Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Pillow Talk


__ADS_3

Dirga tersenyum sumringah. Wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah mandi. Dia terus menatap wajah istrinya yang memejamkan mata. Gita benar-benar memberikan full service padanya. Bahkan, sensasinya belum bisa Dirga lupakan.


"Dia pasti lelah sekali!", Dirga membungkukkan wajah lalu mencium kening sang istri dengan lembut. "Apa aku membangunkanmu?", tanyanya yang melihat Gita membuka mata walau tidak sempurna.


"Aku tidak benar-benar tidur. Cuma rebahan saja!", jawabnya sambil membetulkan posisi kelapanya di paha sang suami. Mencari posisi ternyaman yang dia inginkan.


"Kalau capek, tidur saja. Kamu sudah memberikan servis yang luar biasa barusan. Nggak nyangka, istriku sekarang makin pinter begituan. Belajar sama siapa, hm?."


Gita mengeratkan pelukannya, "Dulu pernah nggak sengaja ngintip film bo*ep. Ana kepo, soalnya habis pelajaran IPA tentang reproduksi. Dia pingin tahu adegan live nya. Dapat kiriman dari teman sekelas. Awalnya Ana ragu, dia sama kayak aku yang takut lihat film begituan. Terus nggak sengaja ke pencet play, aku ikutan panik soalnya volume ponsel Ana yang kenceng banget. Bukannya mati malah kena geser, ya adegannya gitu yang muncul!."


Dirga berusaha menahan senyum, tidak menyangka istrinya dulu sepolos itu. "Yang gitu gimana?", pancing Dirga


"Ya, yang tadi itu!."


"Emang yang tadi kayak gimana?", ucap Dirga yang masih ingin menggoda istrinya. Terdengar Gita berdecak, "Kamu nggak mungkin lupa, yank. Ish, ini kenapa tegang lagi?", tanya Gita yang merasakan sesuatu mengeras dikepalanya.


"Heheh, cuma ingat tadi aja, yank. Kalau mau diulang sih, aku malah seneng banget!."


Gita menggesek-gesekan kepalanya, "Tidur lagi. Jangan nakal terus. Jatahnya sudah habis!."


Dirga tak mampu menyembunyikan tawanya. Walau sudah on, tapi dia masih bisa menahannya.


"Kenapa kepikiran melakukan adegan yang pernah kamu tonton. Penasaran, atau pengen nyoba?."


Gita mengangkat kepalanya sedikit lalu menatap suaminya. "Pertama, aku nggak tonton. Tapi nggak sengaja aku tonton. Yang kedua, bukan penasaran atau pengen. Tapi, cuma ....!"


"Cuma apa?", tanya Dirga kembali menggoda istrinya.


Wajah Gita bersemu merah, dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa melakukan hal itu. Sekarang antara malu dan geli, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Cuma kenapa? Nggak mungkin kamu berani melakukan hal seperti itu kalau tidak ada alasannya. Atau mungkin kamu ....!"


"Aku nggak pernah begitu sebelumnya!", jawab Gita cepat, dia menebak jika suaminya ingin mengatakan apa dirinya pernah melakukan hal itu pada suami terdahulunya. Hei, jawabannya tentu saja tidak. Mereka bahkan hanya melakukannya dua kali. "Aku hanya ingin memuaskanmu!."


Jawaban Gita membuat Dirga menatapnya lekat, "Kenapa?."


"Em. Aku pernah membaca artikel. Jika seorang istri bisa memuaskan suaminya. Kecil kemungkinan suaminya akan mendua!."


Dirga menghela nafas, "Jadi kamu takut aku mendua?." Gita mengangguk pelan. "Itu artinya, kamu belum mempercayaiku. Aku bukan Danar, sayang. Aku mencintai kamu sepenuh hati. Tidak ada niatan bahkan pikiran untuk menduakan kamu setelah aku bersusah payah mendapatkan kamu. Kamu sadar 'kan, perjuanganku mendapatkan kamu itu tidak mudah!", Gita kembali mengangguk. "Jadi tidak ada alasan apapun bagiku untuk menduakan kamu. Mulai sekarang, buang jauh pikiran seperti itu!".


Gita melingkarkan tangannya diperut Dirga, "Maaf. Aku hanya takut!."

__ADS_1


"Sstt. Jangan bicara seperti itu lagi. Apapun alasannya. Yang perlu kamu ingat, aku tidak akan pernah menduakan kamu!."


Gita mengangguk, "Tapi servisnya, suka kan?."


Astaga, lihatlah wajah menggodanya ini. Siapa yang tidak akan gemas jika melihatnya. "Kalau servisnya, setiap hari aku bersedia!." Dirga terkekeh.


"Kamu apakan Tari dan mamanya?", pertanyaan Gita membuat kekehan Dirga terhenti.


"Lagi enak bahas yang hangat-hangat. Kok jadi bahan mak lampir sih?", tanya Dirga kesal. Kini giliran Gita yang terkekeh.


"Cuma penasaran aja. Suamiku yang tampan ini sudah berbuat apa pada mereka!."


Dirga tersenyum, "Cuma sedikit peringatan!", jawab Dirga singkat.


Gita menghela nafas, "Aku salah apa lagi sama Tari. Kenapa dia masih gangguin aku?."


