
Bug
Dirga meringis terkena pukulan dari Danar. Tapi hal itu tak membuatnya takut. Dia malah terlihat semakin santai.
"Apa yang kamu lakukan, Danar!", tanya Gita. Dia membantu Dirga berdiri. Dan itu membuat Danar semakin emosi.
"Jadi benar dugaanku, kaulah dibalik semua ini!!", geram Danar. Pria itu nampak murka, wajahnya terlihat memerah dengan dada naik turun.
"Aku hanya membantu Gita. Apa yang salah dengan hal itu. Lagipula, kau sudah menyakiti Gita berulang kali. Jadi wajar jika sekarang dia menyerah!", jawab Dirga sinis
"Cih, omong kosong. Aku sangat yakin kau mempengaruhi istriku. Kau pikir kau sudah menang?. Ini belum selesai Dirga!!",
"Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan Dirga. Dan aku mohon, jangan membuat keributan lagi!!", ujar Gita
Dirga tersenyum tipis, senyuman yang terkesan mengejek ke arah Danar.
"Kalau begitu, segeralah masuk. Kau akan dengar sendiri keputusan hakim!!", ucap Dirga dengan santai
Danar semakin emosi, dia mendekat kemudian menarik kerah kemeja milik Dirga.
"Bajingan!!!. Sejak awal aku sudah curiga padamu. Kau berhasil menghasut istriku untuk bercerai denganku. Kau licik, Dirga. Kau licik karena menginginkan istri orang!!", ucap suami Gita dengan geram.
"Inilah salah satu alasanku meminta cerai darimu, Danar. Kau selalu menyimpulkan masalah dari pandanganmu sendiri. Kau orang yang emosional. Bahkan kau tidak mempercayai ucapan istri sendiri!", lirih Gita
Danar hanya mampu menghela nafas kasar mendengar kalimat yang istrinya ucapkan.
"Pak Danar, kita harus segera masuk untuk mendengar putusan hakim!", ucap pengacara Danar
"Urusan kita belum selesai, aku akan membuat perhitungan denganmu!!",
Danar kembali menghela nafas kasar, seharusnya dia tidak menyetujui perceraian ini begitu saja. Dia belum rela kehilangan Gita, apalagi jika melihat Gita bersanding dengan rivalnya itu.
__ADS_1
Kini Danar sudah duduk didepan hakim bersama pengacaranya. Tak lama Gita juga datang bersama pengacaranya.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Saya akan membacakan putusan dari gugatan perceraian saudari Anggita Geavina dengan saudara Danar Adiaksa!",
Danar memejamkan mata. Sudah siapkah dia kehilangan istri pertamanya itu?.
"Maaf Pak Hakim yang terhormat. Apa saya bisa mengajukan mediasi ulang?", tanya Danar. Hal itu membuat Hakim juga pengacaranya menatap Danar heran.
"Maaf pak Danar, bukankah mediasi sudah dilakukan?. Kita juga sudah melaksanakan prosedur sesuai dengan ketentuan. Melewati beberapa tahapan hingga sampai di tahap akhir. Juga sudah mendengar jawaban penggugat dan dari anda sendiri. Bukankah ibu Gita dan anda sudah setuju untuk berpisah. Apa yang membuat anda berubah pikiran?. tanya hakim
"Waktu itu saya terpaksa menyepakatinya pak hakim. Itu bukan murni kemauan saya!", ucap Danar. Hakim terlihat menghela nafas
"Danar!!!. Tolong jangan membuat masalah. Kita sudah sepakat untuk bercerai. Jadi, jangan egois. Aku harap, kamu tidak mengacaukan semuanya!!", ucap Gita tegas
Danar menatap Gita yang terlihat begitu emosi. Sepertinya, wanita itu begitu tidak sabar untuk berpisah dengannya. Sungguh, hati Danar tidak terima. Setelah situasi mulai tenang. Hakim mulai membacakan putusan sidang.
"Berdasarkan gugatan dari saudara Anggita Geavina dan dilakukannya prosedur sesuai aturan yang berlaku. Juga menimbang dari beberapa jawaban penggugat maupun tergugat. Maka dengan ini, pengadilan mengabulkan gugatan saudari Anggita. Dan mulai saat ini saudara Danar Adiaksa dengan saudari Anggita Geavina resmi bercerai!!",
Danar memejamkan mata, dadanya terasa sesak. Inilah akhir dari rumah tangganya dengan Gita. Dengan berat hati, Danar mentalak istrinya. Kini, semua sudah berakhir dan Gita bukan istrinya lagi. Hakim keluar dari ruangan sidang begitupun dengan pengacaranya.
