
"Kamu akan menikah dengan Danar dan menjadi menantu saya!."
Anya dan Tania sama-sama menoleh ke arah suara. Anisa menatap Tania dengan tajam, entah kenapa perempuan itu tahu keberadaan Anya lebih dulu. Apa mungkin Agung yang memberitahunya?.
"Kamu tidak bisa menikahkan dia dengan Danar. Danar masih suami sah Tari dan aku sebagai ibunya Tari tidak menginjinkan anakku di poligami!."
Anisa tersenyum sinis, "Tidak tahu diri. Sudah berani mengancam Anya, sekarang kamu mengancamku?. Kamu harus sadar jika perempuan yang kamu ancam sedang mengandung cucuku, anak Danar. Mau tidak mau, Tari harus menerima Anya sebagai adik madunya!!," ucap Anisa dengan tegas
"Bisa saja dia hamil anak pria lain dan mengaku itu anak Danar. Jaman sekarang tidak ada yang tidak mungkin!."
Anya tersenyum miris, "Saya bukan perempuan murahan nyonya. Saya bahkan tidak memberitahu suami putri anda jika saya mengandung darah dagingnya. Anda pikir, saya mau berada diposisi ini? Saya juga tidak mau. Hidup saya hancur karena kejadian ini. Dan sekarang kalian berdebat dirumah saya untuk hal yang saya tidak ingin dengar. Saya tidak butuh pertanggung jawaban dan saya tidak mau menikah dengan pria bernama Danar itu. Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini. Saya anggap masalah ini selesai dan keputusan saya, saya akan merawat anak ini seorang diri!."
Anya masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu.
"Semua ini salahmu. Apa hakmu mengancam calon menantuku?", tanya Anisa geram
"Cih, menantumu hanya satu yaitu Tari, putriku. Aku tidak akan membiarkan Danar menikah lagi dengan wanita manapun!",
"Jangan egois. Tari bahkan belum bisa memberikan anak untuk Danar. Mungkin ini jawaban Allah atas masalah rumah tangga mereka. Dan aku tegaskan sekali lagi, Danar tetap akan menikahi Anya dengan ataupun tanpa restu Tari!!."
Tania nampak geram, jika saja Anisa tidak datang. Semua rencananya tidak akan berantakan. Percuma dia membuntuti Agung selama ini jika semua usahanya gagal.
"Anggap saja ini karma untukmu. Kamu tega merebut suamiku dan sekarang putrimu harus rela berbagi suami dengan perempuan lain. Sama seperti Gita yang dulu berbesar hati menerima Tari sebagai adik madunya!."
Tania menatap Anisa tajam, "Kau pikir aku akan diam saja? Kau belum kenal aku, Anisa. Sebaiknya kamu berhati-hati. Dan satu lagi, jangan terlalu senang dulu, karena Anya tidak akan pernah bisa menikah dengan Danar!."
__ADS_1
"Kamu tidak akan bisa melakukan apapun. Karena aku orang pertama yang akan mempersatukan mereka!!."
"A-gung!."
*
*
*
"Mukanya nggak usah manyun begitu. Jadi gemes deh lihatnya. Mau tambah lagi?", ucap Dirga menggoda istrinya.
Gita hanya menatap suaminya kesal, bukan karena mereka baru melakukan percintaan panas. Tapi kejadian sebelum itu, dimana Dirga dengan tidak tahu malunya menelpon dokter Aisyah dan menanyakan perihal hubungan suami istri saat istri tengah hamil. Pria itu bahkan bertanya seperti seorang pria polos yang tidak tahu apa-apa. Bayangkan bagaimana malunya Gita ketika bulan depan harus berhadapan dengan dokter paruh baya itu.
"Kamu mah. Aku jelas malu kalau nanti harus ketemu dokter Aisyah lagi. Mau ditaruh dimana muka aku, coba!", kesal Gita
"Ya ditaruh diwajah lah sayang. Nanti aku temenin pas periksa bulan depan. Lagipula, dokter Aisyah pasti udah lupa kok!."
Gita menghela nafas, benar juga. Sebulan kedepan mungkin dokter Aisyah sudah lupa dengan pertanyaan konyol Dirga tadi. Gita menikmati musik relaksasi yang dia putar. Sesekali dia memejamkan mata tenang.
"Yank!."
"Hmm!."
"Kamu nggak pengen sesuatu?", tanya Dirga sambil menatap istrinya dengan lekat.
__ADS_1
"Nggak, kenapa?," tanya Gita yang baru membuka mata.
"Kamu nggak ngidam apa gitu?."
Gita tersenyum, lalu menggeleng. "Belum ada sih. Aku baik-baik saja dan nggak kepengen apa-apa juga!", sahut Gita
"Kata dokter, aku mengalami kehamilan simpatik. Dimana aku yang mengalami dan merasakan gejala kehamilannya. Dan kamu baik-baik saja!.", Gita mengangguk. "Kalau aku yang pengen sesuatu, apa juga dikategorikan ngidam?", tanya Dirga serius
Gita menatap suaminya sedikit heran, "Emang sekarang kamu pengen sesuatu?", Dirga mengangguk, "Apa?."
Dirga tersenyum, "Aku pengen ... !."
"Apa 'sih!."
"Es jambu air!".
"HAH!!."
*
*
*
Hayoloh, perang dunia ketiga dan ngidamnya mas Dirga nih. Yang punya es jambu air bisa kirim ke rumahnya mas Dirga loh
__ADS_1