
Dua insan itu masih bergelung dibawah selimut. Ya, mereka selalu saja tidak menyia-nyiakan waktu jika berdua, khususnya Dirga. Seperti tadi malam, mereka baru menyudahi kegiatan panasnya jam dua dini hari. Suasana kamar yang nyaman sekaligus kedap suara tentu tak menjadi halangan untuk mengalunkan suara merdu keduanya.
"Morning, sayang!!", Dirga mengecup sekilas bibir candu istrinya. Gita menggeliat, matanya terbuka kemudian menatap wajah tampan sang suami.
"Morning too, sayang!!",
Wanita itu menyandarkan kepalanya didada bidang sang suami. Menikmati aroma tubuh Dirga yang memang ia sukai. Setalah nyawanya terkumpul sempurna, Gita berniat beranjak dari tidurnya, namun Dirga menahannya. Ia kembali memeluk istrinya dan gantian membenamkan wajah didada sang istri.
"Aku mau bangun, sayang. Aku ingin membuat sarapan!!", keluh Gita karena semakin hari suaminya semakin manja.
"Ada bibi. Lagipula, papa pasti paham kalau kita ini pengantin baru!!",
Gita menghela nafas, "Sayang, jangan begitu. Aku menantu dirumah ini. Aku juga harus memperhatikan papa!!",
Bukan mendengarkan, Dirga justru meraih benda favoritnya. Gita memekik kaget dengan ulah sang suami.
"Aku menginjikanmu turun. Tapi, layani aku sekali lagi!!, bisik Dirga. Belum menjawab, Dirga lebih dulu membungkam mulut istrinya. Kemudian membawanya ke kamar mandi.
*
*
"Selamat pagi, Pa. Maaf aku tidak membuatkan papa sarapan!", sesal Gita.
Januar hanya tersenyum, apalagi melihat wajah putranya yang berseri-seri. Ia yakin, Dirga tidak mengijinkan Gita turun. Mereka masih hangat-hangatnya sebagai pengantin baru. Apalagi Dirga, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang memang sejak lama ia inginkan.
"Tidak apa nak, bibi sudah memasak. Kita sarapan sekarang saja!!",
Gita mengambilkan makanan untuk suami dan mertuanya. Suasana memang selalu hangat. Ditambah sedikit obrolan mereka di pagi hari.
"Sayang, kamu mau honeymoon kemana?",
Gita langsung menatap suaminya. "Apa masih perlu bulan madu?", tanyanya santai
"Tentu saja. Bukankah pasangan yang baru menikah, pasti akan pergi bulan madu?", jawab Dirga sambil memakan sarapannya.
Januar tersenyum, "Pergilah bulan madu. Nikmati waktu kalian. Kalau bisa, setelah kalian kembali, ada kabar baik yang papa terima!",
"Kamu mau kemana?. Paris?. Turki?. London atau kemana?", tanya Dirga serius.
Gita terdiam sejenak. Jujur, dia ingin pergi ke Pulo Cinta, Maldives-nya Indonesia. Gita pernah mengutarakan niatnya itu pada Danar. Kalau mereka kesana, ia yakin Dirga tidak akan setuju. Apalagi kalau tahu Gita dan Danar pernah berencana kesana, walau gagal. Suaminya itu tipe posesif dan pencemburu, khususnya yang berbau mantan.
"Bagaimana kalau ke Lombok?",
__ADS_1
Dua pria itu langsung menatap Gita. Jika Januar menatap sang menantu karena terkejut dengan jawaban Gita. Dirga justru memandang Gita heran. Biasanya, wanita akan suka jika diajak jalan-jalan ke luar negeri. Tapi istrinya malah berbeda.
"Kamu yakin mau ke Lombok?. Tidak mau keluar negeri saja?", tanya Dirga memastikan.
"Sebelum mencintai negeri orang. Ada baiknya kita mencintai negeri sendiri. Lagipula, disana juga tidak kalah bagus dengan wisata mancanegara. Tempatnya masih asri dan bersih. Berenang di pantai berpasir putih, snorkeling, berkeliling naik sepeda dan kalau beruntung, kita bisa melepas tukik ke pantai!!",
Dirga tersenyum, ia lupa kalau Gita berbeda dengan wanita lainnya. Sejak remaja, istrinya itu sudah dipaksa dewasa. Dan yang jelas, Gita sangat bisa menghargai hidup.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Kita akan pergi ke Lombok hari ini juga!",
Uhuk Uhuk Uhuk
Gita tersedak makanan yang dia kunyah.
"Hati-hati sayang!!", ucap Dirga sambil memberikan segelas air padanya.
"Terima kasih!!",
Gita mengelap mulutnya dengan tisu. Jujur, dirinya terkejut saat Dirga mengatakan akan berangkat hari ini juga. Punya suami sultan memang bisa melakukan apapun sesuai keinginan mereka, bukan?.
"Dia memang semaunya sendiri!!", celetuk Januar. Seakan tahu alasan menantunya tersedak.
