
Dua hari berlalu, mampu membuat hidup Danar kacau. Dia terus mencari Gita namun nihil, belum ada hasil sama sekali. Mendatangi Dirga-pun tidak menghasilkan apa-apa. Pria itu bersikeras menolak tuduhannya. Bahkan dengan santai mengatakan tidak tahu-menahu dimana Gita berada. Danar yakin jika Dirga yang menyembunyikan istrinya. Tapi, dia tidak memiliki bukti apapun terkait hal itu.
Sementara, perusahaan diambil alih oleh Anisa, mengingat kondisi Danar yang masih kacau. Bisa-bisa DA Company bangkrut akibat kegalauan pimpinannya. Anisa sendiri masih bungkam, entah tahu atau tidak. Mamanya sama sekali tidak membahas Gita. Wanita paruh baya itu malah tidak menghiraukannya sama sekali.
Dua hari pula pria itu hanya berdiam diri dirumah. Dia hanya akan keluar mencari Gita. Selebihnya, dia akan menghabiskan waktu memandangi foto pernikahannya dengan sang istri pertama. Bahkan sejak kedatangan Tari dua hari yang lalu, esok harinya perempuan itu memilih kembali ke apartemen karena Danar sama sekali tak menghiraukannya.
Danar masih betah memandangi foto wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya. Dia baru menyadari jika Gita begitu cantik. Bahkan hatinya juga cantik. Entah seperti apa luka yang Gita rasakan dulu, yang jelas kini semua hanya akan tinggal kenangan.
Bel rumah berbunyi berkali-kali, Danar yang malas turunpun berdecak kesal. Dengan langkah malas dia menuruni tangga kemudian berjalan ke arah pintu utama. Dahinya mengernyit melihat seorang pria berdiri didepan pintu.
"Cari siapa ya?", tanya Danar
"Saya petugas dari pengadilan agama pak. Saya ingin mengantar surat panggilan sidang untuk pak Danar Adiaksa!", jawabnya sopan
Deg
Danar membeku, jadi Gita benar-benar telah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.
" S-saya Danar!", jawab Danar gagap. Ia menerima surat tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
"Kalau begitu, saya permisi!", ucap petugas tersebut setelah memberikan suratnya pada Danar. Danar menjawab dengan anggukan lemah.
Tubuhnya lesu seketika, rupanya Gita tidak main-main. Perempuan itu benar-benar ingin berpisah dengannya.
Dengan langkah gontai, Danar kembali masuk kemudian menuju ke kamarnya. Dia memandangi setiap sudut kamarnya dengan Gita. Pria itu tersenyum miris, sakit yang dia rasakan kini tentu belum seberapa dibanding yang Gita rasakan dulu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku Git?", lirihnya pelan.
Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang, semua sudah terlambat. Dan ya, siap tidak siap. Danar benar-benar harus kehilangan Gita untuk selamanya.
****
__ADS_1
Danar memenuhi panggilan pengadilan untuk sidang perdana perceraiannya dengan Gita. Danar sangat berharap perempuan itu merubah keputusannya. Tak lupa dia berdoa semoga ada keajaiban untuk rumah tangga mereka.
"Selamat siang pak Danar, saya Arifin Nugraha. Pengacara yang ditunjuk oleh nona Gita untuk mengurus perceraiannya dengan anda!", jelasnya. Danar menatap Gita yang hanya diam dengan ekspresi dinginnya. Perempuan itu bahkan enggan untuk menatapnya. Melihat hal itu, Danar hanya bisa tersenyum kaku,
"Git, bisakah kita bicata sebentar?", pinta Danar
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah selesai. Aku harap setelah ini, kita benar-benar tidak ada hubungan apa-apa lagi!", ucap Gita kemudian masuk ke dalam ruang sidang.
Jujur, Danar ingin sekali menolak perceraian ini. Namun, dia sadar dirinya tidak boleh egois.
Mereka telah menghadap hakim. Berkas perkata sudah diperiksa kemudian hakim meminta keduanya melakukan mediasi. Proses mediasi berjalan dengan lancar walau Gita tetap kekeh untuk bercerai.
