
"APA?", Anisa ikut panik. Dia segera menyusul Danar ke kamar. Terlihat Anya meringis sambil memegang pinggiran ranjang. Anisa langsung memanggil sopir untuk membantunya membawa Anya ke mobil karena kondisi Danar yang belum memungkinkan untuk membopong istrinya.
"Sayang, tahan sebentar. Kalau sakit, kamu boleh meremas tanganku!."
"Tarik nafas lalu buang. Itu akan mengurangi rasa sakitmu, Nak!!."
Anisa dan Danar sama-sama panik namun berusaha tetap tenang sampai mereka tiba dirumah sakit. Anya segera dibawa ke ruang bersalin. Dokter segera mengecek pembukaannya yang ternyata masih pembukaan lima.
"Kalau masih kuat, bisa berjalan-jalan kecil untuk mempercepat pembukaannya!", Anya tersenyum mendengar saran dokter tapi tidak dengan Danar. Wajahnya tampak tak bersahabat. Bagaimana bisa dokter menyuruh istrinya jalan-jalan padahal terlihat sekali Anya begitu kesakitan.
"Istri saya kesakitan, tapi dokter menyuruhnya jalan-jalan? Dokter yang benar saja!!," ucap Danar ketus.
Anya menyenggol lengan suaminya, merasa tidak enak dengan ucapan Danar. Tapi dokter bukannya marah, malah tersenyum.
"Tidak apa, Bu. Banyak yang seperti suami ibu kok!."
Anya turun dari ranjang, dia meminta Danar membantunya berjalan-jalan di depan ruang bersalin. Dengan helaan nafas panjang, akhirnya Danar menuruti keinginan sang istri.
"Masih pembukaan berapa?," tanya Anisa
"Masih lima, Ma!."
"Ya sudah, dibawa jalan-jalan saja. Biar lebih cepat nambah pembukaannya!."
Danar memberenggut, "Mama sama saja dengan dokter!!."
Anisa malah tertawa, "Memang seperti itu kalau melahirkan, Danar. Kamu jangan bawel. Temani Anya saja. Anak kalian tidak lama lagi akan lahir. Mama sudah tidak sabar melihat cucu Mama yang cantik!."
Danar tetap setia menemani Anya. Hingga rasa sakit semakin menyerangnya semakin sering.
"Sepertinya sudah mau lahir. Sebaiknya kalian masuk, biar dokter memeriksa Anya lagi!"
Danar segera membawa istrinya keruang bersalin. Setelah diperiksa, dokter mengatakan jika pembukaan sudah lengkap.
"Bu, ikuti arahan saya, ya. Tarik nafas lalu buang!"
Anya mengikuti arahan dokter dengan baik. Danar hanya bisa berdoa dalam hati melihat perjuangan istrinya melahirkan buah cinta mereka. Hingga setengah jam berlalu, suara tangisan pecah memenuhi ruangan.
"Selamat, Bu. Anaknya perempuan. Dia sempurna tanpa kekurangan satu apapun!."
__ADS_1
Anya menangis haru begitupun dengan Danar. Sekarang dia sudah menjadi seorang ayah. Memiliki anak seperti yang dia impikan sejak dulu.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan anak kita. Aku mencintaimu!."
Dokter membersihkan bayi perempuan itu. Kemudian menaruhnya didada Anya. Matanya mengerjap pelan,
"Anak bunda!."
"Dia cantik seperti kamu, aku akan memberinya nama Almera Khanza Adiaksa!" Anya tersenyum mendengar nama pemberian sang suami pada putrinya.
Setelah beberapa saat berada didada sang ibu. Suster meminta ayahnya untuk mengadzani bayi mungil tersebut. Danar dengan pelan mengadzankan dan membacakan iqomat ditelinga putrinya. Perasaannya menghangat, dia sungguh terharu luar biasa.
Terima kasih sudah hadir didunia ini, sayang. Ayah menyayangimu.
"Bu, saya akan membersihkan ibu dulu. Bayinya akan kami baya keruang bayi!."
Danar mengangguk, dia masih setia menemani Anya hingga perempuan itu selesai dibersihkan.