"Memangnya apa yang salah, Pa?. Bukankah papa juga sudah ingin punya cucu!!",
Dirga membenarkan ucapan papanya, lalu menatap sang istri. "Kamu mau kapan dan bagaimana?",
Gita tersenyum ragu, "Besok aja bagaimana?!", Dirga mengangguk setuju. "Emh, kalau bisa, kita nikmati semuanya seperti kebanyak orang. Jangan memakai fasilitas yang berlebihan!!",
Dirga menaikkan alisnya, "Maksudnya bagaimana, yank?",
"Maksudnya, Gita ingin semuanya sederhana. Menggunakan pesawat kelas biasa, pakai transpotasi umum biasa menuju tempat honeymoon kalian, juga menginap ditempat yang biasa!!", bukan Gita yang menjawab melainkan papanya.
"Benar begitu, yank?",
Gita mengangguk, "Tidak semua orang bisa pergi berlibur. Menghabiskan uang untuk hal yang kurang bermanfaat juga tidak baik!",
"Tapi aku mampu, yank!. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. !",
"Aku tahu. Tapi ada baiknya kita tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu. Kita berdua pernah mengalami kehidupan sulit dimasa lalu. Tidak ada salahnya kita mengingat bagaimana kehidupan kita dulu, bukan?. Kita pernah hidup dengan keterbatasan?. Banyak orang yang berada di posisi kita dulu, saat ini. Daripada membuang uang berlebihan, kenapa kita tidak menggunakannya untuk membantu orang yang membutuhkan!!",
Salut, satu kata yang ada dibenak Januar. Gita memang berbeda dengan perempuan lain. Kehidupan yang keras membuatnya menjadi wanita dewasa yang bijaksana.
"Kamu memang luar biasa, sayang. Aku beruntung bisa menjadi suamimu. Aku semakin yakin, kalau kamu akan menjadi istri dan ibu yang hebat untuk keluarga kecil kita!!",
__ADS_1
"Kamu terlalu berlebihan, sayang!",
"Tidak. Kamu memang wanita spesial yang Allah kirimkan untuk melengkapi hidupku. Aku bahkan lupa kapan aku hidup sederhana seperti dulu. Terima kasih sudah mengingatkan aku. Sesuai permintaan kamu, kita berangkat besok pagi!!",
Gita mengangguk dan tersenyum.
*
*
*
Agung sudah berada dibandara. Dia memutuskan untuk kembali ke luar negeri karena harus kembali bekerja. Tak lupa pria itu menyuruh seseorang untuk mengawasi gadis yang diperkosa putranya. Entah apa tujuan Agung, yang jelas ia hanya ingin memastikam bagaimana kondisi gadis tersebut.
"Ah, maaf!!",
Anisa membeku, orang yang tidak sengaja menabraknya adalah Agung, mantan suaminya. Rasa kecewa dan sakit yang sudah ia kubur belasan tahun mendadak muncul diingatannya. Dengan langkah lebar, Anisa pergi menjauhi mantan suaminya.
"Apa kabar, Anisa?",
Deg
Anisa menghentikan langkahnya. Hampir enam belas tahun, hari ini dia kembali mendengar suara itu. Suara pria yang dulu ia cintai, suara pria yang merupakan papa dari putranya dan pria yang telah mencampakkan mereka. Kenapa takdir harus mempertemukan mereka lagi?.
"Anisa, aku ... aku minta maaf!!", lirih Agung
Anisa masih terdiam ditempat. Maaf?. Mungkin dia sudah memaafkan pria itu. Tapi melupakan semuanya, tentu tidak semudah kata maaf terlontar.
"Oh, jadi diam-diam kalian bertemu dibelakangku?!!",
Suara Tania memecah keheningan diantara keduanya. Wanita berstatus istri Agung itu menggeret kopernya mendekati mereka. Setelah Tari menentang keinginannya untuk membalas Dirga. Tania memutuskan pulang. Dia akan menyusun rencana sendiri tanpa melibatkan putrinya. Tapi saat berada di bandara. Tania justru disuguhi pemandangan tak mengenakkan.
"Nyonya Anisa yang terhormat, bukankah bertemu dengan suami orang saat tidak ada istrinya, adalah hal yang kurang terpuji. Kenapa anda dengan berani mengajak suami saya bertemu?",
Anisa tersenyum sinis, dia menatap Agung dan Tania bergantian. "Aku rasa matamu tidak rabun. Kau tahu betul jika bandara adalah tempat umum. Lagipula, untuk apa aku mengajak suamimu bertemu?. Mengenang masa lalu?. Astaga, aku masih waras. Aku tidak suka barang bekas, apalagi bekas wanita perebut suami orang!!",
Anisa meninggalkan Tania yang terlihat begitu emosi. Tapi baru beberapa langkah, perempuan yang masih cantik itu berbalik dan menatap mantan madunya, "Jangan lupa jika putrimu adalah menantuku. Kau tahu, aku dan putraku menginginkan seorang bayi. Jika putrimu tidak bisa memberikannya. Aku pastikan putraku anak memiliki bayi dari wanita lain!",
*
*
*
__ADS_1
Loh, Mama Anisa mulai beraksi guys.