Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Bertemu Mantan Mertua


__ADS_3

"WHAT!!", pekik Ana


Gita menutup telinganya karena pekikan Ana.


"Gila!!. Setelah menghilang tanpa kabar. Tiba-tiba kamu datang terus mau nikah. Hebat!!",


Gita memandang sahabatnya dengan lekat.


"Maaf karena aku pasti membuatmu khawatir. Tidak mudah melewati semuanya. Bahkan diawal-awal semua terasa begitu berat. Aku ... !", Gita tidak meneruskan ucapannya. Ana mendekat kemudian memeluk sahabatnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak ada saat kamu membutuhkan seorang teman. Kamu melewati waktu yang berat seorang diri dan kamu hebat Git, kamu hebat karena berhasil melewati semuanya dengan baik!!",


"Semua karena doamu juga An. Awalnya memang berat, tapi sekuat tenaga kucoba merelakan dan mengikhlaskan semuanya. Aku mendekat pada-Nya dan mulai instropeksi diri. Karena aku yakin, Dia tidak akan mengujiku jika aku tidak mampu melewatinya!!",


"Kamu benar, buktinya sekarang kamu sudah menjadi sosok yang lebih dewasa dan berani. Aku lebih suka kamu yang sekarang!!",


Gita terkekeh,


"Aku hanya tidak mau selalu terlihat lemah. Karena jika itu terjadi, mereka akan terus menindasku. Lagipula, selama kita benar, untuk apa takut pada orang lain!!",


"Aku setuju ucapanmu!!",


Gita dan Ana tertawa bersama. Banyak hal yang saling mereka ceritakan selama tidak bertemu. Entah jam berapa keduanya terlelap.


****


Ana sudah berangkat ke kantor, sementara Gita lebih memilih berada dirumah. Siang ini, rencananya dia akan ke kantor Dirga untuk membawakan makan siang untuk calon suaminya. Dia sibuk mempersiapkan bahan masakan yang akan dimasak. Menu Ayam kecap, udang krispi, dadar jagung dan semur daging menjadi pilihannya, tentu saja karena menu tersebut adalah makanan kesukaan Dirga.


Gita menghentikan kegiatannya saat mendengar ketukan pintu. Dengan perasaan sedikit was-was, Gita berjalan ke depan. Dia mengintip dari balik jendela, bukan apa-apa. Gita hanya takut Danar datang lagi dan membuat keributan seperti semalam.

__ADS_1


Mama Anisa


Gita membuka pintu dan melihat mantan mertuanya tersenyum, perempuan paruh baya itu langsung memeluk Gita.


"Mama sangat merindukanmu!!", ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku juga merindukan mama!", Gita mempersilahkan Anisa masuk


"Duduk dulu Ma, aku akan membuatkan mama minum!", Anisa mengangguk


Tak lama, Gita keluar dengan membawa nampak berisi teh hangat.


"Silahkan diminum, Ma!",


"Terima kasih!", ucap Anisa kemudian menyeruput teh yang dibuatkan Gita.


"Mama apa kabar?", tanya Gita memecah keheningan,


"Aku senang jika mama baik-baik saja!!",


Anisa terdengar menghela nafas, kemudian menatap mantan menantunya dengan sendu.


"Mama memang baik, tapi mama kesepian. Tari sampai sekarang belum juga hamil. Jika saja anakmu ... !",


"Mereka hanya belum diberi kepercayaan Ma!", potong Gita cepat.


Gita sudah mengikhlaskankan kepergian anaknya. Dia tak mau ada yang mengungkit atau mengingatkannya pada sang buah hati yang sudah pergi. Lagipula, anaknya pasti sudah tenang berada disisi Sang Pencipta.


"Maafkan mama, karena mengingatkanmu pada kejadian pahit itu. Mama hanya belum sepenuhnya rela dengan semua yang terjadi!", ucap Anisa lirih

__ADS_1


Gita memandang mantan mertuanya dengan lekat. Anisa sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Tapi, ada kalanya manusia tempatnya egois bukan?.


"Ma, kita tidak bisa menebak seperti apa takdir seseorang. Dan tidak ada satupun yang tahu dengan juga seperti apa kita ditakdirkan. Allah sudah menggariskan takdir terbaik bagi setiap umat-Nya. Begitupun denganku, semua yang terjadi padaku tidak akan bisa aku sangkal atau aku hindari. Maka dari itu, aku lebih memilih menjalani takdir yang Allah gariskan daripada harus menyesali kejadian yang sudah berlalu. Kepergian anakku juga takdir dari Allah, dan aku sudah mengikhlaskan kepergiannya. Aku minta, mama juga ikhlas atas kepergiannya!",


Anisa mengusap sudut matanya,


"Mama minta maaf Git, mama tahu selama ini mama sangat egois padamu. Mama memaksamu bersama Danar padahal mama tahu dia tidak bisa menerima kehadiranmu. Kamu menderita karena anak mama!",


Gita mengusap lengan Anisa,


"Aku sudah memaafkan mama. Semua yang berlalu, biarkanlah berlalu. Tapi maafkan aku Ma, aku memang mengikhlaskan kepergian anakku dan menerima takdir. Tapi untuk memaafkan putra mama, aku belum mampu. Aku hanya manusia biasa, aku punya banyak kekurangan dan salah termasuk untuk memaafkan anak mama!",


"Mama paham, kesalahan Danar memang begitu fatal. Wajar jika kamu belum bisa memaafkannya!",


"Terima kasih karena mama mau mengerti!",


Mereka sama-sama tersenyum, walau hubungan rumah tangga Gita dan Danar sufah berakhir, namun Anisa masih menganggap Gita seperti putrinya sendiri. Setelah cukup lama berbincang, Anisa pamit pulang.


Gita segera memasak makan siang untuk Dirga. Tiga puluh keenit lebih dia memasak, saat semua sudah matang, ditatanya makanan kesukaan sang calon suami kedalam rantang susun.


Gita segera membersihkan diri kemudian menaiki mobilnya menuju Royal Company.


***


Rupanya masih banyak yang mengenali Gita, walau sudah lama tidak menginjakkan kaki dikantor Dirga, masih ada beberapa teman yang menyapanya. Gita tentu membalas sapaan mereka dengan senyum ramah. Kakinya berjalan menuju lift kemudian menekan tombol angka 10.


Pintu lift terbuka, Gita melangkah menuju ruangan bertuliskan CEO. Dia mengetuk pintu setelah bertanya apa Dirga ada didalam ruangannya kepada sekertaris. Setelah mendengar sahutan, Gita masuk kedalam ruangan pemilik hatinya dengan senyum dibibirnya. Dilihatnya sang calon suami masih sibuk dengan beberap berkas dimejanya.


"Kak, aku membawakan makan siang kesukaanmu!",

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Danar datang kerumahmu semalam!",


Deg


__ADS_2