Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Merubah Penampilan


__ADS_3

"Kau berani mengusirku, aku pastikan mama juga akan mengusirmu!!",


Danar membeku begitupun dengan Tari. Gita berhasil membuat keduanya terdiam sejenak.


"Kau mengancamku??", tanya Tari geram


"Aku hanya mengatakan fakta. Aku yang lebih dulu tinggal disini dan aku menantu kesayangan mertuaku. Tidak masalah jika suamiku mencintaimu. Tapi kau harus ingat, restu orang tua adalah yang utama, khususnya restu seorang ibu. Sebaiknya kalian keluar dari kamarku sekarang. Aku ingin istirahat!!", Gita berkata dengan santai sambil membuka antingnya


"Mas jangan diam saja, katakan sesuatu!!", pinta Tari


Gita memandang Danar sinis bahkan wanita itu tersenyum remeh ke arah suaminya.


"Sebaiknya kita kembali ke kamar!!, perintah Danar tentu membuat Tari kesal, wanita itu menghentakkan kakinya berjalan lebih dulu keluar dari kamar Gita.


Gita memandang pantulan dirinya didepan cermin lalu tersenyum penuh arti.


"Mari kita bersaing, sayang!".


****


Sarapan sudah siap dimeja makan, Gita bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Mulai hari ini dia akan bersaing untuk meraih hati suaminya sendiri. Gita pikir, tidak ada salahnya dia mencoba bukan?. Apapun hasilnya nanti, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Termasuk jika harus merelakan Danar untuk selamanya.


Selesai mandi, Gita mulai memilih pakaian kerja yang Dirga belikan kemarin. Setelah menemukan baju yang dirasa cocok. Perempuan itu memakainya, tak lupa mengaplikasikan sedikit make up dan mengikat rambutnya ke atas untuk memperlihatkan leher jenjangnya. Diakhiri dengan semprotan parfum yang semakin menambah kesempurnaannya.


Gita keluar dari kamar, dia berjalan ke dapur lalu duduk di meja makan. Jika biasanya Gita langsung berangkat kerja saat Danar dan madunya tengah menikmati sarapan buatannya, mulai pagi ini ia akan sarapan dengan mereka.


Tak lama setelahnya, Danar dan Tari tiba di meja makan. Madunya itu langsung menatap tak suka kearahnya. Apalagi melihat Gita yang mulai berdandan. Jujur, Gita terlihat cantik dan Tari mulai merasa tersaingi.


"Siapa yang menyuruhmu makan disini??", tanya Tari kesal


Gita tak menghiraukan, wanita itu malah asyik mengunyah makanannya. Danar yang melihat istri pertama duduk dengan santai, memutuskan untuk duduk, mau tak mau Tari juga ikut duduk meski dengan wajah yang ditekuk kesal.


"Mau aku ambilkan mas?", tawar Gita


"Tidak perlu, aku yang akan melayani suamiku!", jawab Tari kesal


Gita mengedikkan bahu, dia memilih kembali menguyah sarapannya tanpa menghiraukan mereka.


"Mas ..., bagaimana dengan butik yang kamu janjikan?", tanya Tari


"Aku sudah menemukan tempatnya. Besok kamu bisa melihatnya!", jawab Danar. Diam-diam pria itu kembali melirik istri pertamanya. Danar baru menyadari jika Gita begitu cantik, apalagi dengan pakaian yang lebih modis.

__ADS_1


"Lalu dengan modalnya?",


"Butuh berapa??", tanya Danar lagi


"Semua bahan dan peralatan untuk membuat pakaian juga beberapa properti yang harus dibeli kira-kira semuanya hampir 2M!", ucap Tari enteng


"Akan segera kusiapkan!", jawab Danar


Gita hanya melirik suaminya, benar kata orang. Seseorang akan menjadi bodoh ketika sedang jatuh cinta. Gita beranjak dan meletakkan piring kotornya diwastafel. Dia merasa jengah dengan madunya yang begitu manja dan meminta ini itu pada suaminya. Tapi begitu entengnya Danar menuruti semua permintaan Tari tanpa berfikir panjang.


"Terima kasih sayang, aku semakin yakin jika kau hanya mencintaiku!!", ucap Tari manja. Dia hanya ingin menekankan pada Gita jika Danar hanya mencintainya.


Gita sudah selesai mencuci piring, dia berjalan lalu mengecup pipi Danar, Danar membeku apalagi saat menghirup aroma tubuh Gita yang membuatnya tergoda.


"BERANINYA KAU MENCIUM SUAMIKU!!", teriak Tari geram, Gita berbalik dan menatap madunya


"Apa yang salah jika seorang istri mencium suaminya?", ucap Gita santai lalu melenggang pergi. Perempuan itu tersenyum, dia yakin Tari akan marah-marah.


"Beraninya dia menciummu mas, Gita semakin melunjak!!"


"Sudahlah sayang, lain kali kupastikan ini tidak akan terjadi. Aku harus berangkat. Ada pertemuan penting siang ini. Aku harus mempersiapkan semuanya!", Danar berdiri dan mencium kening istrinya


"Jangan lupa transfer modalnya ya sayang!!"


