Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Love You More


__ADS_3

Setelah adegan panjang dikamar mandi. Pasangan pengantin baru itu akhirnya keluar kamar. Hari ini para kerabat Dirga akan pulang. Jadi mereka berkumpul direstoran hotel untuk makan siang bersama sekaligus berpamitan.


"Sayang, jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya hilang!!", ucap Dirga menggoda istrinya


"Ish, semua gara-gara kamu nih, yank. Badanku remek. Kalau saja kerabat-kerabatmu nggak pulang hari ini, aku akan rebahan seharian!!", sungut Gita kesal


Dirga terkekeh, baginya, kemarahan Gita terlihat menggemaskan. " Namanya juga pengantin baru, yank. Jadi masih anget-angetnya!!",


Gita melirik suaminya yang menampilkan tawa renyah, "Laki-laki memang selalu maunya sendiri!!",


"Memang. Aku bahkan ingin mengurungmu seharian kalau saja tidak ada janji dengan saudara-saudaraku!!",


Gita berjalan menggandeng tangan suaminya. Badannya lelah, apalagi intinya, terasa nyeri dan ngilu. Gita mencoba berjalan dengan normal. Walau rasanya begitu aneh.


"Wah, pengantin baru. Seger bener roman-romannya!", goda Adi. Beberapa saudara Dirga langsung memandangi mereka. Tak ayal, siang itu Dirga dan Gita menjadi bahan bullyan para sanak saudara Dirga.


Setelah makan siang selesai, mereka berpamitan pulang. Adi beserta keluarganya juga harus kembali ke Singapura siang itu. Acara benar-benar berakhir, dan mereka kembali kerumah masing-masing. Begitupun dengan pengantin baru. Dirga, Gita dan Januar berada dalam satu mobil untuk pulang kerumah Januar.


"Yank, butik kamu sudah 70%, mungkin sebulanan sudah jadi!", ucap Dirga memberitahu.


"Terima kasih, yank. Seharusnya kamu nggak perlu repot mempersiapkannya!",


Januar hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa berniat ikut berbicara.


"Bukan masalah. Sekarang, aku suami kamu. Dan apapun yang menyangkut kamu, sekarang menjadi urusanku!!",


Tidak ada pembicaraan lagi, mobil yang dikendarai Dirga terus melaju menuju rumah papanya.


Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan. Kini mereka sudah tiba dirumah Januar. Dirga membantu papanya duduk dikursi roda kemudian Gita mendorong kursi roda mertuanya memasuki rumah.


"Papa mau langsung istirahat?", Januar mengangguk. Gita dan Dirga membawa Januar ke kamarnya. Setelah membaringkan papanya diranjang. Keduanya keluar dari kamar Januar.


"Kamar kita diatas!!", Gita hanya mengangguk, dia mengekori suaminya menuju kamar.


Mata Gita melebar menatap kamar milik Dirga. Suasana didalam kamar sama persis seperti didalam hotel. Gita menatap tajam suaminya, Dirga hanya tersenyum nakal lalu menarik istrinya memasuki kamar.


"Yank, kamu bikin aku ketagihan!!",


Jantung Gita berdetak cepat. Habislah dia setelah ini, pikirnya. Dirga menyusuri leher mulus sang istri. Membawa bibirnya menyesap lembutnya kulit wanita itu dan meninggalkan tanda cinta disana. Gita terbuai, ia tak sadar jika Dirga telah membuka kancing bajunya. Tangannya melesat mencari kenikmatan dunia yang menjadi favoritnya sejak kemarin.


"Eerg !", lenguhan kecil keluar dari bibir Gita. Dirga menuntun istrinya ke ranjang. Dia menatap wajah Gita yang mulai sayu. Dirga tersenyum, bibirnya beralih menyesap dua benda favoritnya.


Dengan foreplay yang Dirga lalukan, tak lama Gita mencapai pelepasannya. Dirga tersenyum nakal melihat istrinya yang sedikit lemas. Pria itu berdiri kemudian melepas semua pakaian yang ia kenakan. Dia kembali menyesap nikmatnya dunia. Tanpa Dirga duga, tangan Gita meraih miliknya.


Mereka saling memuaskan pasangan masing-masing. Bahkan mereka melakukan banyak model gaya bercinta. Gita tidak menyangka jika suaminya adalah hiper, untung saja ia bisa mengimbanginya. Sebagai pengantin baru, mereka seolah tidak pernah puas. Terus mengulanginya lagi dan lagi.


" *I love you!!",

__ADS_1


"Love you more*!!",


*


*


*


"Kamu dari mana saja, Mas?. Dua hari kamu tidak pulang!!", ucap Tari saat melihat Danar turun dari mobilnya, bukan disambut dengan senyum. Tari malah langsung beberondongnya dengan sebuah pertanyaan. " Ponsel kamu juga tidak aktif. Kamu sengaja menghindari aku?",


Danar menghela nafas, ia sedang kacau saat ini. Dan dirinya malas berdebat dengan Tari.


