Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Masih Hidup


__ADS_3

"P-pem-bu-nuh?", ucap Tari tergagap. Tania hanya diam menatap lurus kedepan, dia tak pagi berontak ataupun berteriak.


"A-apa maksud ucapan kalian? Kenapa mengatakan jika Mamaku pembunuh?", lanjut Tari bertanya. Dua pria besar itu hanya diam. Mereka kembali fokus ke jalanan. Entah akan dibawa kemana, yang jelas kali ini sepertinya Dirga tidak akan mengampuni mereka berdua.


Banyak pikiran yang berkecamuk dikepala Tari. Selain kepalanya pusing, ucapan pria tadi membuatkan semakin bertanya-tanya. Apakah Mamanya benar pembunuh? Lalu siapa yang dia bunuh dan kenapa sampai Mamanya membunuh?.


Tak lama kemudian, mereka sampai disebuah rumah yang cukup sepi. "Cepat turun!!."


Tari dan Tania akhirnya turun, mereka dibawa masuk kedalam rumah. Tidak ada perlawanan yang diberikan dua wanita tersebut. Keduanya terlihat menurut, tentu saja hal itu memudahkan pekerjaan orang-orang suruhan Dirga. Setelah memasuki rumah, mereka disuruh duduk di sofa yang ada diruang tamu.


"Oh, kalian sudah sampai rupanya!", sapa Dirga dengan senyum mengerikannya


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?", tanya Tari pada akhirnya. Dia begitu penasaran dengan apa yang sekarang terjadi. Dia butuh jawaban.


"Memberi kalian pelajaran! Tentu saja. Bukankah kalian sudah melakukan kejahatan? Tidak semudah itu untuk lepas dari tanggung jawab bukan?."


Tania menatap Dirga dengan tajam, "Kenapa kau suka sekali ikut campur urusanku, hah?? Kau akan menyesal, Dirga Ibrahim. Kau akan menyesal karena memperlakukanku seperti ini!!."


"Hahaha, aku tidak akan menyesal, mantan Mamaku, sayang. Kamu sudah lama hidup bebas dengan semua dosa yang kamu lakukan. Sekarang sudah waktunya kamu menerima hukuman atas apa yang kamu perbuat!. Bawa dia masuk!."


Tania dan Tari saling menatap, tak lama anak buah Dirga membawa seseorang yang duduk di kursi roda.


"P-papa!!", pekik Tari. Ia menatap Agung yang duduk diatas kursi roda. Beberapa bagian wajahnya ditutupi perban. Tangan dan kakinya juga. Tania mendelik melihat Agung berada didepannya. Bagaimana bisa pria itu selamat dan kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Flash Back On


"Bagaimana bisa kamu menyakiti Tari seperti ini, hah!! Dia itu anakmu!! Kenapa kamu malah membuatnya sakit hati. Kamu membantu wanita itu lalu menikahkannya dengan Danar!!",


Mereka tengah berada didalam mobil, ke duanya terpaksa pulang karena Anisa mengusir mereka. Tari dalam kondisi terguncang, bahkan saat ia ingin menemani putrinya, Anisa tidak menginjinkannya.


"Lalu aku harus bagaimana? Tari memang harus merelakan suaminya menikah lagi. Danar harus bertanggung jawab atas anak dalam kandungan Anya!!," ucap Agung dengan tegas.


Tania menatap suaminya dengan tajam, "Kau bisa meminta wanita itu menggugurkan anaknya. Bukan meminta Danar menikahinya. Kenapa sekarang kau berubah, kau sudah tidak menyayangi Tari, lagi?."

__ADS_1


Agung menghela nafas, "Justru karena aku menyayanginya. Aku ingin melihatnya menjalani hidup dengan tenang dan damai!!."


Tania tertawa keras, "Tenang dan damai Seperti apa yang kau maksudkan? Tari akan hidup tenang dan damai jika bersama suaminya. Tapi kedatanganmu menghancurkan semuanya!!."


"Tania, sudah cukup aku diam selama ini. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat semaumu lagi!!."


"Jadi kau akan ikut campur dengan apa yang akan aku lakukan? Sejak kapan kau punya hak mengatur hidupku??."


Agung menatap istrinya dengan tajam, "Aku ini suamimu. Jelas aku berhak ikut campur atas hidupmu, apalagi saat kau salah jalan seperti ini!!."


Sial, semua rencana yang aku susun akan gagal kalau Agung ikut campur. Aku harus melakukan sesuatu. Bathin Tania


Perempuan paruh baya itu tiba-tiba merebut setir dan membelokkannya. Agung yang melihatnya sangat terkejut,


"Tania apa yang kau lakukan, lepaskan!! Kau mau mati, hah!!."