Dirga membelai lembut rambut istrinya. "Kamu nggak salah apa-apa. Dia saja yang tidak bisa menerima takdir dan selalu menyalahkan orang lain atas semua hal yang menimpanya. Sejak kecil, Tania selalu memanjakan Tari. Mungkin itu sebabnya, kenapa Tari tidak bisa menerima apapun yang tidak sesuai keinginannya!."


"Tapi 'kan tidak semua yang kita inginkan bisa terpenuhi. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya!."


Dirga kembali tersenyum, "Itu menurut kamu. Tapi tidak dengan Tari yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Apalagi, sekarang dia kena karma karena sudah menyakiti kamu!."


Ucapan Dirga membuat dahi Gita mengernyit, "Memangnya apa yang terjadi pada Tari?."


Gita menutup mulut tak percaya, bagaimana bisa Danar menikah lagi sedangkan cintanya untuk Tari begitu besar. Dia bahkan rela menyakitinya dirinya, dulu. Hanya karena cinta yang begitu dalam untuk mantan madunya itu.


"Kamu ingat, kamu bilang bertemu Anya dirumah sakit. Dan kamu tahu? Ternyata Anya mengandung anak Danar!."


Deg


Gita bungkam, banyak pertanyaan dalam kepalanya. Kenapa, bagaimana dan kapan semua itu terjadi. Melihat Danar yang begitu mencintai Tari. Rasanya mustahil jika Danar melakukan hal itu. Atau mungkin, Anya yang merayu Danar? Itu lebih tidak mungkin lagi, karena Gita tahu Anya seperti apa.


"Danar memperkosa Anya tepat saat kita melakukan pernikahan. Dia frustasi karena kamu sudah menjadi milik orang lain. Dia pergi ke klub, dan kebetulan Anya bekerja sebagai pelayan disana. Dia mabuk dan menodai Anya malam itu. Semua murni kecelakaan. Tapi tetap saja, sekarang Anya mengandung anaknya. Dan mau tidak mau, Danar harus bertanggung jawab!", jelas Dirga yang seolah tahu apa yang ingin didengar istrinya.


"Anya bekerja di klub? Bukankah gajinya di kantor kamu lumayan besar!."


"Kalau itu, aku tidak tahu. Dia pasti punya alasan sendiri!."


"Lalu bagaimana bisa kamu tahu semuanya ini?."


Dirga mengecup sekilas bibir candu istrinya. "Aku tahu apapun yang berkaitan dengan kamu. Bahkan sampai saat ini, Danar masih mengharapkan kamu, akupun juga tahu. Itulah kenapa Tari dendam padamu. Dia menyalahkanmu atas semua yang terjadi!."

__ADS_1


Gita menarik nafas lalu menghembuskannya. "Aku pikir, mereka akan bahagia setelah aku pergi. Tapi kenapa jadi seperti ini?."


"Jadi kamu menyesal sudah meninggalkan Danar?", tanya Dirga salah paham.


"Eh, ya bukan begitu sayang. Maksudku, aku kan sudah bahagia dengan orang yang aku cintai. Kenapa mereka masih mengusik hidup kita? Seharusnya mereka juga bahagia seperti kita!."


"Jadi kamu mencintaiku?", Gita memutar matanya malas. Tadi cemburu, sekarang merayu.


"Kalau tidak cinta. Mana mau aku menikah dengan kamu. Sudah mesum, manja, itunya besar lagi!." Ops, Gita menutup mulutnya dengan tangan. Kenapa itu mulut kelepasan sih.


"Oh, jadi itu penilaian kamu tentang aku. Aku mesum, manja dan itunya besar, begitu?."


"Heheh, tapi aku cinta kok!", Gita menyengir bersalah.


"Tentu saja kamu cinta. Suara de*ahanmu itu selalu terdengar nyaring disetiap permainan kita. Itu karena apa, tentu saja karena senjata andalanku yang kamu bilang besar itu. Ditambah sekarang sudah ada Dirga junior didalam rahim kamu. Itu menandakan betapa hebatnya milikku ini!!."


Gita berdecak, "Kita membahas apa ya?. Kok jadi ke ranah mesum begini?."


"Kamu yang mulai!!."


"Hehehe, iya. Aku yang mulai. Sudah-sudah, sekarang bahas yang lain saja!".


Dirga memasang mode merajuk, "Mau bahas apa? Mantan terindah!", tanyanya kecut.


"Ish, sudah ah. Kita sudahi pillow talk ini. Sebaiknya sekarang kita istirahat. Aku malas membahas apapun lagi!", putus Gita. Wanita hamil itu terlalu malas jika harus melawan suaminya saat merajuk begini. Dirga pasti banyak maunya.


"Eit, nggak bisa begitu. Kamu sudah membuat aku ngambek. Jadi kamu harus bertanggung jawab!."


"Tanggung jawab bagaimana?. Kan aku bicara jujur dan apa adanya!", sahut Gita membela diri.


"Ya pokoknya tanggung jawab. Harus!!."


"Gimana caranya?", tanya Gita pasrah


Dirga tersenyum menyeringai, "Aku mau lolipop!."


"HAH!!."


*


*

__ADS_1


Heheh, bang Dirga ketagihan nih ye


__ADS_2