Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Bahagianya Calon Ayah


__ADS_3

Berita hilangnya bayi Danar dan Anya sudah sampai di telinga keluarga Dirga. Mereka turut bersedih, namun tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik dan semoga bayi Danar segera ditemukan.


"Sayang, dia menendang lagi!!", ucap Dirga heboh, Gita dan Januar terkekeh melihatnya.


Perkiraan kelahiran Gita seminggu lagi, dan Dirga tentu saja sudah cuti dan melimpahkan semua pekerjaannya pada suami Ana, Andre. Bahkan dia tega membuat Andre kelimpungan dengan semua pekerjaannya karena Dirga sudah cuti sebulan sebelum Gita diperkirakan akan melahirkan. Ana sempat mengumpati suami sang sahabat. Mereka pengantin baru yang terpaksa harus kompak bekerja sama mengurus semua pekerjaan yang ditinggalkan pemiliknya. Beruntung, Ana yang sudah diangkat menjadi sekertaris Dirga, dengan kompak menyelesaikan pekerjaannya bersama sang suami. Dan sebagai bonusnya, suami Gita itu memberikan bonus sebuah rumah berlantai dua serta paket bulan madu, untuk Ana dan Andre sebulan yang lalu.


"Dia nendang lagi!," Dirga begitu bahagia seperti anak kecil yang mendapat mainan baru saat tangannya merasakan tendangan dari bayinya.


"Sakit, tidak?."


Gita mengangguk pelan, "Sedikit!!"


Januar tersenyum kecil, "Papa tidak sabar ingin bertemu dengannya. Pasti dia akan mirip Papa!."


Dirga langsung protes mendengar ucapan Papanya, "Mana mungkin begitu, dia anakku. Ya jelas mirip aku atau ibunya!."


"Tapi dia keturunan Papa!!"


"Tapi aku yang membuatnya!!."


Dua pria beda usia itu selalu berdebat hanya karena hal kecil. Tapi itu merupakan hiburan sendiri bagi Gita.

__ADS_1


"Nanti mirip kalian berdua!!," putus Gita.


Dirga menatap istrinya kesal, "Ya, nggak bisa, sayang. Dia harus mirip kamu atau aku, titik!."


Gita tertawa kecil, "Kamu lihat deh. Hidung Papa mirip kamu kan? Bentuk wajahnya juga. Ya otomatis, anak kita akan sama seperti kamu dan Papa! Kamu sama Papa kan, kayak kakak adik kalau pas barengan!!."


Dirga menatap Papanya, begitupun dengan Januar. Mereka sama-sama tertawa, " Iya juga sih, ada beberapa bagian wajahku yang mirip Papa!."


"Cih, giliran gini aja, baru ngaku. Dari tadi kemana saja!!."


Dirga terkekeh, dia berdiri dari duduknya lalu duduk disebelah Januar dan memeluknya. "Aku sayang Papa!," Januar membalas pelukan Dirga. "Tapi tetap saja, anakku akan lebih mirip aku!!."


Dirga melotot, "Jadi maksud Papa, aku membosankan, begitu?."


Januar dan Gita tertawa, Dirga kembali duduk disamping sang istri. Tangannya kembali mengusap perut besar itu. Kadang dia sengaja mengusapnya cepat, dan langsung mendapat respon tendangan dari bayinya.


"Bahagia sekali, yang mau jadi calon ayah!."


Dirga tersenyum lembut, "Tentu saja, siapa sih yang tidak bahagia akan memiliki anak. Aku bahagia sekali, dan tentunya aku sangat berterima kasih untuk istriku yang cantik ini. Terima kasih sudah mau mengandung anakku. Aku mencintaimu!."


Gita terharu mendengarnya, dia bukan hanya beruntung tapi juga bersyukur memiliki suami seperti Dirga. Tidak hanya penyayang dan lembut, walau kadang manja. Tapi Dirga juga selalu siap siaga menjaganya, menuruti semua ngidamnya dan selalu memberikan cinta yang begitu luar biasa.

__ADS_1


"Aku yang beruntung memilikimu sebagai suamiku. Terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Memberikan cinta seluas samudera dan menyayangi setulus hatimu!."


Januar turut terharu mendengar betapa anak dan menantunya saling mencintai. Semoga cinta mereka selalu awet dan bahagia hingga maut memisahkan.


"Awhh!."


Gita meringis karena anakknya menendang hebat. Dirga langsung mengusap lembut perut istrinya, "Sayang, jangan keras-keras nendangnya. Kasihan bunda. Nanti saja kalau kamu sudah lahir, kita akan menendang bola bersama. Nanti kita juga akan membuat tim kesebelasan sama adik-adik kamu!!."


"Ish, sakit yank!!", Dirga mengusap lengannya yang baru saja mendapat cubitan dari Gita.


"Satu belum lahir, kamu sudah mau bikin lagi. Nanti tunggu besar. Atau, kamu saja yang hamil!!."


"Betul, Dirga saja yang hamil," sahut Januar menimpali


"Heheh, maksudnya kalau yang ini sudah besar!!."


Gita kembali meringis, kini tendangan dari bayinya semakin keras.


"Sayang, kamu kenapa? Apa sakit sekali?."


"Sepertinya prince sudah mau lounching!!."

__ADS_1


__ADS_2