
“Aku ..., hamil!”.
Deg
Benar dugaannya, madunya kini tengah mengandung anak suaminya. Jujur, Gita
bahagia mendengar suaminya akan menjadi seorang ayah. Karena dalam sebuah rumah
tangga, kehadiran seorang anak akan menjadi pelengkap kebahagiaan sebuah
keluarga. Haruskah Gita memberi mereka selamat saat hati dan jiwanya hancur?.
“Kau -, hamil?, tanya Danar lagi
Tari mengangguk, dia tersenyum menatap suaminya.
"Aku baru saja mengeceknya dengan alat tes kehamilan mas. Tapi karena terlalu bahagia, alatnya jatuh ke kloset!", ucap Tari sendu
"Tidak papa sayang, itu bukan masalah. Yang terpenting adalah kehamilanmu!", Danar memeluk erat belahan jiwanya. Pria itu juga mengecup kening Tari berkali-kali.
“Terima kasih sayang, aku bahagia sekali”. Danar berjongkok lalu mengecup perut Tari yang masih rata
“Terima kasih sudah dari dalam hidup papa nak. Tumbuhlah sehat di rahim mama, papa
tidak sabar menunggumu lahir!”, pria berusia 25 tahun itu kembali memeluk erat perut istrinya.
Danar terlihat begitu bahagia. Berbeda dengan Gita yang menahan gejolak dijiwanya. Hatinya sakit tapi juga bahagia. Anak Danar juga anaknya, terlepas siapapun ibunya. Tapi Gita tidak bisa menutupi sakit di hatinya, ingin sekali dia menangis saat ini. Bolehkah Gita iri melihat kebahagian suami dan madunya. Dia juga ingin merasakan kebahagiaan seperti mereka, tapi semua hanya mimpi yang sepertinya tak akan pernah terwujud hingga kapanpun.
“Kau tidak mau memberiku selamat Git?”, tanya Tari tersenyum manis
Gita menatap madunya dengan air mata yang tertahan. Tidak masalah dirinya terluka, yang terpenting adalah kebahagiaan suaminya.
“Selamat atas kehamilanmu, semoga kau dan bayimu selalu sehat!”, ucap Gita tersenyum.
“Terima kasih atas doamu. Aku harap kau tidak iri dan berniat mencelakaiku!”. Ucap Tari sengit
Gita berdiri, dia menyudahi sarapannya lalu menatap keduanya.
“Wajar manusia memiliki rasa iri, apalagi ketika diperlakukan tidak adil!”, ucapnya menatap Danar, “Tapi aku tidak sepicik itu untuk mecelakai anak dari suamiku terlepas siapapun ibunya!”, Gita mengambil tasnya lalu berjalan keluar rumah.
Gita mengendarai mobilnya dengan cepat lalu berhenti di tepi jalan. Dia mencengkram dadanya kuat. Hatinya terluka mendengar penuturan madunya. Apa yang dipikirkan istri kedua suaminya itu hingga bisa berfikir dirinya akan mencelakai bayi tak berdosa dalam rahimnya. Gita menghela nafas berkali-kali, sudahlah, mungkin ini jalan yang harus ia lewati sebagai bagian dari pendewasaan diri.
Saat pikirannya mulai tenang, perempuan cantik itu kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Sementara dirumah, Danar masih merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Pria itu memutuskan untuk tidak ke kantor pagi ini. Dia akan membawa Tari menemui mamanya. Ia yakin Anisa akan langsung memberi mereka restu saat mendengar kehamilan istrinya.
“Kau — mau membawaku menemui mamamu?”, tanya Tari ragu
“Tentu sayang, kita harus menemui mama dan memberitahukan kabar bahagia ini. Aku
yakin dengan kahamilanmu, mama akan merestui hubungan kita!”, ucap Danar yakin. Pria itu terlihat sangat bersemangat.
Sial, bagaimana ini?. Aku bahkan belum menyiapkan bukti kehamilanku untuk meyakinkan wanita tua itu. Dia tidak mungkin percaya padaku begitu saja tanpa adanya bukti. Aku harus mencari dokter yang mau di ajak kerja sama!, bathin Tari
“Baiklah sayang, aku akan bersiap-siap dulu!”, Tari kembali ke kamarnya sementara Danar menunggu diruang tamu. Perempuan itu menghubungi seseorang melalui telepon.
[Carikan aku seorang dokter kandungan, dan pertemukan kami sore ini juga], ucapTari lalu menutup ponselnya. Dia tersenyum menyeringai.