Agung berusaha menepis tangan Tania yang terus merebus setir mobilnya. Mobil yang merek tumpangi menjadi oleng. "Tania, lepaskan!!."


Brak


Tania berhasil keluar, dia berjalan tertatih menjauhi mobilnya.


Maafkan aku, Agung. Aku memang mencintaimu. Tapi kau sudah mengecewakanku dan ikut menyakiti putriku.


Tania terus berjalan terseok. Dia menoleh kebelakang dan boom!! Mobil itu terbakar, kobaran api begitu besar dan melahap seluruh badan mobil. Tania menangis seketika. Untuk kedua kalinya dia membunuh seseorang hanya demi mencapai tujuannya. Tania terus berkala meninggalkan lokasi kejadian. Tanpa Tania tahu, Agung berhasil keluar dari dalam mobil. Dia tersadar sesaat setelah Tania berhasil keluar. Tubuhnya terasa sakit, sekuat tenaga dia berjalan hingga akhirnya, Agung tumbang ditepi jalan. Dan tepat dengan itu, mobil Dirga tengah melintas, dia menyuruh supirnya berhenti lalu berniat menolong orang tersebut. Dirga menyimpulkan jika orang itu adalah pemilik mobil yang kini sudah terbakar habis itu.


"T-tuan Agung!!"


Flash Back Off


Wajah Tania memucat. Dia hanya bisa menundukkan wajah tanpa berani menatap suaminya yang nyatanya masih hidup.


"Apa kau senang, bisa melihatku lagi, Tania!!."

__ADS_1


*


*


*


Setelah mendengar ucapan dokter. Baik Anisa maupun Anya semakin dilanda kesedihan. Seolah tak cukup dengan semua aset yang sudah dirampas oleh Tari, kini mereka harus harus menerima kenyataan kalau Danar tidak bisa berjalan lagi seperti sebelumnya.


Ah, Anisa lupa untuk melapor ke pihak berwajib atas masalah ini. Dia segera mengambil ponselnya dan meminta asistennya untuk mengurus laporan atas peristiwa ini.


Gita dan Dirga sudah pulang setengah jam yang lalu, Danar juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Hanya ada mereka berdua yang menunggu Danar siuman. Kondisi pria itu terlihat memprihatinkan, wajahnya memar. Beberapa tangannya lecet dan yang paling parah adalah kakinya.


"Kamu pergilah makan. Sejak pagi, kamu belum makan. Jangan lupa kalau ada anak didalam perutmu yang harus kamu perhatikan."


Ucapan Anisa benar, namun bagaimana bisa dia makan jika melihat kondisi suaminya yang seperti ini.


"Ma, aku minta maaf. Maaf atas semua keegoisanku pada Mas Danar. Aku sadar, aku sudah keterlaluan. Aku ... Sungguh minta maaf!."


Anya menangis tergugu, Anisa segera memeluk menantunya. Memberikan ketenangan yang dirinya sendiri bahkan terus berusaha menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Dia tidak boleh terlihat lemah didepan Anya, bagaimanapun Anya sedang hamil. Akan mempengaruhi kondisi wanita muda itu jika Anisa juga terlihat terpuruk.


"Sudahlah. Danar akan baik-baik saja. Dia akan sembuh. Dokter mengatakan, dia bisa berjalan lagi dengan rajin menjalani terapi!!."


Namun Anya masih menangis, dia masih menumpahkan segala kesedihan dan penyesalannya. Hingga rintihan di bibir Danar membuat mereka menoleh ke arah ranjang.


"Nar, kamu sudah sadar? Dimana yang sakit? Mama panggilan dokter dulu, ya!."


Anisa segera memanggil dokter, Anya menatap suaminya. Sisa air mata masih ada di pipinya dan itu tak luput dari penglihatan Danar. Namun dia merasakan keanehan di kakinya.


"K-kakiku, kenapa aku tidak merasakan apa-apa?", Anya mendekati suami.


"Mas, sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu. Kamu baik-baik saja!", ucap Anya


Danar menatap istrinya, "TIDAK. KAKIKU BAHKAN TIDAK BISA DIGERAKKAN. A-AKU LUMPUH, AKU LUMPUH!!", teriak Danar

__ADS_1


"Mas, tenanglah!!."


"PERGI!! PERGI DARI SINI. AKU ... SUDAH TIDAK BERGUNA LAGI. PERGI, PERGI!! KAMU BEBAS SEKARANG. KAMU BISA MENINGGALKAN AKU SEKARANG. KELUAR!!."


__ADS_2