Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Kehilangan Calon Buah Hati


__ADS_3

"GITA!!!." teriak Dirga, pria itu berlari menghampiri Gita yang tergeletak dilantai. Sementara Danar masih mematung di atas tangga,


"Bertahanlah!!." seru Dirga khawatir.


"S-sakit ... kak!." lirihnya pelan


Danar yang sadar segera menuruni tangga,


"G-gita ... !." ucapnya tertegun melihat Gita tergeletak dengan darah yang terus keluar dari kakinya


"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK!!."


Bug


Satu pukulan Dirga layangkan ke wajah Danar, pria itu tersungkur dengan bibir berdarah. Entah seberapa kuat Dirga memukulnya,


"JIKA SAMPAI TERJADI SESUATU PADA GITA DAN BAYINYA. KAU AKAN KU SERET KEPENJARA KARENA MEMBUNUH ISTRI DAN ANAKMU!!."


Deg


Dirga menggendong Gita lalu membawanya kedalam mobil.


Danar mematung dibawah tangga, pikirannya kalut. Kata-kata Dirga terngiang dikepalanya.


Anaknya, Anaknya, Anaknya


"Hahaha, apa yang sudah aku lakukan?. Aku mencelakai mereka, istri dan anakku!!!."


Danar tertawa, air matanya jatuh seraya menyesali semua perbuatannya. Dia sudah seperti orang gila, tertawa dan menangis secara bersamaan.


"Apa yang sudah aku lakukan?. Lagi-lagi aku menyakitinya. BODOH KAU DANAR, BODOH!!!."


Bug Bug


Danar memukul lantai berkali-kali, dia menyesal. Sungguh menyesal, jika saja emosi tidak menguasainya, semua ini tidak akan terjadi.


"Aku harus melihat keadaannya!!."

__ADS_1


Danar bergegas menyusul Gita kerumah sakit. Pria itu mengambil kunci mobil lalu mengendarai mobilnya dengan cepat.


****


"Suster, Tolong!!!." teriak Dirga


Seorang suster datang sambil membawa brankar. Mereka langsung membawa Gita ke ruang gawat darurat.


"Silahkan tunggu diluar pak!!."


Dirga mengusap ramburnya frustasi. Pria itu bahkan tak menghiraukan bajunya yang berlumuran darah. Rasa khawatir dan cemas membuatnya hampir gila.


Sedari tadi perasaannya begitu resah. Dia terus memikirkan Gita. Karena tak kunjung mereda, Dirga memutuskan pergi kerumah Gita. Sesaat tiba disana, pintu utama terbuka lebar. Dan samar-samar Dirga mendengar suara perdebatan. Pria itu memutuskan masuk kedalam saat mendengar teriakan Gita. Matanya membulat melihat Gita tergeletak beesimbah darah dilantai. Dan yang lebih membuatnya marah karena Danar hanya menatap istrinya dari atas. Pria itu mematung seolah tidak melihat kondisi Gita yang mengenaskan.


Dirga merogoh ponselnya kemudian menghubungi Anisa.


Semoga kamu dan bayimu baik-baik saja Git. Dirga berdoa dalam hati,


Dirga masih menunggu dengan cemas, rasa khawatirnya begitu besar. Baru kemarin dia mengantar Gita kerumah sakit. Hari ini ia kembali membawa Gita kerumah sakit namun dengan konsidi yang lebih serius. Kemarin dokter berpesan agar Gita tidak kelelahan dan stres, tapi Gita malah jatuh dari tangga. Dirga bahkan tidak yakin jika bayi didalam kandungan Gita bisa bertahan.


Dari kejauhan Dirga melihat Danar datang dengan wajah kusutnya. Ingin sekali ia menghajar pria itu, bila perlu sampai Danar mati. Tapi Dirga tak mau membuat masalah, apalagi kondisi Gita masih belum jelas seperti apa.


