Mika, tentu saja kalah jauh.
"Aku hanya iseng kak!",
Mika memegang pundak Gita, kemudian berkata dengan serius.
"Kamu akan menjadi orang hebat. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanya belajar dan berusaha. Jika sudah waktunya kamu kembali nanti, buat mereka menyesal telah menyakiti wanita hebat sepertimu!",
__ADS_1