Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Bujukan Anisa


__ADS_3

"A-agung!", pekik Tania dan Anisa bersamaan.


"Kenapa? kalian terkejut melihatku ada disini?", tanya Agung dengan suara datar.


"Kamu mau mendukung keputusan Anisa?, dan menyakiti hati putri kita?", tanya Tania dengan suara bergetar.


Ck, ratu drama mulai beraksi. Bathin Anisa


"Danar memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan Tari harus menerima takdirnya!", jawab Agung tegas.


Anisa menghela nafas lega, berbeda dengan Tania yang terlihat marah dan tidak suka dengan keputusan suaminya.


"Aku tidak setuju. Bagaimana bisa kamu membiarkan Tari tersakiti dan di poligami. Ini tidak adil untuknya, dia akan sangat terluka!."


Agung menghela nafas, "Tapi inilah yang harus Tari lewati, Tania. Dia harus menerima keputusan ini, suka atau tidak!."


"Tapi Danar bisa bertanggung jawab tanpa harus menikahi wanita itu. Tari bisa menggantikannya menjadi ibu dari bayi itu, setelah dia lahir!", kata Tania dengan egois.


"Jangan egois, Tania. Bagaimanapun Anya adalah ibu dari cucuku. Aku mau data diri cucuku jelas siapa ayah dan ibunya. Dan jika Tari mau merawat bayi itu, dia bisa ikut merawatnya bersama Anya juga!."


"Itu akan menyakiti Tari. Berbagi suami dan tinggal satu atap, siapa yang mau berada di posisi seperti itu!."


Anisa memutar bola matanya malas, "Semua perbuatan ada resikonya, Tania. Dulu Tari dengan mudah masuk kedalam rumah tangga Danar dan Gita. Lalu kenapa sekarang kamu keberatan jika Tari mengalami nasib yang sama dengan mantan menantu kesayanganku?."


Tania bungkam, ia hanya bisa menahan dongkol dihatinya.


"Jangan berdebat lagi. Kamu Anisa, tugasmu membujuk Anya agar dia mau menikah dengan Danar. Dan kamu Tania, aku harap kamu lapang dada menerima semua ini. Jadi jangan pernah berfikir untuk melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri!."


"Lalu aku harus melihat anakku menderita? Tidak Agung, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!."


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku bersikap tegas padamu. Selama ini aku diam bukan karena tidak tahu apa yang kamu dan Tari lakukan. Aku hanya ingin tahu sampai mana kalian berulah. Tapi jika kali ini kamu kembali berbuat hal fatal, maka kamu akan tahu akibatnya!."


Tania terkesiap, dia tak percaya Agung akan setegas ini padanya. Sejak dulu ia bebas melakukan apapun dan suaminya itu tidak pernah mempermasalahkan apapun. Tapi ancamannya sekarang sepertinya tidak main-main. Tania harus hati-hati dalam bertindak.


"Kamu sebaiknya pulang dulu, Tania. Temani putrimu dan ingat, jangan melakukan hal bodoh yang akan kau sesali nantinya!.", perintah Agung. Dengan berat hati Tania meninggalkan rumah Anya. Dan sekarang tinggal Anisa dengan Agung.


"Kita harus membujuk Anya supaya mau menikah dengan Danar. Mungkin denganmu dia akan sedikit lunak karena kalian sama-sama perempuan!," ucap Agung. Mereka berjalan menuju teras.


"Terima kasih!", ucap Anisa singkat, Agung menatap mantan istrinya,


"Terima kasih untuk apa?."


"Karena kau sudah menjaga Anya, kau sudah menjaga calon cucuku!."


Agung tersenyum, "Mungkin ini jalan dari Allah agar aku mendapatkan maaf darimu dan Danar. Dan anggap ini sebagai penebus semua kesalahanku dimasa lalu!."


Anisa bungkam, mungkin dia sudah memaafkan perbuatan mantan suaminya. Tapi melupakan semuanya tentu tidak semudah memberikan kata maaf.


"Ayo!", Agung mengajak Anisa menemui Anya. Agung mengetuk pintu beberapa kali, hingga akhirnya gadis cantik itu membuka pintu.


"Bukankah aku sudah menyuruh kalian pulang?. Kenapa masih ada disini dan terus mengganguku?", tanya Anya sedikit kesal. Anisa dan Agung saling menatap,


"Maafkan aku, nak. Ah, sebelumnya perkenalkan, namaku Anisa. Aku adalah ibunya Danar!."