"Git, apa tidak ada kesempatan lagi untukku?", tanya Danar ketika mereka sudah berada diluar ruang sidang. Mediasi tidak berjalan seperti harapannya karena Gita tidak merubah keputusannya.
"Tidak!", jawab Gita singkat
"Git, aku ... !",
"Bukankah ini yang sebenarnya kau inginkan?", tanya Gita sinis. "Seharusnya dari awal aku tidak menaruh hati pada orang yang salah!", lirih Gita
"Apa maafmu bisa mengembalikan anakku?", tanya Gita dengan nada bergetar. "Kenapa kau membawaku kedalam hidupmu jika hanya untuk kau sakiti. Apa salahku padamu hingga kau berlaku kejam padaku Danar. Bukan hanya berlaku tidak adil dan menyakitiku terus-menerus. Kau juga membunuh anakku!!", teriak Gita. Perempuan itu seakan melampiaskan kemarahannya pada pria yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya.
Deg
Danar tercekat, kata membunuh yang terlontar dari bibir Gita terasa menyayat hatinya.
"Aku harap urusan kita cepat selesai. Setelah itu, anggap kita tak saling mengenal!," ucap Gita melenggang pergi.
Danar terdiam, dia tak cukup memiliki keberanian untuk mengejar Gita. Semua yang wanita itu ucapkan membuatnya sadar. Betapa.kejam dan jahatnya dia pada istrinya. Dengan langkah pelan, Danar memasuki mobilnya kemudian memutuskan untuk pulang kerumah. Pikirannya terus terngiang kata-kata yang Gita ucapkan.
Pembunuh
__ADS_1
Kata itu terus terngiang dikepalanya. Tanpa sadar, Danar meneteskan air matanya. Tidak ada seorang ayah yang akan membunuh anaknya sendiri. Begitupun dengan dirinya. Danar sungguh menyesal, bahkan mungkin seumur hidupnya dia tetap akan merasa bersalah atas kehilangan calon bayinya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Danar tiba dirumahnya. Dia melihat Tari duduk di kursi teras. Sungguh, dirinya malas bila masih harus berdebat dengan perempuan itu.
"Mas, kamu darimana?", tanyanya sambil menggandeng tangan suaminya
"Pengadilan agama!",
"Untuk apa kamu kesana?", tanya Tari penasaran
"Gita mengajukan gugatan cerai!", jawaban suaminya sedikit membuat Tari terkejut. Namun tak dapat dipungkiri jika dia merasa bahagia.
"Maksudmu, kau dan Gita akan segera bercerai?",
Danar mengangguk malas, berbeda dengan wajah Tari yang nampak berbinar. Perempuan itu tersenyum penuh arti.
"Mas, aku harap setelah ini, tidak ada lagi yang mengganggu rumah tangga kita!",
Danar menghentikan langkahnya mendengar ucapan istri keduanya.
"Maksudmu, Gita adalah pengganggu?", Tanya Danar tak terima
"Kan kenyataannya memang begitu. Kamu sendiri yang mengatakannya padaku. Aku senang selali, akhirnya kita bisa bersama selamanya!!", ucapnya bahagia.
Danar melangkah masuk kedalam rumah, diikuti Tari tentunya. Perempuan itu tak henti menebar senyum kemenangan.
Penghalang sudah pergi, saatnya aku bahagia dengan Mas Danar. Bathin Tari
***
Danar menghela nafas, hari ini adalah putusan sidang perceraiannya dengan Gita. Setelah memalui beberapa tahapan dalam persidangan. Mereka berdua memutuskan untuk sama-sana sepakat bercerai. Danar berusaha menerima semuanya walau hatinya menolak. Pria itu berbesar hati menghadiri persidangan terakhirnya. Namun sebelum masuk kedalam ruang sidang, Danar tak sengaja melihat Gita berbicara dengan Dirga didalam mobil. Rahangnya mengeras seketika, benar dugaannya. Dirga berada dibalik semua ini. Dengan perasaan kesal, dia menghampiri mereka kemudian menggedor kaca mobilnya. Hal itu membuat Gita terkejut, berbeda dengan Dirga yang terlihat santai. Kemudian mereka keluar dari mobil.
__ADS_1
"Bajingan!!. Sudah kuduga, kaulah dalang dibalik semua ini!!",
Bug