
"Sepertinya, prince sudah mau lounching!!."
Dirga dan Januar sama-sama tercengang, masih belum sadar dengan perkataan Gita. Hingga remasan dilengannya membuat Dirga sadar jika istrinya tengah kesakitan.
"Sayang, k-kamu mau melahirkan?."
Gita mengangguk pelan, Dirga yang baru sadar langsung berlari ke kamar. Mengambil tas yang berisi peralatan bayinya.
"Pak Una, siapkan mobil!!," teriaknya panik. Januar hanya mampu berdoa ditengah ketidakberdayaannya. Dirga langsung membopong tubuh Gita dan berlari menuju mobil.
"Kerumah sakit, Pak. Cepetan!!."
Sopirnya mengangguk, langsung menjalankan mobil. Jarak rumah ke rumah sakit yang lumayan jauh membuat Dirga semakin panik.
"Pak, cepetan sedikit!."
Pak Una menambah kecepatan mobilnya. Berusaha tenang walau panik luar biasa. Bukan hanya karena mendengar rintihan Gita, namun juga ketakutan karena biasanya dia tidak pernah menyetir diatas kecepatan rata-rata.
Hampir setengah jam, akhirnya mereka tiba dirumah sakit. "Pak, tolong bawakan tasnya!," Dirga segera menggendong istrinya masuk kedalam. "Suster, istri saya mau melahirkan!."
Seorang suster datang dengan membawa brangkar. Setelahnya, Gita langsung dibawa keruang bersalin. Dokter pun datang tak lama setelah Gita masuk, "Masih pembukaan enam. Kalau masih kuat, bisa dibawa jalan-jalan kecil biar pembukaannya cepat naik. Kalau tidak kuat, bisa miring saja. Saya akan periksa satu setengah jam lagi!."
Gita mengambil nafas lalu menghembuskannya. "Sakit banget, ya?," tanya Dirga lirih. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti ini. Peluh membasahi wajah cantiknya. Dan sesekali ekspresi istrinya berubah kesakitan.
"Sedikit, kok. Jangan terlalu cemas. Aku justru menikmati momen ini. Momen yang pasti dirasakan seorang wanita saat akan melahirkan anaknya!."
Dirga mengusap kening istrinya, berusaha ikut tenang seperti Gita. Walau hatinya cemas luar biasa.
"Masih kuat?," pertanyaan Dirga muncul karena Gita berusaha bangkit dari ranjang. Perempuan itu mengangguk, dengan sigap Dirga membatu sang istri, kemudian menemaninya jalan - Jalan ringan didepan ruang bersalin.
"Kalau sakit, masuk saja ya. Baring miring seperti kata dokter!." Gita tersenyum, lalu mengangguk.
__ADS_1
Rasa mulas kembali datang, dan semakin lama semakin sering. Remasan ditangan Dirga juga semakin kencang kala dia merasakan sakit itu kembali menyerang. Inilah kenapa kita harus hormat pada ibu. Perjuangannya melahirkan tentu bertaruh nyawa. Bahkan tak sedikit dari kaum wanita yang berakhir meregang nyawa demi lahirnya nyawa baru.
Gita mendesis, "Masuk saja, Mas!." Dirga dengan sigap menuntun istrinya dan kembali naik ke atas ranjang. Dokter kembali memeriksa Gita setelah setengah jam berlalu. "Sudah sempurna. Pasien siap melahirkan!.".
Beberapa peralatan sudah siap. Suster juga datang untuk membantu proses persalinan penerus keluarga Ibrahim itu. "Ikuti arahan saya ya bu. Tari nafas lalu buang!."
Gita hanya mengangguk lalu melakukan perintah dokter, rasa sakit yang luar biasa membuatnya hanya fokus dengan apa yang dokter katakan. Tulang-tulangnya terasa remuk redam, bahkan untuk bernafas saja seolah kesulitan.
"Tarik nafas, dorong!"
"Oke, tarik nafas panjang, lalu buang. Istriahat sebentar!!."
Dirga terus menggenggam tangan sang istri. Melantunkan doa yang tak habis didalam hati. Jantungnya berpacu dengan cepat kala melihat sang istri mengerang menahan sakit yang tertahan.
"Tarik nafas, dorong!!."
Hampir setengah jam, namun bayinya belum juga mau keluar. Dirga semakin tak tega melihat Gita yang sudah kehabisan tenaga. "Sayang, operasi saja ya!," bujuknya. Namun Gita menggeleng, "Aku pasti bisa!." Dokter tersenyum melihat Gita yang masih semangat melahirkan anaknya.
Gita melakukan perintah dokter, dan akhirnya, tangisan melengking menggema diseluruh ruangan. Ya, bayi mereka sudah lahir. Anak yang Gita kandung selama sembilan bulan sudah bisa melihat dunia.
"Selamat, bayinya laki-laki. Dia sempurna tanpa kekurangan apapun!!.".
Gita menangis haru, begitupun dengan Dirga. "Terima kasih, sayang. Kamu hebat, kamu wanita yang hebat. Terima kasih sudah mau bertaruh nyawa demi anak kita!!."
Gita mengangguk lemah, tak lama suster datang dan meletakkannya bayi mungil itu didada ibunya. Gita terharu, beginikah rasanya menjadi seorang ibu. Hatinya menghangat kala bayi itu mulai mengerjap dan mencari makanannya.
"Dia duplikatku!."
Dirga tersenyum melihat bayinya yang 100% mirip dirinya itu. Bayi murah itu berhasil meraih makanannya dan dengan lahap menyesap asi ibunya walau airnya mungkin masih belum keluar.
Setelah inisiasi menyusui dini selesai dilakukan. Suster mengambil lagi bayi itu, lalu menyerahkannya pada Dirga.
__ADS_1
"Selama saya membersihkan ibunya. Ayahnya bisa mengadzani dulu bayinya!."
Dirga menerima bayinya dengan tangan yang sedikit bergetar. Dia takut menyakiti tubuh rapuh bayi mungil tersebut. Namun setelah mendapat arahan dari suster, dia akhirnya benar-benar menggendong anaknya. Setetes air mata lolos begitu saya saat bayi itu membuka mata. Perasaan bahagia menyelimuti hati Dirga. Dengan pelan, dia melantunkan adzan juga iqomah di kedua telinga putranya.
"Selamat datang, didunia anakku. Ayah dan bunda menyeyangimu!."
*
*
Gita sudah berada di ruang perawatan. Dia sudah bersih dan kini masih sibuk memandang lekat wajah bayi tampannya. Dirga yang melihat momen itu tentu saja terharu sekaligus bahagia. Sekarang, dia punya satu tanggung jawab lagi, putranya.
"Sayang, istirahatlah. Aku yang akan menjaga anak kita!."
Gita mengangguk, dia mulai memejamkan mata. Namun beberapa saat kemudian, dia kembali membuka mata.
"Kenapa?"
"Kamu belum memberi nama anak kita!!."
Dirga memberikan seulas senyum, "Atharrazka Ibrahim, yang artinya keberuntungan dan rezeki yang baik!."
Gita tersenyum, "Nama yang bagus. Kita akan memanggilnya, baby Azka!."
*
*
Cerita ini hampir End ya kakak.
Rencananya aku mau buat kelanjutan ceritanya di judul yang berbeda. Kira-kira, cerita seperti apa yang kalian inginkan??
__ADS_1