
"Kita akan kembali kerumah kita dan memulai semuanya dari awal!!",
Baik Gita maupun Ana sama-sama menatap Danar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu ingin membuat sahabatku menderita lagi?", tanya Ana kesal. Bagaimana bisa Danar dengan mudahnya mengajak Gita kembali kerumah mereka setelah semua perlakuan jahatnya.
"Aku ingin menebus semua kesalahanku. Dan aku ingin memulai rumah tangga yang lebih baik dengan Gita!", jawab Danar mantap
Gita menghela nafas, ada perasaan bahagia ketika Danar sudah mulai menerimanya. Namun juga terbersit keraguan dihatinya. Selama ini Danar begitu dingin padanya dan jelas-jelas membencinya. Kenapa sekarang pria ini begitu baik dan hangat?. Apa karena kejadian semalam?. Apa Danar melakukan semua ini hanya karena dia telah menodainya.
"Bagaimana dengan istri kesayanganmu itu?. Kalian akan tinggal bersama lagi?", pertanyaan Ana membuat Gita menatap suaminya.
Danar mengangguk, hal itu membuat Gita sedikit kecewa. Dia masih ingat betul bagaimana perlakuan Danar jika bersama Tari. Tidak ada seorang istri yang sanggup melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain begitupun dirinya.
"Aku akan bersikap adil pada kalian berdua. Aku janji tidak akan membuatmu sakit lagi!", ucap Danar meyakinkan
Ana memutar bola matanya malas, mulut pria memang manis.
"Seberapa banyak ilmu agama yang kau miliki hingga kau nekat melakukan poligami?. Segampang itu kamu berkata akan berlaku adil, kamu bahkan tahu betul, tidak ada adil yang benar-benar adil. Suatu saat kau pasti akan berat sebelah pada salah satu istrimu!!", ucap Ana bijak
"Sudah banyak kasus poligami yang berakhir menyakiti satu pihak. Bukan mau menggurui, aku hanya paham sedikit masalah poligami. Yang aku tahu, poligami harus dilakukan atas izin istri pertama, itupun dilakukan untuk menolong wanita yang dinikahi sebagai istri kedua. Tapi dalam kasus sahabatku ini, kau menikah diam-diam dengan kekasihmu. Dan kau tidak pernah menganggap Gita sebagai istrimu. Disini saja kau sudah bersikap tidak adil sejak awal, bagaimana dengan nanti?. Kau hanya akan menyakiti hatinya lagi, karena bukan Gita yang kau inginkan!", lanjut Ana
Danar terdiam, benar sekali ucapan Ana. Dia meminta Gita kembali hanya karena merasa dirinya harus bertanggung jawab atas kejadian tadi malam. Dihatinya masih bertahta nama Tari. Walau Tari sudah memalukan kesalahan yang membuatnya kecewa, tapi tidak bisa dipungkiri jika Danar masih sangat mencintainya.
"Sebaiknya kamu pulang mas. Benar yang dikatakan Ana, jika kedatanganmu hanya untuk bertanggung jawab atas kejadian itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, lagipula kamu suamiku, tidak perlu merasa bersalah atas apa yang telah terjadi diantara kita!!", lirih Gita
Danar semakin merasa bersalah, dia sadar sudah berlaku tidak adil selama ini. Apalagi dengan jahatnya dia memperlakukan Gita dengan buruk.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu kembali. Aku akan memberimu waktu untuk sendiri dulu, tapi aku harap, suatu hari kamu mau kembali kerumah kita!",
Danar melangkah pergi meninggalkan rumah Gita. Perempuan cantik itu hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan sendu. Ingin sekali Gita memeluk suaminya, berkata jika dirinya mau kembali kerumah mereka. Tapi dia dilanda keraguan, Gita hanya takut semua yang Danar ucapkan hanya bualan semata.
"Berfikirlah dengan tenang, tanyakan pada hatimu apa yang sebenarnya kau inginkan!", ucap Ana. Gadis jawa itu selalu memberinya nasihat bijak.
"Aku tidak mau terburu-buru menerima semuanya. Aku tidak siap sakit hati lagi. Biarlah semua berjalan seperti ini dulu!", Ana tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
Deru mobil kembali mengalihkan perhatian mereka. Dirga turun dari mobil dan berjalan kearah Ana dan Gita berada.
