
"Mama!."
Anisa dan Agung kompak menoleh ke arah suara.
"Papa!", ucap Tari. Dia nampak terkejut dengan beradaan mertua dan papanya direstoran ini. Kapan papanya itu datang, kenapa tidak memberitahunya dan apa mamanya juga tahu jika papanya ada di Indonesia?.
"Kalian mau makan siang?", tanya Anisa santai. Tari hanya mengangguk, berbeda dengan Danar yang diam seribu bahasa. Ekspresi wajahnya terkesan dingin.
"Untuk apa lagi mama bertemu dengan pria ini?", tanya Danar marah. Bisa terlihat jika ada kebencian dimata pria itu.
"Danar Pa ... !."
"Kamu bukan papaku!! Kamu bukan siapa-siapa sejak kamu memilih pergi meninggalkan kami!!", sentak Danar
Agung terdiam begitupun Anisa dan Tari.
"Kita pulang Ma!", Danar berjalan lebih dulu meninggalkan restoran yang bahkan belum ia masuki.
"Pa, sebenarnya aku merindukan papa. Tapi maaf, aku harus pergi. Aku tidak mau suamiku semakin marah!", Tari meninggalkan Anisa dan Agung.
"Aku akan menghubungimu nanti. Aku harap, kali ini kamu tidak mengecewakanku untuk kedua kalinya!", Anisa pergi menyusul anak dan menantunya.
Agung masih terdiam dia paham maksud perkataan Anisa. Dan dia janji akan menebus semua kesalahannya dengan menjaga calon cucunya. Dia akan menjaga Anya dari Tania dan Tari.
*
*
Danar tidak berkata apapun, begitupun Tari dan Anisa. Suasana terasa begitu hening.
"Danar, kamu marah karena mama bertemu dengan papamu?", tanya Anisa memecah keheningan. Danar membisu.
"Kami tidak sengaja bertemu!", ucap Anisa berbohong. Ia tak mau suasana semakin rumit. Apalagi nanti Tari pasti memberi tahu mamanya tentang pertemuannya dengan Agung tadi.
"Jangan pernah mengingat dia lagi, Ma. Hidup kita sudah baik-baik saja tanpa dia. Untuk apa menemui pria itu? Dia meminta maaf atas kesalahannya dimasa lalu? Atau dia meminta mama kembali padanya?."
Anisa menatap sang putra dan melirik menantunya. "Kami tidak sengaja bertemu. itu yang perlu kamu ingat. Dan untuk kembali, kamu jangan bercanda. Dia sudah pawang yang akan mengikatnya tanpa lepas!", Anisa melirik Tari yang hanya diam. "Jadi tidak mungkin dia meminta mama kembali padanya. Lagipula, pantang bagi mama memungut sesuatu yang sudah mama buang!."
"Bagus, aku tidak mau berhubungan dengannya lagi!."
"Kamu mengatakan demikian, padahal kamu menikahi anaknya. Dia mertuamu kalau kamu lupa!!", sindir Anisa
__ADS_1
Skak
Danar mati kutu dan terdiam seketika. Sedangkan Tari tampak tidak peduli dengan omongan suami dan mertuanya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan kalian?", tanya Anisa
Tari dan Danar saling menatap, "Belum rejeki, Ma!", sahut Danar.
Tari dan Danar memutuskan untuk program hamil agar mereka segera memiliki anak. Bahkan Tari mengurangi semua aktivitasnya di butik dan menjaga pola makan agar bisa segera hamil. Namun sepertinya mereka masih harus bersabar lagi.
"Tidak apa-apa, kalian bisa mencoba lagi!", sahut Anisa datar.
Tari memang belum hamil, Danar. Tapi kamu akan memiliki anak dengan wanita lain. Bathin Anisa
Perempuan itu terlihat mengetik sesuatu dan mengirim pesan pada seseorang. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai dirumah. Anisa segera masuk kedalam kamar begitupun dengan Tari dan Danar. Pria itu tampak menghela nafas berat,
Dimana gadis itu berada, kenapa sulit sekali menemukannya. Aku harus mencarinya, bagaimanapun aku harus tahu keadaannya.
Danar memejamkan mata sejenak dan tanpa sadar dia sudah masuk kedalam alam mimpi.
"*Papa ... Papa ...!." teriak seorang anak kecil yang menghampirinya
Anak laki-laki itu memandang wajah Danar, dia berkedip beberapa kali dan terlihat menggemaskan dimata Danar. Tapi tunggu, kenapa anak ini mirip dengannya.
"Kamu papaku!!."
Deg
"A-aku papamu? Bagaimana bisa?", tanya Danar heran
"Karena aku sudah tumbuh di perut mama, papa cepat jemput mama. Kasihan dia sendirian!!."
"Tunggu nak, hei* ...."
Danar mengusap wajahnya kasar, kenapa mimpi itu terasa begitu nyata.
"Kamu mimpi buruk?", tanya Tari yang baru keluar dari kamar mandi
"Hmm!", sahut Danar
Tari berjalan ke meja rias, mengacuhkan suaminya. Hubungannya dengan Danar sedang tidak baik-baik saja, apalagi pria itu tak bisa memberikan kepastian kalau dia tidak akan menduakannya. Namun Tari tidak menyerah, dia menempuh berbagai cara dan konsultasi ke dokter agar bisa mengandung anak Danar.
__ADS_1
Apa mungkin gadis itu hamil? Bagaimana kalau dia memang sedang hamil anakku? Dimana dia dan bagaimana keadaannya? Ya Rabb, segera pertemukan aku dengan dia. Ucap Danar dalam hati
Danar masuk kedalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dibawah shower agar pikirannya sedikit tenang.
*
*
*
Anisa menatap email yang baru dia terima dari orang suruhannya. Data diri mengenai gadis bernama Anya juga rekaman CCTV club dimana Danar telah menodai gadis tersebut. Anisa menghela nafas, jelas dalam rekaman itu jika benar Danar memang menarik gadis itu kedalam kamar.
"Ya Allah, kenapa Danar bisa berbuat seperti ini? Dia bahkan menodai seorang gadis yatim piatu!", ucap Anisa sambil menitikkan air mata
"Aku harus segera menemui gadis itu!", Anisa mengambil tas kemudian keluar dari kamar. Dia langsung meminta sopir untuk mengantarnya kerumah Anya.
Selama perjalanan, Anisa terus diliputi rasa was-was. Agung sudah menceritakan tentang Anya yang menolak pertanggung-jawabannya. Anisa harap, dia bisa membujuk Anya agar mau menerima pertanggung-jawaban dari Danar.
"Kita sudah sampai, nyonya!",
Anisa langsung tersadar dari lamunannya, dia menatap bangunan sederhana didepannya.
"Tunggu ya pak. Saya mungkin tidak akan lama!."
"Baik, Bu!."
Anisa berjalan pelan, karena sepertinya Anya sedang ada tamu.
"Wanita murahan sepertimu tidak akan aku biarkan merusak rumah tangga putriku. Kau harus pergi dari kehidupan mereka. Dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi nyonya Adiaksa selama aku dan putriku masih hidup!."
"Saya juga tidak berminat untuk masuk kedalam rumah tangga putri anda nyonya. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak butuh pertanggung jawaban pria ba*ingan itu sekalipun saya mengandung anaknya!."
"Kamu akan menikah dengan Danar dan menjadi menantu saya!!."
*
*
*
perang perang
__ADS_1