Saat mereka masih menunggu kabar dari dokter, Anisa datang tergopoh-gopoh, raut khawatir tergambar jelas diwajah paruh bayanya. Wanita itu mendekat ke arah sang putra, kemudian


Plak


"Mama benar-benar kecewa padamu!!!." lirih Anisa,


"Maafkan aku Ma!?." jawab Danar menunduk


"Dua kali Danar, dua kali kau membahayakan nyawanya. Apa salah Gita padamu, hah!!. Kenapa kamu selalu menyakitinya!!."


Danar bergeming, pria itu terdiam dalam tangis. Sungguh dirinya menyesal saat ini.


"Mama tak habis pikir denganmu. Mama kira kamu sudah benar-benar menerima Gita sebagai istrimu, mama kira kamu tulus menyayanginya. Tapi apa?. Kamu bahkan membahayakan nyawa istri dan calon anakmu. Suami macam apa kamu ini?. Jika terjadi pada mereka, mama tidak akan memaafkanmu!!."


Danar terkesiap, apalagi Anisa berbicara dengan tegas dan serius. Pria itu hanya bisa menunduk dengan rasa bersalah yang teramat dalam.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka menunggu, dokter keluar dari ruangan gawat darurat


"Bagaimana keadaannya, dok?!." tanya Anisa cemas. Dirga ikut mendekat sementara Danar masih terpaku ditempatnya. Pria itu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon bayinya.


"Beruntung pasien segera dibawa kemari. Kami berhasil menghentikan pendarah pasien. Tapi mohon maaf, kami terpaksa melakukan tindakan kuret akibat pendarahan hebat yang pasien alami. Apalagi janin usia dua minggu memang sulit bertahan jika mengalami guncangan keras. !!."


Deg


Anisa tak bisa menahan tangisannya, cucu yang selama ini ia nantikan telah pergi.


"Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa menjenguknya!."


"Terima kasih, dok!."


"Kalau begitu saya permisi!."


Anisa dan Dirga segera berjalan ke ruangan Gita. Meninggalkan Danar yang masih diam ditempatnya.


Pintu kamar dibuka, terlihat Gita berbaring diatas ranjang. Mereka mendekati wanita yang terbaring lemah tersebut. Matanya terbuka, namun pandangannya kosong, tak jarang air mata mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Git ... !." panggil Anisa lirih


Menantunya itu hanya bergeming, hal itu membuat Anisa bertambah sedih. Bukan sekali dua kali Danar menyakiti Gita. Bahkan kali ini sampai membuat Gita kehilangan anaknya. Jikalau Gita akan menyerah, Anisa ikhlas melepas menantunya. Dia harus membuang ego demi kebahagiaan Gita yang nyatanya, Danar tak bisa memberikannya.


"Aku ingin sendiri!." liihnya pilu, Anisa hanya bisa meneteskan air mata. Ia memilih keluar dari kamar rawat Gita. Sementara Dirga masih berdiri didekat wanita itu. Jujur, hati Dirga perih melihat Gita seperti ini. Wajah cantiknya terlihat pucat sekali, air mata masih mengalir dipipinya sementara matanya menatap kedepan tanpa arti.


"Git ... !." panggil Dirga


Perempuan itu bergeming, dia masih memunggungi bosnya tersebut.


"Semua ini yang terbaik untukmu. Percayalah, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian. Mungkin Allah ingin kau memperbaiki dulu hubunganmu dengan Danar!!."


"Tidak ada yang harus diperbaiki, tapi di akhiri!." lirih Gita


Deg


Danar terkesiap mendengar ucapan istrinya. Perempuan itu mungkin akan benar-benar menyerah kali ini. Ingin sekali ia masuk dan memeluk Gita. Namun Danar sadar kesalahannya begitu fatal kali ini. Secara tidak langsung, dirinyalah yang menyebabkan calon anaknya pergi.

__ADS_1


"Kali ini, Mama mohon lepaskan dia!."


Deg


__ADS_2