"Aku sedang tidak ingin berdebat. Aku capek, Tari!!",


"Mas, kita harus bicara. Kita tidak bisa seperti ini terus!!",


Danar terus melangkah menuju kamarnya dan Tari masih terus mengikuti suaminya.


"Katakan padaku, kamu dimana dua hari ini?", paksa Tari. Danar berdecak kesal, ia menuju kamar mandi dan langsung mengunci pintu.


"Arrgg, sial. Bagaimana bisa Danar mengacuhkan aku. Aku harus mencari tahu kemana dia pergi dua hari ini!!",


Sedangkan dikamar mandi, ingatan Danar berputar pada kejadian dua hari yang lalu.


Flash Back On


Setelah berdebat dengan Tari, Danar menaiki mobilnya. Dia butuh ketenangan yang tak pernah ia dapatkan dirumah. Danar melajukan mobilnya menuju pantai, entah apa yang membawanya kesana. Yang jelas, ia butuh waktu untuk sendiri.


Bukan menuju pantai seperti rencananya, mobilnya justru menuju sebuah klub malam. Danar bukan pria polos yang tak pernah menginjakkan kaki ditempat itu. Hanya saja, selama di Indonesia ia belum pernah ketempat ini. Hingar binar lampu juga suara dentuman musik terasa begitu keras. Danar berjalan masuk dan memesan minuman pada bartender.


Mungkin inilah ketenangan yang dia butuhkan. Dengan meneguk minuman tersebut, Danar bisa melupakan segala beban dalam dirinya. Dia memesan minuman lagi dan lagi. Hingga dia mulai mabuk,


"Bung, kamu sudah mabuk. Jangan tambah lagi minumannya!!", ucap seorang pria


Danar menatap pria tua disampingnya, dia tertawa


"Pak tua, kenapa wajahmu mirip seseorang yang kukenal!!",


"Benarkah?",


"Hahah, ya. Kau mirip pria bajingan yang menelantarkan aku dan mamaku!!"


Deg


Agung terdiam, bahkan dalam keadaan mabuk, Danar masih bisa mengenalinya. Padahal mereka tidak bertemu belasan tahun,


"Ah, wajahku pasaran sekali, rupanya!!",

__ADS_1


"Kau benar. Jika saya kau memang pria brensek itu. Aku sudah menghajarmu!!", racau Danar


"Kau terlihat membencinya, siapa dia sebenarnya?", tanya Agung. Dia hanya ingin tahu bagaimana perasaan Danar terhadapnya


"Dia papaku, ah ... bukan. Dia pria brengsek yang menelantarkan aku dan mama. Dia lebih memilih pergi bersama selingkuhannya!!",


Jujur, Agung sakit mendengar kalimat yang Danar lontarkan. Namun, semua yang putranya ucapkan memang benar.


"Kenapa takdir mempermainkan aku?. Dan sekarang, aku baru merasa menyesal karena kehilangan seseorang yang aku cintai!!",


"Sepertinya beban hidupmu sungguh berat. Kalau tidak keberatan, kau bisa cerita padaku!!", Danar memandang pria disampingnya lagi.


"Kau tahu?. Aku dipaksa menikah dengan gadis yang tidak aku cintai, namanya Gita. Gadis yatim piatu pilihan mamaku, dia cantik, baik dan sempurna. Dia juga bisa melakukan semua hal. Tapi cinta tidak bisa dipaksa. Aku hanya mencintai kekasihku, wanita yang ditolak mama tanpa alasan yang jelas. Aku meninggalkan Gita dimalam pernikahan kami dengan alasan kerja. Tapi saat itu, aku tidak kerja. Aku menemui kekasihku, Tari dan kami menikah diam-diam. Dua bulan pernikahan, aku membawa Tari pulang kerumahku, tepatnya rumah yang ditinggali istri pertamaku. Dia shock, dia marah dan tidak terima aku pulang membawa istri baru. Tapi aku tidak mempedulikannya. Aku selalu menunjukkan kemesraanku dengan Tari didepannya. Bahkan aku pernah memaksanya melihatku bercinta dengan istri mudaku hanya untuk menunjukkan bahwa aku hanya mencintai Tari. Aku tahu dia selalu menangis dibelakangku. Tapi aku mengabaikannya. Aku bahkan tidak memberinya nafkah dan menyuruhnya bekerja!", Danar kembali meminum minumannya, "Waktu itu, Tari hamil. Tentu aku sangat bahagai. Tapi suatu hari, Tari jatuh dari tangga dan pendarahan. Aku marah pada Gita, karena Tari bilang, dialah yang mendorong Tari. Aku hampir membunuh Gita karena Tari mengalami keguguran. Tapi nyatanya, semua hanya karangan Tari untuk menjatuhkan Gita. Aku memaafkan Tari karena aku mencintainya. Dan suatu hari, aku tahu sebuah kebenaran yang menyakitkan. Istriku adalah anak dari selingkuhan pria itu. Dan lagi-lagi, aku memaafkannya dengan dalil cinta!!", Danar menteskan air mata, "Aku memaafkan Tari dengan syarat aku akan menganggap Gita sebagai istri juga. Tari awalnya keberatan, tapi dia akhirnya setuju karena aku mengancam akan meninggalkannya kalau dia menolak. Hubunganku dengan Gita mulai hangat dan kami berencana akan bulan madu. Tapi aku masih menomorsatukan Tari dan percaya hasutannya. Tari memberiku foto-foto Gita bersama bosnya itu, aku percaya dan aku matah padanya. Gita bahagia melihatku pulang dan mengatakan jika dia hamil. Tapi aku malah menuduhnya hamil dengan atasannya, Dirga. Dia marah dan kami berdebat, akhirnya Gita jatuh dari tangga dan keguguran. Saat itu aku baru sadar jika anak yang telah pergi itu adalah anakku. Tapi terlambat, Gita terlanjur sakit hati padaku dan mengajukan gugatan cerai. Aku menolak, namun dia tetap melanjutkan perceraian. Dan akhirnya kami berpisah!", Danar kembali mengusap air matanya. "Tiga tahun berlalu, dia kembali. Aku merasa memiliki harapan, sayangnya dia kembali karena akan menikah dengan kekasihnya, Dirga. Pria yang dulu kutuduh sebagai kekasihnya. Mereka benar-benar menikah, besok!. Hahaha, bukankah takdir ini seperti kebetulan?",.


