
"Jangan lupa jika putrimu adalah menantuku. Kau tahu, aku dan putraku menginginkan seorang bayi. Jika putrimu tidak bisa memberikannya. Aku pastikan putraku akan memiliki anak dari wanita lain!!", ucap Anisa tegas
Tania dan Agung terkesiap mendengar ucapan Anisa.
"Bagaimana bisa kamu berkata demikian?. Apa kamu tidak memikirkan perasaan putriku jika dia mendengar ucapanmu?!!", tanya Tania geram
Anisa lagi-lagi menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Aku hanya mengatakan fakta. Kau tahu betul, seorang suami yang sudah memiliki anak dan istri pun bisa mendua. Apalagi yang belum memiliki anak. Dan aku rasa tidak masalah jika nantinya Danar memiliki anak dari perempuan lain. Kami butuh keturunan untuk meneruskan perusahaan kami, sedangkan sampai saat ini, putrinya belum bisa memberikan itu!!", Agung hanya menunduk karena sepertinya, Anisa menyindir dirinya secara halus.
Tania tak bisa menyembunyikan raut wajah marahnya. "Kenapa kau hanya menyalahkan putriku. Bisa saja putramu yang bermasalah!!",
Anisa tersenyum sinis, "Buktinya Gita bisa hamil!, ucap Anisa yakin. "Ah, mungkin kau lupa. Gita itu mantan menantu kesayanganku, gadis baik yang disia-siakan putraku karena memilih wanita yang salah!!",
"Apa maksudmu berkata seperti itu?. Kau ingin mengatakan putramu salah karena menikahi Tari, begitu??",
Anisa mengangguk mantap. "Sejak awal memang begitu kan?. Aku menolak Tari sebagai menantuku, aku tidak merestui mereka. Tapi apa yang Tari lakukan?. Dia memakai cara yang sama sepertimu dulu. Menghalal segala cara untuk mendapatkan apa yang dia incar. Bahkan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya pada pria beristri. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau mewariskan sikap perebutmu pada Tari. Dan aku akui, sikap jahat putraku diturunkan oleh pria b*eng*ek disampingmu. Kalian pasangan yang saling melengkapi, bukan?!!",
Agung menatap mata hitam milik mantan istrinya. Sebesar itukah kemarahan Anisa padanya?. Ya walaupun Agung akui, dirinya memang salah.
"Tari dan Danar adalah sepasang kekasih, sama seperti kami. Apa yang salah jika dua orang yang saling mencintai, memperjuangkan cinta mereka. Kau pasti paham maksudku!!", Tania menyeringai. Sedangkan Agung hanya membisu. Pertemuannya dengan mantan istrinya membuatnya canggung. Ditambah sekarang, istri dan mantan istrinya tengah berdebat sengit. Agung tak mau menambah masalah diantara keduanya. Apalagi, beberapa orang mulai memperhatikan mereka.
"Hahaha, selamat atas cinta kalian. Tapi jangan lupa kalau karma itu ada. Kau tidak takut kan, kalau putrimu dicampakkan begitu saja oleh putraku?. Apalagi jika memang putrimu tidak bisa memberikan Danar keturunan!!",
Deg
Tania membeku, ucapan Anisa seolah menjadi tamparan bagi dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tari?. Benarkah Tari mengalami kesulitan atau masalah kesuburan hingga dia tak kunjung hamil?.