__ADS_1


Anya hanya diam tanpa ekspresi,


"Bisakah kita bicara sebentar?", pinta Anisa


"Bukankah sudah tidak ada yang perlu kita bahas?", tanya balik Anya


"Ada, dan kita perlu bicara!", Anya terlihat berfikir, "Sepuluh menit. Beri kami waktu sepuluh menit!."


Anya menghela nafas, kemudian mengijinkan tamunya masuk.


"Jadi, apa yang ingin anda katakan, Nyonya?", tanya Anya langsung


Anisa melirik Agung sebentar, "Sebelumnya aku meminta maaf padamu. Sebagai seorang ibu, aku sungguh malu atas apa yang putraku lakukan padamu!."


"Aku sudah memaafkannya, Nyonya!", sahut Anya dengan nada berat.


Anisa tersenyum, "Terima kasih atas maafmu. Aku yakin kamu adalah wanita yang baik. Dan seorang wanita yang baik tidak akan membiarkan ego menguasai dirinya. Aku tahu kamu sakit hati dan kecewa pada putraku. Tapi kamu juga harus memikirkan anak dalam kandunganmu!", ucap Anisa


Anya menatap wanita didepannya, "Jika tujuan anda kemari hanya membujukku untuk menerima tanggung jawab putra anda, maaf Nyonya. Saya menolak. Saya tidak mau masuk dan menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Lagipula saya yakin saya bisa membesarkan anak ini seorang diri!."


Agung hanya melirik Anisa tanpa ada niatan membantu membujuk wanita itu. Biarlah ini menjadi urusan sesama perempuan, bathinnya.


"Sekarang kamu bisa berbicara seperti itu. Tapi tidak dengan nanti. Hidup sebagai single mom tidak semudah yang kamu kira. Hinaan, makian, cibiran dari orang-orang akan selalu mengikuti kemanapun langkahmu pergi bahkan ketika anakmu sudah lahirpun keadaan tidak akan berubah. Anakmu akan di ejek temannya, dikatai anak haram karena tidak memiliki ayah dan apa kamu mau melihat anakmu mengalami semua itu?", tanya Anisa. Anya menggeleng lemah, " Aku berkata demikian, karena aku pernah mengalaminya, Anya!", Anya terperanjat dan langsung menatap Anisa, sementara Agung menatap Anisa dengan sendu. Hatinya kembali diliputi rasa bersalah yang besar.


Sepertinya Nyonya ini jujur, bathin Anya.


"Aku pernah hidup menjadi single mom dan aku tidak mau apa yang pernah menimpaku akan dialami olehmu dan cucuku!."


Anya menunduk, dia sebenarnya juga masih bimbang. Bisakah dia membesarkan anak ini seorang diri? Lalu semua yang Anisa ucapkan, mampukah dia nanti melewatinya?. Stigma masyarakat tentang seorang single mom masih jauh dari kata baik. Mereka dianggap wanita murahan yang sedang mengandung anak haram yang tidak tahu siapa ayahnya. Tapi menerima tawaran mereka sama saja. Dia akan dicap sebagai pelakor karena merebut suami orang.


"Nyonya, anak anda bahkan tidak pernah mencari saya. Bagaimana mungkin tiba-tiba saya datang dan meminta dia menikahi saya!", ucap Anya dengan nada sedikit bergetar.


Anisa mendekat ke arah Anya, dia memegang tangan Anya yang terasa dingin. "Dia sudah mencarimu, tapi dia belum berhasil menemukanmu. Aku tahu selama ini dia gelisah dan memendam semuanya sendiri. Tapi percayalah, Danar akan bertanggung jawab penuh atas kamu dan bayimu. Begitupun dengan aku!."


Anya kembali menatap Anisa, "Lalu bagaimana dengan istrinya? Apa dia akan menerimaku?."


Agung bernafas lega, sepertinya Anisa berhasil meraih hati Anya. "Jangan khawatir soal Tari. Dia akan menerima kamu, aku yang akan menjamin hal itu!," tambah Agung.


"Aku juga seorang perempuan, aku tahu kekhawatiranmu. Kamu tidak perlu cemas karena aku akan melindungimu. Dan memastikan kamu nyaman dirumahku!."


Anya menggigit bibir bawahnya, haruskah dia menerima pertanggung jawaban ini? Tapi untuk bertahan sendirianpun dia masih ragu. Dua-duanya adalah pilihan yang sulit. Maju salah, mundur juga salah.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menerima mereka dan membuang egoku, sementara nanti akan ada wanita lain tersakiti jika aku menerima semua ini. Tapi kamu harus memikirkan bayimu, Anya. Dia butuh kedua orang tuanya. Bathin Anya berperang.


