
"Aku mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah memilihku menjadi calon istrimu!." Salwa tersenyum sambil bergelayut manja dilengan Azka.
Hari ini adalah hari pertunangan mereka. Acara berlangsung meriah dengan mengundang kerabat, teman dekat juga rekan bisnis mereka. Tukar cincin sudah dilakukan dan artinya, Azka dan Salwa sudah resmi bertunangan. Raut wajah dua keluarga itu terlihat bahagia, walau tanpa kehadiran Januar dan Anisa yang memang sudah menghadap Sang Pencipta.
Salwa masih bergelayut manja dilengan tunangannya. Senyum tak henti menghiasi bibirnya. Gadis itu memang mencintai Azka sejak remaja. Dan menjadi istri Azka termasuk impian Salwa.
"Duh, lengketnya yang baru tunangan. Dunia berasa milik berdua, nih!", ledek Anya. Salwa hanya tersenyum malu begitupun dengan Azka.
Anya begitu bahagia melihat putrinya bahagia. Impian Salwa menjadi istri Azka akan segera terwujud karena mereka akan menikah tiga bulan lagi.
"Acara sudah selesai. Tamu undangan juga sudah pulang. Sebaiknya kita juga pulang!", ucap Danar yang menyusul istrinya. Anya mengangguk, dia berjalan kedepan bersama sang suami.
"Kalian juga akan pulang?!", tanya Anya pada besannya.
Gita tersenyum, "Mas Dirga besok harus keluar kota. Tahu sendiri kan, Azka punya bisnis sendiri. Saga masih sibuk sama skripsinya!. Kalian juga akan pulang sekarang?."
Anya tersenyum, "Mas Danar juga harus bekerja besok. Maklumlah, Salwa kan perempuan. Dia menolak meneruskan usaha Papanya."
Azka dan Salwa datang menghampiri keluarganya.
"Papa dan Mama mau pulang dulu. Kamu pulang dengan kami atau dengan Azka?!," tanya Danar.
"Pengennya sih, pulang dengan Mas Azka. Tapi dia masih harus menemui teman-temannya!."
Semua keluarga terkekeh dengan tingkah manja Salwa, kecuali Saga.
"Besok aku akan menjemputmu kerumah. Kita jalan-jalan!."
Senyum Salwa terbit seketika. "Baiklah. Aku tunggu, jangan sampai telat!."
"Dasar manja!", celetuk Saga yang langsung mendapat cubitan dari sang bunda.
"Jangan begitu. Bagaimanapun dia adalah kakak iparmu!", bisik Gita. Saga hanya mengedikkan bahu acuh.
"Hormati apapun keputusan kakakmu, boy. Ini pilihannya. Kita hanya perlu mendukungnya!." Ucap Dirga sambil merangkul putra keduanya.
Azka mengantar keluarganya sampai ke lobi.
"Besok jangan lupa dan jangan telat!," ucap Salwa begitu manja.
"Tentu!"
Mobil ayahnya dan juga mertuanya sudah tidak terlihat. Azka kembali masuk kedalam hotel, namun kali ini bukan kembali ke balroom. Pria itu berjalan menuju klub yang ada dibagian kiri hotel.
Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya akan menunduk dan memberi hormat. Walau memiliki sifat yang dingin. Namun Azka dikenal sebagai orang yang baik oleh seluruh pegawainya.
Kakinya sudah menginjak lantai klub hotel. Suasana cukup ramai, mengingat banyak orang-orang elit yang sering datang ke klub miliknya. Tentu saja klub ini bersih. Hanya ada minuman juga karyawan yang bertugas menuang minuman. Tanpa adanya wanita penghibur disana.
Suara musik terdengar begitu nyaring, mata Azka menelisik seluruh ruangan dan dia menemukan keberadaan teman-temannya. Pria tampan itu segera menghampiri mereka yang terlihat sedang menikmati minuman masing-masing.
__ADS_1
"Wih, ini dia nih yang baru melepas status lajang!," ucap Redi, sahabatnya.
Azka tersenyum, "Masih tunangan, belum kawin."
Alvin, asisten Azka terkekeh. "Nikah kali bos. Kawin mah, cocoknya buat kucing!."