"Apa kau sakit?, kenapa tidak memberi tahuku?", ucapnya berbohong, nyatanya Dirga sudah berada disana sejak tadi dan melihat semuanya.
Ana tersenyum mendengar nada kekhawatiran dari ucapan bos tampannya itu.
"Maaf, aku hanya tidak enak badan. Tadi aku meminta Ana mengabari kantor. Aku tidak mengabarimu karena aku belum memeriksa ponselku sejak semalam!", ucap Gita jujur
"Kau ingin minum apa bos?", sela Ana
"Terserah saja!", jawab Dirga singkat. Ana mengangguk lalu pergi kedapur
"Kau membuatku khawatir!", ucap Dirga kedua kalinya. Matanya tak sengaja menangkap bekas merah yang menghiasi leher mulus Gita. Dirga bukan pria bodoh yang tidak bisa mengartikan hal itu. Jujur, hatinya nyilu menerima kenyataan ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kini Gita sudah milik Danar seutuhnya.
"Aku baik-baik saja kak. Maaf membuatmu cemas!", ucap Gita tulus
Dirga hanya tersenyum dan mengangguk. Ana datang membawa secangkir kopi juga biskuit sebagai hidangan untuk bosnya.
"Silahkan bos!",
Dirga meminum kopi yang Ana buat. Rasanya berbeda dengan kopi buatan Gita. Hanya kopi saja, Dirga begitu merindukannya. Apalagi perasaannya. Tapi mulai saat ini, semua itu harus benar-benar ia kubur.
"Aku akan membeli makan siang dulu. Bisakah kau menemani Gita sebentar?", tanya Ana pada Dirga
"Tentu, pergilah!", jawab Dirga singkat
"Kau mau makan siang juga?", tawar Ana
"Tidak, aku akan kakan siang dengan klien sebentar lagi!",
Ana sengaja meninggalkan mereka berdua agar keduanya bisa bicara dengan leluasa.
"Kau baik-baik saja?", Gita menoleh lalu mengangguk, "Aku melihat Danar pergi dari sini. Aku rasa, sekarang hubungan kalian ada kemajuan!", ucap Dirga pelan
Gita terdiam, bagaimanapun Gita tahu bagaimana perasaan pria itu kepadanya.
__ADS_1
"Aku ikut bahagia jika dia sudah bisa menerimamu. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika dia kembali melukaimu!",
"Aku tahu kak, aku paham kekhawatiranmu. Bukankah pernah aku katakan, jika aku tidak selemah yang kamu pikirkan. Aku masih bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula ada kamu yang akan selalu menjagaku, tapi jangan lupakan jika kau harus mencari calon istri!", canda Gita. Dirga ikut terkekeh melihat tawa Gita. Mereka membahas hal yang tidak penting. Tapi Dirga lega karena Gita sesekali tersenyum.
Ana baru saja tiba dengan membawa kresek yang dia tenteng ditangannya.
"Aku harus kembali ke kantor. Istirahatlah sampai kau benar-benar pulih. Pekerjaanmu masih bisa aku handle!", ucap Dirga berpamitan.
"Terima kasih sudah mengunjungiku kak!", jawab Gita tersenyum
Dirga memasuki mobilnya kemudian menjauh dari kediaman Gita. Dua wanita itu masih berdiri diteras rumah, menatap mobil pria tersebut yang sudah hilang dari pandangan.
"Aku lebih suka dengan kedatangan Dirga daripada suamimu!", celetuk Ana
Gita menoleh pada sahabatnya
"Ya, aku tahu. Kau bahkan tidak membuatkan kopi untuk mas Danar!", jawab Gita
Ana hanya menyengir
"Aku takut khilaf, bisa saja tiba-tiba muncul ide untuk menuangkan sianida pada kopi suamimu kan!!", ucapnya tertawa membuat Gita geleng-geleng kepala.
"Sudah, ayo kita makan. Aku sudah membeli makanan kesukaanmu!!", jawab Ana menggeret tangan sahabatnya memasuki rumah.
****
"Ini nyonya, semua seperti yang anda perintahkan!", ucap Qinar
Anisa membuka map yang Qinar berikan, lalu perempuan paruh baya itu tersenyum.
"Terima kasih Qinar, kau boleh pergi sekarang!",
Anisa kembali tersenyum
"Kita lihat, berapa lama perempuan itu akan bertahan tanpa harta putraku!", ucapnya menyeringai
__ADS_1