
Setelah memesan tiket ke Indonesia, Tania segera meminta izin pada suaminya untuk menemui Tari. Dia beralasan merindukan putrinya. Agung yang masih ada pekerjaan, tidak bisa menemani Tania menjenguk putrinya. Tania tentu tidak mempermasalahkan hal ini, dia justru merasa senang. Rencananya akan berjalan dengan lancar seperti biasa.
*
*
*
Sementara, sang calon pengantin tampak sedikit sibuk. Dirga sedang menulis daftar nama tamu undangan yang akan diundang di pernikahannya. Begitupun dengan Gita. Pernikahan yang akan digelar dihotelnya sendiri itu hanya akan mengundang orang-orang terdekat mereka saja. Tentu semua karena permintaan Gita, dia ingin pesta sederhana tapi hikmat. Berbeda dengan calon istrinya, Dirga diam-diam menyiapkan pesta mewah. Dia ingin momen pernikahannya dengan Gita menjadi momen tak terlupakan seumur hidup mereka.
"Kak, aku mau mengundang mama Anisa boleh?", tanya Gita tagu
"Tentu boleh sayang!",
"Terima kasih!", ucap Gita senang.
Dirga tersenyum, dia mendekat kemudian duduk disamping Gita.
"Tapi aku tidak mengundang mantan suamimu. Aku tidak mau, dia dan istrinya mengacaukan acara pernikahan kita!",
Gita mengangguk lalu tersenyum. Wanita itu terkejut saat tangan Dirga membelit pinggangnnya. Jantungnya langsung berdetak cepat. Gita tak berani menatap wajah calon suaminya karena gugup.
"Aku tidak sabar ingin segera menikahimu!!", bisik Dirga
Tubuh Gita menegang saat hembusan nafas Dirga menyapu telinganya.
"Kak ... !",
"Jangan panggil aku kak lagi. Kita akan segera menikah, bukan?",
Gita mengangguk lalu menatap calon suaminya dengan lekat. Wajah itu memang terlihat sangat tampan, pantas saja banyak yang mengidolakan mantan bosnya itu.
"Lalu aku harus memanggil apa?. Papa, Abi, Abah atau apa?", tanya Gita di iringi tawa tipis, Dirga memberenggut mendengar ucapan pujaan hatinya.
"Aku ini akan menjadi suamimu, sayang. Bukan ayahmu. Panggilan yang kamu sebutkan tadi lebih cocok untuk panggilan anak pada ayahnya. Kau pikir, aku setua itu sampai kau harus memanggilku ayah??", tanya Dirga sambil menggelitik pinggang kekasihnya.
"Hahah, stop kak. Jangan menggelitiki aku terus. Aku hanya bercanda!!", pintanya memohon
"Aku akan berhenti kalau kamu memanggilku, sayang!!",
"Ish, calon suamiku lebay sekali!!", ucap Gita terkekeh. Dirga menarik pinggang Gita, membuat wanita itu semakin dekat padanya.
"Aku baru tahu, kalau kamu suka sekali menggodaku!!", bisik Dirga
Gita berusaha menjauh, namun Dirga sudah mengunci tubuh wanitanya dengan erat.
__ADS_1
"Kak ... !",
Cup
Gita melotot saat Dirga mengecup bibirnya tiba-tiba.
"Kakak ... !", ucapnya kesal
Cup Cup
Dua kecupan kembali mendarat dibibir ranumnya. Dirga terkekeh melihat wajah calon istrinya yang merona.
"Aku akan terus memberimu kecupan, kalau kamu tetap memanggilku kakak!!",
"Baiklah, tuan Dirga Ibrahim yang tampan. Aku akan memanggilmu, sayang. Apa kau puas?",
"Tentu. Aku sudah lama membayangkan momen bahagia ini. Kita akan hidup bersama, makan bersama, tidur bersama, jalan-jalan bersama, dan ... ronda bersama juga!!",
Gita mengernyitkan dahi, "Bukankah kita akan tinggal bersama papa setelah menikah?. Apa penjaga rumah masih kurang, sampai aku juga harus ikut ronda?", Dirga terkekeh, rupanya Gita tidak mengerti maksud ucapannya. Dengan gemas Dirga memencet hidung calon istrinya.
"Maksudku ronda diranjang sayang!!",
Blush
Wajah Gita memerah, bisa-bisanya Diega berkata sevulgar itu.