Sementara dipikiran Agung. Dia teringat wanita yang Danar nodai. Apakah semua ini memang takdir?. Apakah Tari memang ditakdirkan untuk tidak mengandung anak Danar dan Danar akan mendapatkan anak dari perempuan lain seperti yang dikatakan Anisa. Felling seorang ibu memang kuat. Bahkan Anisa yang tak tahu masalah di klub, dengan gamblang mengatakan hal demikian. Bisa saja perempuan itu tidak hamil, mereka hanya melakukannya satu kali. Tapi juga tak menutup kemungkinan jika bibit Danar akan berkembang dirahim perempuan itu. Entahlah, Agung tak bisa menebak takdir yang akan terjadi pada hidup putranya. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
"Kenapa diam?. Kau baru menyadari kalau ucapanku itu benar?. Dengar Tania, apapun yang kita tanam, itu yang kita tuai. Kau dengan bangga merebut seorang suami juga seorang ayah dari istri dan anaknya. Kau lupa jika putrimu juga seorang perempuan. Dengan percaya diri kau mendorong putrimu untuk mengikuti jejakmu itu. Sesuatu yang bukan milik kita tidak akan bertahan lama. Kenapa kau tidak berfikir jika perbuatanmu dimasa lalu akan berbalik menyerang putri kesayanganmu. Aku peringatkan padamu, berhenti bersikap angkuh dan sombong. Tidak perlu berbangga diri dengan semua yang kau peroleh dari merebut hak orang lain!!",
Anisa benar-benar meninggalkan mantan madu dan suaminya. Supir sudah menunggu dan perempuan paruh baya itu segera masuk kedalam mobil untuk segera pulang.
Sementara Tania masih membeku. Sungguh dia kesal dengan ucapan Anisa. Dan itu sangat mengganggunya.
"Kenapa kamu diam saja?. Kenapa kamu tidak membela putri kita!", tanya Tania
"Aku harus mengatakan apa?!", sahut Agung
Tania mendengus kesal, "Tari tidak mungkin mandul. Aku yakin dia bisa hamil. Anisa saja yang kurang bersabar. Banyak kok pasangan yang menikah lama tapi belum memiliki anak!!",
"Kita tidak bisa menyimpulkan demikian sebelum ada pemeriksaan akurat yang dilakukan!",
__ADS_1
"Maksudmu, kamu juga ingin mengatakan jika Tari yang bermasalah?", tuduh Tania
"Aku tidak mengatakan demikian. Daripada kamu sibuk dengan dugaan yang belum pasti. Minta Tari melakukan pemeriksaan!!",
Tania terdiam, "Tentu aku akan melakukannya. Akan aku buktikan jika ucapan Anisa salah!!",
"Bagaimana kalau hasilnya tidak seperti harapanmu?!", Tania menatap suaminya sengit. Dia tidak suka dengan pertanyaan Agung. Seharusnya dia tidak mengatakan demikian dan membuatnya semakin kepikiran. Seharusnya dia juga sepemikiran dengannya bahwa Tari tidak memiliki masalah reproduksi.
"Apapun hasilnya nanti, aku tidak akan membiarkan Tari dimadu. Apalagi harus melihat Danar memiliki anak dari perempuan lain!!", ucap Tania pada Agung
"Kau hanya memikirkan Tari, lalu bagaimana dengan Danar?. Kau yakin dia akan tetap setia pada Tari jika Tari tidak bisa memberinya keturunan?!",
"Kenapa kau seolah menyudutkan Tari?. Bagaimana bisa kau berfikir demikian. Semuanya belum pasti. Kau sudah terpengaruh omong kosong Anisa!!", teriak Tania
"Aku hanya berfikir realistis. Tidak menutup kemungkinan apapun bisa terjadi. Dan aku minta padamu, jika benar kekurangan itu ada pada Tari. Aku harap kamu berhenti melakukan hal yang membuatmu rugi sendiri. Terima apapun yang terjadi pada Tari sebagai takdir!!",
Tania menatap suaminya tajam. "Maksudmu aku harus diam saja jika Anisa meminta Danar menikah lagi?. Apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaan Tari jika semua itu terjadi?!",
"Tentu saja Tari harus siap. Apapun yang terjadi padanya, semua adalah takdir yang tidak bisa dia hindari!!", jawab Agung tegas
Tania semakin kesal, dia menggeret kopernya keluar bandara. "Kau mau kemana?", tanya Agung karena istrinya justru keluar dari bandara.
