Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Cinta Seorang Ayah


__ADS_3

Dirga benar-benar langsung menghubungi WO dan meminta pernikahan dimajukan lusa. Awalnya mereka sedikit keberatan, karena bukan hanya mengurus pernikahan Dirga dan Gita saja, tapi klien lain juga. Sayangnya, benar kata Dirga, The Power Of Money memang hebat. Tidak hanya dekor, catering dan persiapan lainnya. Bahkan undangan langsung diganti dan Dirga meminta besok sudah harus selesai sekaligus disebarkan. Entah berapa uang yang harus pria itu buang sia-sia. Tapi bagi Dirga, semua bukanlah masalah. Uang tidak ada artinya bila dibanding dengan sebuah kebahagiaan.


"Kenapa dirubah mendadak?. Kamu sudah kebelet?", celetuk Januar sambil terkekeh, putranya hanya mendengus kesal.


"Biar calon istriku nggak ditangkep kucing garong!!", jawabnya ketus


"Hehe, bilang saja kamu bucin. Udah nggak tahan, jiwa jomblomu meronta-ronta, ya kan?",


Dirga kembali mendengus kesal. Sejak kapan papanya jadi suka menggoda seperti itu.


"Pa, kenapa semakin tua, papa semakin menyebalkan?",


Januar kembali terkekeh,


"Iya kah?. Mungkin karena papa terlalu bahagia. Dan setelah kamu menikah, buatkan papa cucu yang banyak!!",


Dirga menatap papanya lekat, dibalik kata-katanya yang terkesan santai, ada kebahagiaan dibinar mata papanya.


"Pa, terima kasih karena sudah menyayangi dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang!!",


Januar membentangkan tangannya, putranya itu langsung menghambur ke arahnya.


"Papa sangat bahagia. Akhirnya kamu akan bersatu dengan perempuan yang kamu cintai. Kamu sudah menjatuhkan pilihanmu pada Gita. Setelah menjadi suaminya, tugasmu adalah menjaganya, membimbingnya, memberinya kasih sayang dan cinta juga kebahagiaan. Jangan pernah melukai perasaannya sekecil apapun. Dia pernah mengalami pengalaman hidup yang pahit, jadi kamu jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti mantan suaminya. Gita perempuan baik, sabar, lembut dan penuh perhatian. Papa yakin, dia akan menjadi istri juga ibu yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak!!", Januar mengusap sudut matanya. Tak henti ia mengucap syukur pada Sang Ilahi, impian terakhirnya telah terwujud, putra yang ia sayangi telah menemukan wanita yang tepat. Jika sewaktu-waktu Allah memanggilnya, maka ia akan pergi dengan tenang.


"Terima kasih Pa, aku akan selalu mengingat semua nasehat papa. Aku janji tidak akan pernah melukai Gita apapun yang terjadi!",


Dua pria beda generasi itu saling meluapkan kebahagiaan mereka.


*

__ADS_1


*


*


Besok acara pernikahan Dirga dan Gita akan digelar. Seperti perintahnya, hari ini undangan telah disebar. Mereka yang mendapat undangan dibuat cukup terkejut dengan kabar ini. Bahkan banyak para wanita yang patah hati setelah tahu bos tampan mereka akan melepas masa lajang.


Tak hanya karyawan yang dibuat kaget, Anisa juga kaget mendapat undangan pernikahan dari mantan menantunya. Wanita paruh baya itu duduk sambil menghela nafas, kali ini ia benar-benar kehilangan Gita.


"Undangan dari siapa Ma?", tanya Tari yang baru turun dari tangga


"Gita!", jawab Anisa singkat. Tari mengambil undangan tersebut kemudian membacanya. Bibirnya menerbitkan sebuah senyuman. Akhirnya, perempuan itu tak akan mengganggu kehidupan rumah tangganya lagi.


