
"Gita sudah mengajukan gugatan cerai. Selamat, kau akhirnya akan bahagia dengan kekasihmu itu!", Anisa kembali melangkah pergi.
Kaki Danar melemas, tubuhnya terasa tak memiliki tenaga. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. Gita sudah mengajukan gugatan cerai. Dan mereka akan segera berpisah.
Dengan langkah gontai, Danar pergi meninggalkan rumah Anisa. Dia mengendarai mobilnya dengan pikiran tak karuan. Penyesalan telah mengisi hatinya. Benar kata pepatah, penyesalan selalu terjadi belakangan. Dan kini, dirinya merasakan hal itu.
Ponselnya lagi-lagi berbunyi namun Danar tak menghiraukannya sama sekali. Pikirannya masih tertuju pada Gita. Bayangan Gita berguling ditangga hingga jatuh dilantai dasar kembali mengisi kepalanya, apalagi banyak darah yang keluar dari tubuh wanita itu. Danar mengingat semuanya dengan jelas. Bagaimana Gita merintih menahan sakit hingga harus kehilangan anak mereka.
Tanpa sadar pria itu menangis, dia menyesali semua perbuatannya. Tidak hanya kehilangan anak, sebentar lagi dia akan kehilangan Gita juga.
Danar menatap bangunan berlantai dua, rumah yang dibelikan Anisa sebagai hadiah pernikahannya dengan Gita. Pria itu tersenyum miris mengingat semua perbuatannya pada istri pertamanya itu.
*Aku hanya mencintai Tari.
Sampai matipun, aku tidak sudi memiliki anak darimu.
Akan aku tunjukkan, siapa yang aku inginkan.
Siapa ayah dari bayimu.
Bayi itu bukan anakku*.
Kepingan kata-kata menyakitkan yang dia ucapkan pada Gita kembali terngiang. Danar baru menyadari jika dirinya begitu kejam.
"Maafkan aku Git, maafkan aku. Aku menyesal!", ucapnya menangis meraung.
Entah berapa lama Danar menangis didalam mobil. Dia terus mengingat semua perbuatan jahatnya pada sang istri. Tepat pukul 23.00 Danar turun dari mobil, dia melangkah masuk dengan mata yang menatap sekeliling rumahnya. Danar ingat betul, bagaimana ekspresi bahagia Gita ketika pertama kali menginjakkan kaki kerumah ini. Juga ekspresi kecewanya karena Danar meninggalkannya tepat dimalam pernikaham mereka.
__ADS_1
"Mas, akhirnya kamu pulang!",
Danar menatap Tari, perempuan itu memeluknya. Namun Danar enggan membalas pelukan istri keduanya.
"Mas, kamu baik-baik saja kan?", tanyanya khawatir. Tari memperhatikan Danar dengan seksama.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telponku?", tanyanya lagi
"Mas, jawab!", ucap Tari dengan sedikit berteriak.
"Aku lelah, pulanglah ke apartemen!.", Danar melangkah masuk tanpa menghiraukan Tari
"Apa kamu memikirkan Gita?", Danar langsung menghentikan langkahnya, "Dia pasti ... !",
"Berhenti menghasutku Tari", potong Danar cepat, "Gara-gara hasutanmu, aku jadi gelap mata. Aku menuduh Gita seperti yang kau katakan. Aku bahkan harus kehilangan anakku!!", bentak Danar
"Kenapa kamu menyalahkan aku?. Aku kan mengatakan yang sebenarnya!!", bela Tari tak terima
"Tapi semua yang kamu tuduhkan tidak benar. Kamu hanya menfitnah Gita, dan hasil dari fitnahmu itu, aku harus kehilangan anak dan istriku!",
Wajah Tari memerah, dia semakin kesal karena Danar terus menyalahkannya.
"Aku juga istrimu, jangan lupa hal itu. Lagipula, aku bisa menjadi istri yang lebih baik daripada Gita. Jika dia memilih meninggalkanmu, masih ada aku!", jawab Tari dengan santainya.
Danar tak menghiraukan Tari lagi, dia memilih masuk kedalam kamarnya. Lebih tepatnya, kamarnya dengan Gita. Masih tergambar jelas, kehangatan yang pernah mereka lewati bersama. Hati Danar seperti teriris menyadari kenyataan bahwa dia akan segera kehilangan perempuan itu.
Danar merasakan sentuhan tangan yang hangat. Pria itu memejamkan mata merasakan belaian di dadanya.
__ADS_1
"Mas, sudah lama kita tidak menghabiskan malam bersama!",
Deg
Suata itu bukan suara Gita. Danar langsung menghentikan tangan Tari yang masih meraba dadanya.
"Kenapa?", tanya Tari heran. Karena biasanya Danar selalu menyukai sentuhannya
"Aku mau mandi!", sahut Danar datar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Tari menghentakkan kakinya kesal, baru kali ini Danar menolaknya. Tidak patah semangat, Tari mengikuti Danar ke kamar mandi. Perempuan itu berjalan dengan pelan namun pasti.
Klek
Danar terlihat tengah mengguyur tubuhnya dibawah shower. Pria itu tak tahu jika Tari menyusulnya masuk kedalam kamar mandi. Tari melepas pakaiannya kemudian memeluk Danar dengan erat.
"Alu merindukanmu!", bisik Tari manja
Danar hanya bergeming. Pikirannya masih tertuju pada Gita. Tari yang melihat tak ada respon dari suaminya tak tinggal diam. Dia mencium Danar dengan rakus. Sebagai pria normal, tentu Danar tergoda. Dia merengkuh pinggang istrinya kemudian mulai menyatukan diri.
"Mas, pelan!", pinta Tari. Tapi Danar tak menghiraukannya, dia bermain dengan kasar. Hingga erangan panjang menandakan jika Danar telah mencapai puncak. Setelah itu, dia membersihkan diri lalu keluar kamar mandi tanpa menoleh pada Tari yang masih kesakitan.
Semua gara-gara wanita sialan itu. Aku jadi kena imbasnya. Mas Danar berubah kasar padaku. Semoga perempuan itu tak pernah kembali lagi agar Mas Danar menjadi milikku seorang. Bathin Tari
Danar memakai pakaiannya lalu merebahkan diri di ranjang. Dia menatap sisi ranjang disebelahnya. Tempat dimana Gita biasanya tidur. Bayangan senyuman manisnya, pipi meronanya bahkan suara lembutnya menari-nari diingatan Danar.
"Aku merindukanmu Git, sangat merindukanmu!",
__ADS_1