"Aku mengijinkanmu menemui Tari. Tapi aku melarangmu ikut campur apalagi berbuat hal buruk pada rumah tangga mereka!!",
Tania seolah tuli, dia tidak menghiraukan ucapan suaminya. Tania harus menemui Tari sesegera mungkin. Dan memastikan bahwa putrinya tidak bermasalah.
*
*
*
"Mas, kita harus bicara!!", pinta Tari. Sejak kejadian tiga hari yang lalu, Danar semakin menjauhinya. Pria itu bahkan pulang sangat larut dan memilih menghabiskan waktunya diruang kerja.
"Aku tidak mau berdebat, Tari!", lirih Danar
Tari menghela nafas, jika dia ikut terbawa emosi maka hubungan dirinya dan Danar tidak akan pernah membaik.
"Aku minta maaf atas sikapku padamu, Mas. Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan kamu!!",
Danar menatap istrinya, ia akui, hubungannya dengan Tari semakin merenggang. Bahkan mereka jarang menghabiskan waktu bersama lagi. Ditambah sekarang dia sibuk mencari wanita yang tak sengaja ia nodai. Daanr bersalah karena telah mengabaikan istrinya selama ini.
__ADS_1
"Aku yang minta maaf. Aku juga salah karena selalu emosi saat berbicara denganmu!!", sahut Danar. Dia memeluk istrinya, wanita yang masih ada dihatinya. Tari juga membalas pelukan suaminya. Ia begitu bahagia saat Danar mulai kembali seperti dulu.
Saat keduanya masih berpelukan, ponsel Tari berbunyi. Enggan melepaskan pelukan suaminya, Tari tak menghiraukan panggilan di ponselnya. Namun hingga beberapa saat, ponselnya masih saja berdering.
"Angkatlah, aku turun duluan kebawah!", ucap Danar. Tari tersenyum lalu mengambil ponsel dan mengangkat panggilan telpon yang ternyata dari mamanya.
[Ada apa, Ma?],
[Kamu ada dimana?]
[Dirumah]
Tut
Tania segera mematikan panggilannya membuat Tari sedikit heran. Tari mengedikkan bahu, dia segera menyusul suaminya yang sudah lebih dulu turun ke bawah untuk sarapan. Terdengar suara mertuanya, artinya Anisa sudah pulang dari luar kota.
"Mama baru pulang?", sapa Tari
"Seperti yang kamu lihat!", jawab Anisa datar. Ya, sejak menantunya menolak ajakannya untuk melakukan pemeriksaan, Anisa sedikit dingin pada sang menantu.
Tari duduk disamping sang suami. Tak lupa dia mengambilkan makanan untuk Danar.
"Mama ingin memiliki cucu!!", ucap Anisa langsung.
Tari dan Danar saling tatap, "Kami masih berusaha, Ma!!", jawab Danar
Anisa menghela nafas, "Sampai kapan?. Sampai mama tua dan tidak kuat menggendong cucu mama?",
Tari melepas sendok yang dia pegang, "Ma, aku akan melakukan pemeriksaan seperti keinginan Mama!",
Anisa menatap menantunya, "Baiklah. Tapi kalau ternyata kamu bermasalah, mama ingin kamu mengijinkan Danar memiliki anak dari wanita lain!!",
Deg
Jantung Tari seakan berhenti berdetak, apa yang baru dia dengar dari mulut mertuanya terasa sangat menyakitkan. Tidak pernah ada bayangan jika Danar akan menikah lagi setelah ia berhasil menjadi satu-satunya dihati sang suami.
"Jangan menyimpulkan sesuatu sebelum ada bukti yang nyata!!", ucap Tania yang entah sejak kapan berada didepan pintu dapur.
Anisa menatap jengah besannya, "Baiklah, karena kamu ada disini. Kita semua bisa pergi untuk mengetahui hasil pemeriksaan Tari. Dia sudah melakukan pemeriksaan dua hari yang lalu!!",
Deg
__ADS_1