Cup
Gita kembali melotot sambil menatap Dirga tajam.
"Hukuman karena kamu salah memanggilku. Dan setelah kita menikah, jangan harap aku akan melepaskanmu, jika kamu tidak memanggilku, sayang!",
"Ck, semakin kemari. Kamu semakin menyebalkan!!", ucap Gita pura-pura merajuk.
"Tapi kamu cinta, kan??",
Dirga tertawa melihat ekspresi menggemaskan calon istrinya.
"Sudah sore, sebaiknya aku pulang sekarang!!",
"Aku akan mengantarmu!!", Gita mengangguk.
Mereka keluar dari ruangan Dirga bersama sama. Dirga sengaja menggandeng tangan calon istrinya agar semua tahu jika dia sudah ada pawangnya. Melihat bos dan mantan sekertarisnya berjalan bergandengan tangan. Tentu banyak wanita yang patah hati. Ada yang mendoakan, ada pula yang iri.
"Ternyata kamu masih banyak fansnya!", gumam Gita pelan
__ADS_1
"Kau baru tahu?. Seperti itulah pesona seorang Dirga Ibrahim!!",
Gita memutar bola matanya malas, mereka akan menaiki mobil yang sudah ada dipintu lobi. Namun, tiba-tiba ponsel Dirga berbunyi,
"Baiklah, beri perempuan itu sambutan selamat datang!!", Dirga langsung masuk kedalam mobil setelah mematikan telponnya.
"Dari siapa?. Kalau penting, lebih baik aku pulang sendiri saja!", ucap Gita sambil menatap kekasihnya.
"Tidak ada yang lebih penting daripada dirimu!!", Lagi-lagi Gita tersipu mendengar ucapan Dirga.
"Aku suka, kalau wajah kamu memerah!!", ucap Dirga
"Apasih, sayang!!", ucap Gita malu
Dirga tersenyum kemudian melajukan mobilnya.
"Dan aku lebih suka mendengar panggilan sayang darimu!!",
*
*
*
Fajar kembali menyapa, setiap orang kembali dengan aktivitasnya dipagi hari. Begitupun dengan wanita paruh baya yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia tengah menyesap kopi sambil menatap tablet ditangannya.
"Laksanakan sekarang. Jangan sampai gagal!", ucapnya kepada orang diseberang sana.
Tania tersenyum smirk, dia tidak sabar mendengar kabar baik. Perempuan itu beranjak dari duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Selepas membersihkan diri, Tania mengambil tas kemudian keluar dari apartemen Tari. Senyum terus tersungging diwajahnya. Dia berjalan ke basecamp untuk mengambil mobil milik Tari.
"Emh ... lepaskan aku!!", teriaknya saat ada seseorang yang membekapnya dari belakang.
Namun sayang, mereka lebih cepat bergerak. Pria berpakaian hitam-hitam itu membekap mulut Tania dengan lakban lalu memasukkannya dalam mobil.
Tania terus bergerak dan mencoba berontak, tapi semua usahanya hanya sia-sia. Dia hanya perempuan angkuh yang lemah, jelas tidak sebanding dengan para pria tersebut.
Beberapa puluh menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi semakin menjauh dari kota. Entah akan dibawa kemana, yang jelas kiri kanan jalan hanya ada pepohonan besar. Suasana terasa begitu sepi, sepertinya jalan ini menuju hutan.
Tak lama , mobil berhenti disebuah rumah tua. Mereka membawa Tania turun dan menyeretnya masuk kedalam rumah. Perempuan itu dipaksa duduk disebuah kursi tua, tak lupa mereka juga mengikatnya dikursi tersebut. Tania yang kembali berontak, membuat salah satu pria itu marah.
"Kalau kau tidak bisa menurut. Aku akan langsung memasukkanmu ke kandang buaya!!", ucapnya geram. Tania langsung diam seketika. Ia tak mau mati sia-sia dimakan buaya.
Para pria itu meninggalkan Tania seorang diri. Wanita itu tampak lemas, dia terus mengguncang tempat duduknya, berharap dirinya bisa lepas dan kabur dari sana. Sayang seribu sayang, usahanya nihil. Hingga dia merdengar langkah kaki yang semakin mendekat,
__ADS_1
"Selamat datang kembali, nyonya Tania Adiaksa!!",