"Baiklah, aku setuju!", ucap Anya setelah melalui pergulatan bathin yang menyiksanya.


Anisa dan Agung tersenyum, "Kalau begitu kamu akan ikut denganku malam ini juga!."


"Haruskah malam ini juga?", tanya Anya ragu


"Ya, aku harus mengamankanmu. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi dan aku tidak mau kamu kenapa-kenapa!."


Anya menghela nafas, dia pamit sebentar untuk mengambil barang-barang yang akan dia bawa. Entah sudah tepat atau belum keputusan yang dia ambil. Tapi semua ini dia lakukan agar anaknya tidak mengalami kehidupan yang sulit dimasa mendatang.

__ADS_1


"Sudah siap?", Anya mengangguk. "Ayo kita berangkat!."


Anya mengunci pintu rumahnya, menatap sejenak bangunan yang menjadi tempat sejak kecil.


"Jangan khawatir, aku akan menyuruh orang untuk merawat rumahmu!", Anya tersenyum. Sikap dan perhatian Anisa membuatnya kembali merasakan hangatnya perlakuan seorang ibu.


"Terima kasih, Nyonya!", ucap Anya tulus.


"Aku yang berterima kasih karena kamu mau ikut denganku. Jangan takut, ada aku yang akan selalu berada di belakangmu, apapun yang terjadi!."


Anya tersenyum, mereka masuk kedalam mobil Anisa, sementara Agung mengendarai mobilnya sendiri.


Perempuan berusia 22 tahun itu hanya bisa memilin jari-jarinya untuk menyalurkan perasaan gugup serta takut yang menderanya. Bagaimana reaksi pria itu saat bertemu dengannya nanti? Bagaimana pula reaksi istri Danar saat melihat dirinya?.


Anisa kembali meraih tangan calon menantunya, dia seolah tahu apa yang dipikirkan Anya. "Semua akan baik-baik saja!."


Mobil mereka terus melaju membelah jalanan yang mulai renggang karena sudah malam. Hingga mobil mereka masuk ke pekarangan yang sangat luas, rumah bertingat dua yang begitu mewah terlihat didepan sana.


"Ayo turun, kota sudah sampai!."


Anya mengangguk ragu, mereka berdua keluar dari mobil diikuti Agung yang baru keluar juga dari mobilnya. Anisa menggandeng tangan Anya memasuki rumah. Terdengar suara dari ruang tengah, dan mereka langsung menuju kesana.


Tari terlihat bermanja dilengan mamanya sementara Danar duduk disamping mereka. Danar yang melihat kedatangan mamanya langsung terkejut karena mengenalinya gadis yang Anisa bawa.


"Ma, dia?."


"Ya, dia Anya. Mama yakin kamu tahu siapa perempuan ini!."


Anisa membawa Anya duduk, Danar terus menatap wanita didepannya yang menunduk. Sementara Tari tampak bingung karena Anisa tiba-tiba datang membawa seorang wanita. Perasaannya mendadak tidak enak. Mungkinkah wanita ini yang akan Anisa nikahkah dengan Danar?.


"Siapa wanita ini, Ma?", tanya Tari penasaran.


"Tunggu dulu, Ma. Kenapa pria ini juga ikut mama kemari. Dia tidak punya urusan dengan kita lagi!", sela Danar menatap Agung tidak suka.


"Kamu harus menghormatinya Danar, bagaimanapun karena dialah, Mama bisa bertemu Anya!."


"Maksudnya apa ini semua? Kalian membuatku bingung dan menerka-nerka sendiri!", tanya Tari dengan wajah serius.


"Mamamu belum mengatakan sesuatu?", tanya Anisa memastikan. Tania hanya mendengus kesal dengan tatapan yang tidak lepas dari Anya.


"Mama tidak mengatakan apapun?."


"Baiklah. Jadi dengarkan aku baik-baik!," pinta Anisa. "Wanita ini namanya Anya, aku yakin kamu belum mengenalnya, tapi Danar pasti tahu siapa wanita ini!."


Tari melihat Danar mengangguk, hatinya semakin diliputi perasaan tidak enak.


"Tari, Anya akan menjadi adik madumu. Danar harus menikahinya karena sekarang, dia sedang hamil anak Danar!."


"APA?."


*


*

__ADS_1


*


Nah lo,


__ADS_2