Saatnya meraih hati wanita tua itu. Ah, kenapa aku tidak kepikiran cara ini sejak lama. Jadi mas Danar tidak perlu menikahi perempuan murahan itu. Ok Tari sayang, siapkan akting terbaikmu.
****
Gita sudah tiba dikantornya, dia langsung duduk dan meraih berkas didepannya. Mata
dan tangannya begitu fokus, sampai tidak menyadari kehadiran Dirga. Pria itu hanya tersenyum menatap sekertarisnya. Selain kompeten, kerja Gita memang sangat bagus dan rapi. Tidak salah Dirga menjadikannya sebagai sekertaris.
“Apa agendaku hari ini?”, ketikan itu terhenti karena empunya menatap pemilik suara.
Gita memundurkan wajahnya karena begitu dekat dengan bosnya.
melihat ekspresi keterkejutan Gita yang terlihat menggemaskan.
“Sekitar 5 menit!”, jawabnya santai
“Ah maaf, saya tidak menyadari kehadiran anda!”, Gita mengambil catatan yang ada
disamping kirinya.
“Pukul 8 pagi anda akan bertemu tuan Michel untuk membahas desain pembangunan Royal
hotel di Bali. Jam 10 anda akan meninjau Royal Mall. Selebihnya tidak ada pak!", lapor Gita
Dirga hanya mengangguk.
"Baiklah, terima kasih!", ucapnya setelah itu masuk ke ruangannya.
Gita mengedikkan bahu kemudian melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
****
Beda dengan Gita, beda pula dengan Danar dan Tari. Dua insan itu kini berada di rumah Anisa,
"Ada apa?", tanya Anisa menatap putra dan menantunya
"Mama akan segera menjadi oma. Tari sedang hamil ma!!", ucap Danar bahagia. Tari tersenyum manis ke arah mertuanya.
"Benarkah?", tanya Anisa ragu
"Benar ma. Tari sedang mengandung cucu mama. Dan kedatangan kami kemari, selain memberitahukan kabar baik ini, juga untuk meminta restu pada mama. Mama akan merestui pernikahan kami kan ma?", tanya Danar penuh harap
Anisa tidak menjawab, dia hanya menatap putra dan menantunyam
"Sudah berapa bulan??", Tari membenarkan posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan Anisa.
"Belum tahu ma, tapi aku sudah telat dua minggu!", jawab Tari pelan
"Berarti kau belum memeriksakan kehamilanmu ke dokter?", tanya Anisa menyelidik, sang menantu menggeleng,
"Kami belum memeriksakannya ma. Karena terlalu bahagia, kami kemari terlebih dahulu. Rencananya, kami akan pergi ke dokter besok!!", jelas Danar
Anisa menaikkan alisnya sebelah, dia menatap penuh selidik dan curiga pada menantunya. Bukankah agak aneh, mereka belum memeriksakannya ke dokter. Namun sudah berani menyimpulkan demikian.
"Kalau begitu, kita akan periksa ke dokter kenalan mama!", ucap Anisa
Tari seketika bungkam mendengar ucapan mertuanya. Wanita itu lebih cerdik dari yang dia kira. Tari sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Selain tidak menyukainya, mertuanya itu juga begitu waspada dan tidak mudah dikadali.
"Kenapa diam?, apa kau berusaha mencari alasan untuk menolak ajakanku?!", selidik Anisa lagi
Tari kembali menggeleng
"Aku sudah menghubungi dokter Mayra ma. Dia bekerja di rumah sakit Medika. Beliau masih berada diluar kota, dan kami baru bisa bertemu besok", jawab Tari
"Ma, mama masih meragukan Tari?. Dia tidak mungkin membohongi aku dan mama. Seharusnya mama senang karena aku akan menjadi seorang papa!", ucap Danar
"Mama tidak meragukan kehamilan istrimu. Apa yang salah jika mama merekomendasikan dokter yang baik, semua juga demi cucu mama!!", ujar Anisa
Danar dan Tari tersenyum mendengar ucapan Anisa. Perempuan mengatakan cucunya, itu artinya Anisa sudah menerima bayi itu.
"Jadi mama sudah merestui kami?", tanya Danar tidak sabar
"Tentu saja!", Tari tersenyum sambil memeluk lengan Danar, begitupun dengan Danar yang merangkul bahu istrinya.
__ADS_1
"Tapi syarat dari mama masih berlaku!!",
Deg