Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Ada Maunya Jika Manja


__ADS_3

Danar terus berteriak, dia memukul kakinya sendiri. Dokter yang baru datang bersama Anisa segera menenangkan Danar. Anya hanya bisa menangis melihat kondisi suaminya, begitupun dengan Anisa.


Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang karena Danar tak kunjung tenang. Dia terus berteriak dan mengamuk karena tahu kondisinya sekarang.


"Dia akan bangun dalam beberapa jam kedepan. Saya harap, kalian sabar menghadapi sikapnya. Pasien mungkin mengalami krisis percaya diri sekarang. Orang-orang terdekatlah yang mampu memulihkan kondisinya. Untuk keseluruhan kondisinya, pasien baik-baik saja!."


"Baik, dok. Terima kasih!."


Anisa menatap nanar sang putra. Ada banyak kesedihan menatap wajah pucat itu. Anisa menghela nafas, harta bisa dicari tapi nyawa? Untung saja, Danar selamat. Ia tentu tak akan mengampuni Tania dan Tari kalau sampai nyawa Danar tidak tertolong.


Anya mengusap lengan mertuanya, ia tahu jika Anisa sangat sedih melihat kondisi Danar. Dia pun merasa demikian, tapi yang lebih mendominasi perasaan Anya adalah penyesalan. Tiga bulan ini, Danar sudah berusaha menjadi suami yang baik. Memberikan perhatian layaknya suami yang begitu mencintai istrinya. Meluangkan waktu mengantarnya melakukan pemeriksaan setiap bulan. Dan membawakan makanan kesukaannya setiap kali pria itu pulang kerja. Hati Anya juga semakin luluh saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Danar dan mertuanya. Danar mengatakan jika dia dan anak dalam kandungannya adalah harta yang paling berharga. Namun ego dan rasa benci masih menguasai hatinya. Hingga saat dia menyadari kesalahannya, Danar lebih dulu mengalami kecelakaan.


"Kalau kamu mau berpisah dengan Danar. Tunggulah sampai bayi kalian lahir. Mama tahu, kamu tidak ingin hidup bersama Danar selamanya. Kamu berhak menentukan pilihan!", lirih Anisa


Anya menggeleng cepat, "Aku tidak akan meninggalkan Mas Danar. Aku akan merawatnya sampai sembuh lalu kami akan membesarkan anak ini bersama - sama!", sahut Anya dengan yakin. Anisa tersenyum lega, setidaknya Danar masih bisa tersenyum bersama istri dan calon anaknya ditengah duka yang dia hadapi.


*


*

__ADS_1


*


"Dari mana saja? Bukannya urusan kantor sudah selesai? Pas aku bangun, kamu tidak ada. Bibi bilang kamu pergi tak lama setelah kita pulang dari rumah sakit!", Gita menodong suaminya dengan berbagai pertanyaan.


Dirga tersenyum, "Ada urusan sedikit. Sekarang semua sudah diurus anak buahku!."


Gita memicingkan mata, "Pasti urusan diluar pekerjaan kan? Katakan, apa yang sedang kamu lakukan diluar pekerjaanmu?", tanya Gita menyelidik. Perempuan itu hafal betul gerak gerik sang suami. Ia juga tahu jika Dirga tengah mengurus urusan yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya.


Dirga mendekat, dia memeluk istrinya lalu mencium keningnya dengan sayang, "Kamu sekarang curigaan, ya?."


Gita menatap Dirga dengan kesal, "Wajar lah aku curiga. Aku tidak mau mengulang masa lalu kelam yang pernah aku alami. Aku harus selalu waspada dan selalu terdepan dalam urusan apapun khususnya untuk menjaga suamiku!."


Dirga malah tertawa, dan membuat wajah Gita terlihat semakin kesal, "Jadi kamu takut kehilangan aku?."


Jawaban Gita membuat Dirga melotot, bola matanya hampir saja keluar, "Jadi kamu mendoakan aku mati, begitu?."


"Aku tidak mengatakan begitu. Kamu saja yang berpikir ke arah sana!."


Dirga mencubit hidung Gita dengan gemas, "Aku tahu, kamu sedang cemburu. Kamu takut aku kecantol wanita lain 'kan? Makanya kamu terus curiga akalu aku pulang terlambat atau pergi tanpa pamit. Tapi aku justru senang dengan sikap kamu yang seperti itu. Itu tandanya, kamu begitu mencintai aku, ya kan?. "

__ADS_1


Gita mendengus, "Jangan terlalu percaya diri, bung. Aku ti-!."


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Dirga lebih dulu membungkam bibir sang istri. Me****** lembut dan menyesap sesekali. Gita terbuai, dia selalu suka belaian suaminya. Mereka saling berpagut seolah meluapkan rasa rindu yang begitu mendalam.


"Kamu selalu membuatku gila, sayang!", bisik Dirga tepat ditelinga istrinya. Gita tersipu, pipinya bersemu merah. "Aku rindu servis lolipopmu!!", Dirga tersenyum nakal.


Gita menatap suaminya dengan lekat, "Aku akan memberikan yang kamu mau. Tapi--!", Gita menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?", tanya Dirga penasaran


Gita memeluk lengan suaminya dengan manja, menyadarkan kepala didada bidang Dirga. Jika sudah manja begini, Dirga tahu Gita tengah ingin sesuatu.


"Kamu ingin apa, katakan, hm??."


Gita tersenyum dengan wajah berbinar, "Sungguh aku boleh minta apapun?", Dirga mengangguk. Selama ini permintaan istrinya masih wajar-wajar saja. Kali inipun dia yakin seperti itu. Namun sepertinya, kali ini Dirga salah.


"Aku ingin nonton bioskop!!."


Mendengar jawaban istrinya, Dirga melihat jam tangannya, pukul 11 malam. "Besok saja ya, sekarang bioskopnya pasti sudah tutup!", bujuk Dirga

__ADS_1


Binar diwajah Gita langsung meredup seiring jawaban yang terlontar dari mulut sang suami, "Baiklah!", jawab Gita lesu, Dirga menghela nafas lega, dia bersyukur karena Gita tidak memaksakan kehendaknya malam ini, "Tapi jatah servis lolipop aku skors sampai aku melahirkan!!."


Glek


__ADS_2