Azka tak menghiraukan candaan teman-temannya. Dia mengambil minuman didepannya lalu meminumnya.
"Saya duluan ya. Mama sudah telpon dari tadi!." pamit Alvin
Kini hanya tinggal Azka bersama Redi.
"Ka, kamu sudah yakin mau menikah dengan Salwa?!."
Azka menatap Redi sedikit heran, kenapa semua menanyakan hal yang sama. Kemarin Saga, sekarang sahabatnya.
"Apa ada yang salah dengan Salwa? Dia cantik, baik dan penyayang. Kami juga sudah mengenal luar dalam. Apalagi yang kurang?."
"Tidak ada yang salah dengan Salwa. Hanya menurutku, sifat kalian bertolak belakang. Kamu bahkan banyak mengalah selama ini!."
Azka menaruh gelas minumannya, "Bukankah pasangan memang harus saling melengkapi!."
Redi mengangguk, "Memang benar. Tapi berumah tangga berbeda dengan pacaran, Ka. Kalian akan tinggal bersama selamanya. Menghadapi berbagai masalah yang datang menerpa kehidupan rumah tangga kalian. Kalau salah satu tidak bisa mengimbanginya, yang ada hanya pertengkaran. Apa selamanya kamu bisa sabar menghadapi sikap Salwa?. Pasti ada kalanya kamu akan merasa jenuh!."
Azka terdiam, ucapan Redi hampir sama dengan ucapan Saga. Entah kenapa mendengar itu dia merasa sedikit bimbang. Azka memang lebih banyak mengalah. Kadang dia juga jenuh dengan sikap manja Salwa. Tapi dia sudah melangkah setengah jalan. Azka tidak mungkin tega menyakiti hati Salwa. Apalagi Anya, wanita yang selalu berharap akan kebahagiaan putrinya bersama dirinya. Setiap orang pasti berubah seiring berjalannya waktu. Dan Azka hanya perlu meyakini hal itu.
"Sayang dan cinta itu beda, Ka. Jadi, jangan sampai kamu salah mengartikan keduanya!."
"Aku pulang dulu!. Jangan terlalu dipikirkan, tanyakan pada hatimu. Kamu akan tahu jawabannya"
Redi sudah pergi, tapi Azka masih duduk seorang diri. Ditengah kegundahannya, ia merasa aneh dengan tubuhnya sekarang. "Sepertinya ada yang salah dengan minuman yang aku minum!."
Azka berjalan cepat menuju lobbi. Dia segera masuk kedalam mobil dan berniat segera pulang.
Pria itu gelisah sepanjang perjalanan. Ia tidak fokus menyetir karena hawa panas yang menyerang tubuhnya. Azka bukan pria bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Dia sadar jika dirinya terkena pengaruh obat perangsang. Entah sengaja atau tidak, yang jelas sekarang dia harus segera meredakannya. Berendam air dingin mungkin bisa menghilangkan efek obat itu.
Brak
"****!!."
Azka mengumpat saat dia tak sengaja menabrak pengendara sepeda motor. Kondisi tubuhnya sudah tidak bisa dikompromi dan sekarang, dia malah kena sial lagi. Azka turun dari mobil, betapa terkejutnya dia saat melihat wanita tergeletak didepan mobilnya. Tak membuang waktu, Azka langsung membawa wanita itu masuk kedalam mobil lalu mendudukannya dikursi samping kemudi.
Deg
Jantung Azka berdetak cepat melihat wanita yang ada disampingnya. Wajahnya begitu cantik, hidungnya mancung dengan bibir tipis yang sangat menggoda dan kulitnya juga putih bersih.
Azka melajukan mobilnya menuju apartemen. Dia bahkan tidak berpikir untuk membawa wanita itu kerumah sakit. Apalagi membawanya kerumah Dirga. Dalam pikiran Azka, pertama dia harus menetralkan hawa panas ditubuhnya. Lagipula, sepertinya wanita itu baik-baik saja. Mungkin dia pingsan karena shock.
*
__ADS_1
*
Azka membaringkan wanita itu diranjangnya. Setelah memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Azka segera menuju ke kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sayangnya, rasa panas itu masih menjalar ke seluruh tubuhnya. Guyuran air dingin itu tidak memberikan efek apapun.