"Ya sudah Ma, aku ke butik dulu!!",


"Mama sudah menjadwal ulang pertemuan dengan dokter kandungan. Kali ini, mama harap kamu tidak menghindar lagi!!",


Tari hanya diam, lalu melanjutkan langkahnya.


Danar terlihat baru menuruni tangga, pria itu tampak tak bersemangat. Dia memang berhasil membuat Dirga marah, namun semua sia-sia karena nyatanya, Gita menolaknya. Bahkan wanita yang pernah menjadi istrinya itu memintanya untuk tak menggangunya lagi. Hubungannya dengan Tari-pun sedikit merenggang akibat Danar yang terus berusaha membuat Gita kembali padanya. Mereka lebih sering berdebat daripada bermesraan seperti dulu. Ditambah Anisa yang terus menuntut saol anak, hal itu membuat Tari terus uring-uringan dan melampiaskan kekesalan padanya.


"Gita akan menikah dengan Dirga!", ucapan Anisa berhasil menghentikan langkah Danar. Pria itu menatap ke arah mamanya.


"Selama janur kuning belum melengkung, aku akan berusaha membuat Gita kembali padaku!!",


Anisa memandang putranya sendu. Kenapa Danar begitu egois. Kenapa masih mengharapkan wanita yang akan menjadi milik orang lain. Kenapa baru sekarang?. Kenapa bukan dulu?.


"Apa kamu pikir, Gita akan kembali padamu setelah semua yang kamu lakukan padanya?. Seharusnya kamu instropeksi diri, Danar. Gita pergi, itu semua karenamu. Kamu telah menyakitinya, menduakannya bahkan melakukan kekerasan fisik padanya!", Danar akan membuka mulut, namun Anisa segera memotongnya. "Bahkan kamu membuat Gita kehilangan calon bayinya!!",


Deg

__ADS_1


Perkataan Anisa bak tamparan kerasa baginya. Danar sadar jika yang dikatakan mamanya memang benar.


"Kali ini saja, mama minta jangan egois. Biarkan Gita bahagia bersama pria yang memang tulus mencintainya!!", ucap Anisa kemudian melangkah pergi.


Danar mengambil undangan pernikahan tersebut. Kemudian tertawa miris. Melihat nama Gita bersanding dengan pria lain, dadanya terasa begitu sesak. Tangannya tanpa sadar meremas kertas berwarna putih tersebut. Kakinya melangkah meninggalkan rumah dengan perasaan gundah dan kecewa.


*


*


*


*


Disinilah Danar berada, disebuah taman yang terletak dipinggiran kota. Pria itu duduk dikursi panjang dengan tatapan lurus kedepan. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana hubungannya dengan Gita perlahan mulai membaik. Bahkan dia berjanji akan membawa Gita pergi honeymoon ke Pulo Cinta. Sayang, mimpi itu belum sempat terwujud. Dia sudah lebih dulu menyakiti Gita karena hasutan Tari. Bahkan Danar harus kehilangan bayinya akibat kebodohannya sendiri.


Entah bagaimana dia begitu mempercayai Tari. Atau mungkin, rasa cintanya yang begitu besar telah membutakan mata hatinya. Padahal sudah jelas, wanita itu pernah membohonginya. Mertuanya juga adalah orang yang merampas kebahagiaannya. Menyakiti mamanya dan membuat hidupnya susah. Tapi kenapa kata maaf begitu gampang dia berikan pada mereka?. Dan seolah melupakan semua begitu saja.


Pria itu kembali menghela nafas kasar. Hidupnya sungguh melelahkan akhir-akhir ini. Jika saja Gita masih menjadi istrinya, tentu dia akan menenangkannya saat ini.


Aku benar-benar kehilangan kamu kali ini, Git. Haruskah aku mengikhlaskan kamu atau membawamu pergi jauh.


Mata Danar berbinar, pria itu segera menuju ke mobilnya demgan senyum penuh arti.


*


*


*

__ADS_1


Kira-kira, Danar mau apa??


__ADS_2