Agung menghela nafas, dia tahu jika Danar kehilangan calon anaknya beberapa tahun lalu. Dan semua tak terlepas dari campur tangan Tari, putri tirinya. Walaupun semua memang tidak disengaja.


"Lalu kenapa kau ada disini?. Pasti istrimu sedang menunggumu dirumah!",


Danar tertawa keras, "Kau tahu?. Belakangan ini kami sering bertengkar. Karena belakangan aku sering menemui mantan istriku untuk meminta rujuk. Tari bahkan sempat ribut dengan Gita. Aku lelah, dia terlalu pencemburu dan selalu mempermasalahkan hal - hal kecil. Aku muak dengan sikapnya. Aku tidak menemukan ketenangan dirumah, apalagi mama selalu menuntut anak pada Tari!",


"Kalian belum memiliki anak?", pancing Agung


Danar menggeleng, "Aku sangat kenginginkan anak, tapi Allah belum memberi kepercayaan pada kami. Mungkin ini karma karena aku pernah menghilangkan nyawa anakku sendiri!",


Danar kembali meminum minumannya,


"Aku ingin ke toilet, kamu mau ikut?", tanyanya tertawa. Agung menggeleng. Dia hanya memperhatikan Danar yang berjalan sempoyongan menuju kamar kecil.


Danar berjalan melewati lorong klub. Dan tak sengaja melihat seorang pelayan yang lewat.


"Gita!!", racaunya. Danar mengira wanita itu adalah Gita, dia memaksa wanita itu masuk kedalam sebuah kamar.


"Tuan jangan, aku hanya pelayan disini. Aku bukan wanita panggilan!!", ucapnya memberontak


"Aku sangat merindukanmu, sayang!!",


"Tidak, aku mohon jangan!!", teriak wanita itu. Namun Danar tak menghiraukannya. Dia memaksa wanita itu melayani hasratnya yang sudah naik.


Wanita itu terus menjerit dan menangis. Tapi terlambat, Danar berhasil merenggut kesuciannya. Dan terus memaksanya melayani nafsunya.


Agung mencari Danar dikamar mandi karena putranya itu tak kunjung datang. Tapi nihil, Danar tidak ada dikamar mandi. Dia bertanya kepada salah satu pengunjung dan dia mengatakan jika orang yang dicarinya masuk kedalam kamar dengan seorang wanita. Agung langsung mencari pemilik club, dan membayar mahal hanya untuk melihat CCTV klub. Dan betapa terkejutnya dia saat pemilik klub mengatakan jika wanita yang dibawa Danar bukan wanita malam. Melainkan karyawan biasa dan wanita itu masih suci. Agung meninggalkan klub setelah meminta alamat gadis tersebut. Entah apa yang pria itu pikirkan.


Paginya, Danar bangun disebuah kamar yang terasa asing. Dia mencoba duduk dan memijat kepalanya yang pusing. Namun sedetik kemudian dia menyadari sesuatu. Danar membuka selimut dan dia mendapat tubuhnya polos tanpa busana. Yang lebih mengejutkan lagi, ada bercak darah disamping tempat tidurnya.


"****. apa yang sudah aku lakukan. Siapa wanita yang aku tiduri?",


Danar segera memakai pakaiannya dan pergi meninggalkan klub tersebut.

__ADS_1


Flash Back Off


"Aku harus mencari tahu, siapa gadis itu!!",


__ADS_2