"Aku akan membayarmu nanti malam!!", bisiknya menggoda


Danar tersenyum


"Aku akan menagihnya nanti!!",


****


"Maaf baru mengunjungi papa. Belakangan ini aku sibuk!", Dirga mendorong kursi roda papanya menuju taman disamping rumahnya


"Tidak apa-apa, papa tahu kamu sibuk. Maaf, karena papa menjadi bebanmu bahkan sejak kamu remaja!", ucap Januar sendu


Dia menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Tidak mudah bagi Dirga bisa mencapai posisinya saat ini. Pria itu harus bekerja keras sejak remaja. Bahkan tak jarang dia pulang dengan kondisi babak belur karena terlambat membayar hutang pada lintah darat. Dirga juga harus jatuh bangun berkali-kali hingga bisa sesukses ini.


"Jangan berkata seperti itu pa, aku sama sekali tidak merasa terbebani!!", ucap Dirga lembut. Dia duduk berjongkok didepan kursi roda papanya.


"Papa sudah merawatku dari bayi. Memberiku kasih sayang dan cinta yang tiada tara. Semua yang aku lakukan belum sebanding dengan jasa papa!", lanjut pria tampan tersebut

__ADS_1


Januar mengusap air matanya, dia begitu bangga memiliki putra seperti Dirga. Betapa menyesalnya dia karena pernah menikahi Tania. Jika saja dia tidak menikahi Tania, hidupnya juga putranya tidak akan susah seperti itu.


"Kenapa papa jadi cengeng?. Januar yang aku kenal adalah pria tegas!", ejeknya bercanda


Januar terkekeh, dia mengusap kepala putra semata wayangnya dengan lembut.


"Papa bangga memiliki anak sepertimu. Kamu bahkan tidak pernah mengeluh dengan hidup yang kita jalani. Saat ini kamu sudah meraih impianmu, kamu juga sudah mapan. Kapan kamu akan membawa calon istrimu ke hadapan papa?", Dirga tersenyum


"Aku terlambat pa!", Januar kembali menatap putranya. Dia paham maksud perkataan Dirga


"Kalau begitu, carilah wanita lain. Papa yakin, ada banyak perempuan yang ingin menjadi istrimu!!", lanjutnya


"Aku tidak mau terburu-buru, lagipula aku takut salah memilih!", ucapan Dirga membuat Januar bungkam. Dirga yang menyadari perubahan raut wajah papanya langsung sadar akan ucapannya


"Maafkan aku pa, aku tidak bermaksud!",


"Bukan masalah, apa yang kamu katakan benar. Jangan sampai kamu mengalami apa yang papa alami, carilah perempuan yang mau menerimamu apa adanya tanpa memandang kamu siapa!!",


Dirga kembali mendorong kursi roda papanya, membawa pria tua itu masuk kedalam rumah.


"Dia bekerja denganku!!", ucap Dirga


"Benarkah?. Pasti semakin sulit untuk melupakan perasaanmu padanya!",


"Dia menikah dengan pria yang dia cintai. Tapi suaminya mencintai wanita lain!", Dirga memandang papanya, " Dia bahkan harus rela tinggal seatap dengan madunya. Suaminya berlaku tidak adil dan selalu menyakitinya. Apa aku harus merebutnya??", tanya Dirga terkekeh


Januar menghela nafas,


"Kau bilang wanita itu mencintai suaminya walau suaminya mencintai wanita lain. Itu artinya, dia mencintai dengan tulus. Cinta yang tulus tidak pernah meminta balasan. Melihat orang yang kita cintai bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Mungkin saat ini suaminya belum mencintainya, tapi tidak tahu dikemudian hari. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Manusia bisa berbuat kesalahan, dan bisa berubah pula. Papa yakin, dengan ketulusannya, suatu saat suaminya akan mencintainya. Jika kau benar-benar mencintainya, belajarlah mengikhlaskannya. Dia sudah bersuami, terlepas dari bagaimanapun keadaan rumah tangganya. Mungkin, kau bisa mulai berteman dengannya!", saran Januar. Dirga tersenyum dan mengangguk.


"Ya, papa benar. Aku bisa mulai berteman dengannya. Dari teman biasa menjadi teman hidup. Bukankah takdir tidak ada yang tahu??". Dirga tersenyum penuh arti


"Serahkan semua pada Allah, karena Dialah yang Maha mengatur segalanya!!",


Dirga kembali mengangguk, dia mendorong kursi roda Januar dan membawanya pulang.


****


"Kamu terlihat berbeda, apa yang membuatmu berubah?", selidik Ana. Saat ini mereka sedang makan siang bersama di kantin kantor


"Tidak ada An, aku hanya ingin merubah penampilan saja!", jawab Gita

__ADS_1


"Emm, Git- sebenarnya -!", Ana menggantung ucapannya ragu, " Kemarin aku melihat suamimu makan malam dengan seorang wanita. Dan mereka terlihat mesra. Maaf, bukan maksudku ingin mengatakan ini tap ....!",


"Dia istri kedua mas Danar!!"


__ADS_2