Frustasi, Azka memutuskan menyudahi mandinya. Dia memakai kimono handuk dan keluar dari kamar mandi. Melihat wanita cantik itu, Azka tak mampu menahan ha*sratnya.
Tidak, aku bukan penjahat. Jika aku melakukan itu pada wanita ini. Jika aku melakukannya, aku tidak hanya akan melukainya tapi aku juga akan melukai Salwa.
Namun berbeda dengan hatinya. Tubuhnya justru semakin mendekati wanita itu. Wajah teduhnya mampu menggetarkan hati Azka. Dia merasakan debaran aneh yang Azka sendiri belum pernah merasakan itu sebelumnya.
Perlahan tangan kekar itu meraba wajah cantik wanita didepannya. Ada perasaan hangat saat Azka menyentuh wajah itu. Bibirnya yang menggoda membuat Azka seakan lupa diri. Dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir tersebut.
Ada apa denganku? Kenapa aku seperti terhipnotis olehnya. Tahan Azka, tahan.
Sekuat tenaga Akza berusaha menahan diri. Namun suasana serta keadaan membuat Azka lupa. Dia tergoda, kata hatinya kalah. Atas bujukan setan Azka kembali mencium wanita itu. Gerakan kasar yang Azka lakukan membuat wanita itu perlahan sadar. Matanya terbuka dan seketika melebar.
"A-apa yang kau lakukan?!!."
Azka seolah tuli, dia tak menghiraukan perkataan wanita itu.
"Tolong!! Jangan lakukan apapun padaku. Aku harus pulang. Bunda pasti sudah menungguku!."
Mendengar kata bunda, Azka segera tersadar. Dia menjauhkan diri dari wanita tersebut. Wajahnya terlihat begitu frustasi, nafasnya naik turun tidak beraturan.
Azka melirik gadis itu, dia meringkuk ketakutan. Sesekali dia mengusap sudut matanya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melecehkanmu. Aku ....!."
Mendengar suara serak dan parau milik Azka, wanita itu mendongak. Sejenak manik mata mereka bertemu.
"Kau dalam pengaruh obat?," tebaknya. Azka mengangguk.
"Kau menabrakku dan membawaku kemari, apa kau berniat meniduriku untuk melepaskan efek obat tersebut?."
Azka mengangguk lalu menggeleng, "Aku membawamu kemari karena aku harus bertanggung jawab karena sudah menabrakmu. Dan untuk menidurimu, aku tidak bermaksud melakukannya!."
Wanita itu bangkit dari ranjang, "Aku harus pulang!"
Azka mencekal tangannya, "Tolong aku. Kalau kau menolongku, apapun yang kau minta, pasti akan kuberikan!!."
Wanita itu kembali terdiam, tawaran pria didepannya membuatnya berfikir keras. Dia memang butuh banyak uang sekarang. Atau mungkin ini cara Allah untuk menolongnya. Tapi menjual diri, sama saja melakukan dosa besar. Lagipula, bunda pasti sangat marah kalau dia melakukan hal itu.
"Aku mohon. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Aku tidak mau berhubungan dengan wanita sembarangan yang akan merugikan aku nantinya!."
Wanita itu menatap Azka dengan tajam "Kau terdengar begitu egois, tuan. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kalau kau berniat membuat kesepakatan denganku agar aku mau membantumu. Kau berurusan dengan orang yang salah!."
Azka menatapnya sejenak, "Jika kau mau membantuku, aku akan memberikan 1M untukmu!."
Wanita itu menelan ludah, uang sebanyak 1M tidak hanya bisa menebus tanah yang dia, bunda dan adik-adiknya tempati. Tapi juga memenuhi kebutuhan hidup mereka beberapa tahun kedepan.
__ADS_1
Belum sempat menjawab, wanita itu terkejut saat pria asing itu mencium bibirnya. Apalagi pria itu terlihat sudah tidak bisa mengendalikan diri.
"Aku tidak bisa menunggu. Aku berjanji ini hanya sebentar. Dan setelah semuanya selesai. Sesuai janjiku, aku akan memberimu uang 1M!."