Diluar ruangan, Anisa yang melihat suster membawa cucunya begitu terharu.
"Cucu saya cantik sekali, ya sus!."
"Benar, Bu. Nanti ibu bisa menggendongnya setelah ibunya dibersihkan. Sekarang saya akan membawanya keruang bayi dulu!."
Anisa mengangguk, dia kembali duduk dikuris tunggu seraya menunggu Anya dipindahkan ke ruang perawatan.
Anya sudah berada diruang perawatan, ditemani Danar dan Anisa.
"Kenapa suster lama sekali, ya!." ucap Anya. Entah kenapa dia begitu gelisah.
"Sabar, sayang. Suster sedang mengambil dan akan membawa anak kita kemari!."
Anisa yang sudah tidak sabar menggendong cucunya segera keluar dari ruangan Anya. Dia berjalan menuju ruangan bayi. Namun zat tiba disana, dia melihat beberapa suster juga dokter terlihat panik.
"Bagaimana bisa terjadi. Bagaimana suster tidak tahu ada orang yang masuk kemari?."
Suster tampak menunduk, melihat itu Anisa yang penasaran segera bertanya, "Ada apa dok? Oh ya, dimana bayinya ibu Anya!"
Dokter dan suster tampak saling menatap, membuat Anisa curiga, "Ada apa sebenarnya?."
__ADS_1
"Maafkan kami, Bu. Bayi ibu Anya hilang!."
"APA? BAGAIMANA BISA?. BAGAIMANA BISA CUCUKU HILANG?."
Seketika rumah sakit menjadi gaduh. Kabar hilangnya seorang bayi membuat gempar rumah sakit.
Anya yang mendengar bayinya hilang langsung tak sadarkan diri. Sedangkan Danar langsung melakukan pencarian dan menyuruh beberapa anak buahnya mencari bayinya.
Anisa hanya bisa menangisi nasib cucunya yang kini entah dimana. Siapa yang tega menculik bayi tak berdosa itu.
Danar menatap istrinya dengan sendu, dia masih ingat bagaimana histerisnya Anya mengingat bayi yang baru dilahirkannya beberapa jam yang lalu itu.
Sekali lagi, Allah memberiku karma yang menyakitkan. Dimana kamu, Nak. Semoga ayah segera menemukanmu dan kita bisa berkumpul lagi. Ayah menyayangimu,
Tania tertawa, dia berhasil membawa pergi anak Danar dan Anya.
Kalian pasti hidup menderita tanpa anak ini. Sekarang, semuanya sudah impas.
Tania menjalankan mobilnya keluar kota. Dia membawa anak Danar yang masih menangis Di sebelahnya. Tania seolah tuli, dia membiarkan bayi itu terus menangis.
"Diamlah, kamu berisik sekali!!."
Tania geram mendengar tangis bayi Danar yang tak henti-henti. Dia menarik bayi itu, bersamaan dengan itu, dari arah berlawanan truk melaju dengan kencang. Tabrakan tak terhindarkan. Mobil Tania seketika ringsek tertabrak truk tersebut. Beberapa orang langsung membantu mengeluarkan tubuh hancur Tania dari dalam mobil.
"Wanita ini meninggal ditempat!."
"Ada bayi didalam mobil, sepertinya dia selamat. Kita bawa ke kantor polisi!."
Tak lama polisi datang, mereka membawa jazad Tania yang tak berbentuk kerumah sakit. Polisi juga membawa bayi mungil itu ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan. Dan beruntung, bayi itu baik-baik saja.
Setelah mendapat perawatan selama dua hari, bayi itu diperbolehkan pulang. Polisi membawanya ke kantor dan merawatnya disana. Mereka berharap ada kerabat yang mencari bayi tersebut. Namun nyatanya, berhari-hari tidak ada yang mencari, akhirnya mereka sepakat membawanya ke panti asuhan.
"Jadi, bayi ini korban kecelakaan?."
"Benar, Bu. Sebaiknya dia dirawat sini, siapa tahu suatu saat ada yang mau mengadopsinya!."
Ibu panti menerimanya dengan tangan terbuka.
"Kamu cantik sekali, Nak. Ibu akan memberimu nama Salsabila!."
__ADS_1