Gita bernafas lega, dan seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Aku belum menyerah Git. Tidak apa kita bercerai sekarang. Aku pastikan, suatu hari nanti, kamu akan kembali padaku!", ucap Danar saat melihat Gita hendak keluar dari ruang sidang
"Dan aku juga pastikan, hal itu tidak akan pernah terjadi!", jawab Gita dengan tegas.
"Kenapa?. Apa karena kamu sudah menyukai pria bajingan itu?!", tanya Danar menyelidik. Gita menjadi geram mendengar ucapan mantan suaminya.
"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri, Danar. Kamulah yang membuatku memilih langkah ini!. Aku ini hanya manusia biasa. Kesabaranmu memiliki batas!. Kamu fikir, aku bisa bertahan mendapat perlakuan menyakitkan terus-menerus?. Kamu pikir, aku tidak sakit melihatmu selalu bersama maduku. Kamu memperlakukan kami dengan tidak adil. Kamu memanjakan Tari dan menyakiti aku. Kamu memuji Tari dan menghinaku. Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku Danar. Aku sakit, aku kecewa, aku iri melihat betapa bahagianya Tari. Aku selalu berandai-andai jika suatu saat kamu juga bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Tari. Aku bahagia ketika kamu mulai menerimaku, aku memiliki mimpi yang besar akan rumah tangga kita. Tapi apa yang aku dapatkan?. Kembali dikecewakan!!", ujar Gita dengan menggebu. Danar menatap mantan istrinya dengan mata berkaca-kaca. Dia baru sadar telah menyakiti Gita begitu dalam. "Aku sudah terlanjur sakit hati, hidupku sudah hancur sejak kamu menyangkal bayimu sendiri. Apa salah jika aku membencimu?", Danar hanya bisa mematung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena pada dasarnya, apa yang Gita katakan semuanya benar. "Dan yang membuatku semakin membecimu. Karena kau membunuh anakku!", ucap Gita dengan tatapan tajamnya. Setelah mengutarakan semua isi hatinya, Gita pergi begitu saja.
Danar menatap kepergian mantan istrinya dengan tatapan sendu. Danar tahu dia bersalah. Bukankah manusia tempatnya salah. Dan kesalahan berhak mendapatkan maaf. Begitupun dengan kesempatan kedua.
__ADS_1
Sementara, Gita kini sudah berada didalam mobil Dirga.
"Kalian pasti habis berdebat!", tebak Dirga
Gita menoleh pada pria disampingnya.
"Aku hanya tak habis fikir. Kenapa Danar begitu egois!",
"Sudahlah, biarkan saja dia. Sekarang kamu sudah tidak memiliki hubungan dengannya lagi. Kamu harus memulai hidup baru dengan tenang. Ingat, jangan pernah merasa sendiri. Karena kamu masih memiliki orang-orang yang peduli juga menyayangimu!", ucap Dirga lembut.
Gita tersenyum, Dirga memang pria yang baik. Dia membantunya tanpa pamrih. Walau dirinya belum bisa membalas perasaannya. Tapi Dirga sama sekali tak menuntut apapun.
"Kau yakin akan pergi nanti sore?", tanya Dirga memastikan
"Hm, aku harus segera kembali. Lebih cepat aky kembali, akan lebih cepat pula aku memulai semuanya dari awal!",
Dirga sebenarnya kecewa, namun apa mau dikata jika itulah keputusan Gita. Dia hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuknya.
"Em. Sebelum pergi, bisakah kamu mengantarku menemui mama Anisa?. Aku ingin berpamitan dengannya!", Dirga mengangguk. Dia melajukan mobilnya ke kantor Anisa.
*
Setelah berpamitan dengan Anisa dan Julian. Dirga mengantar Gita ke bandar. Kali ini dia tak tahu kapan akan bertemu dengan Gita kembali. Dirga harus menepati janjinya untuk tidak mengunjungi wanita itu. Dia hanya bisa berdoa semoga Gita tidak menahannya terlalu lama untuk bertemu dengannya.
****
Tari tak melepas senyum bahagianya. Dia baru saja menerima kabar jika Danar telah resmi bercerai dengan Gita. Akhirnya, setelah menunggu empat bulan lamanya. Mereka resmi bercerai dan kini. Dialah satu-satunya istri Danar.
"Akhirnya, Danar hanya akan menjadi milikku. Aku senang sekali!!", ujarnya bahagia
"Aku akan menerimamu sebagai menantuku!",
__ADS_1
Deg