Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Setelah meminta restu pada Januar. Mereka sepakat jika acara pernikahan Dirga dan Gita akan digelar dua minggu lagi. Semalam Januar juga meminta mereka menginap karena hari sudah malam.


Setelah bangun tidur, Gita menuju dapur untuk membuat sarapan. Dia yang terbiasa bangun pagi, tentu merasa tidak enak jika harus berdiam diri. Aroma sedap masakan Gita sudah menyeruak didapur.


"Non, apa yang non lakukan. Biar saya saja yang masak!", ucap salah seorang pembantu dirumah Januar. Dia terkejut karena masih pagi tapi Gita sudah memasak didapur.


"Tidak apa bik. Hari ini biar aku yang masak. Bibi bisa lakukan pekerjaan yang lain. Oh ya, ini makanan untuk bibi dan yang lainnya ya!", ucap Gita sambil menunjukkan wadah yang sudah terisi masakannya.


Pembantu itu menatap tidak percaya pada calon nona mudanya. Tidak hanya cantik, tapi Gita begitu baik hati.


"Non, kenapa nona repot-repot memasak untuk kami juga. Saya jadi tidak enak!", ucapnya sungkan. Gita tersenyum


"Tidak apa bik. Aku sudah memasak banyak. Sekali-sekali, kalian harus mencicipi masakanku!", ucap Gita ramah. Pembantu itu tersenyum. Tak lupa membawa makanan yang diberikan oleh Gita kemudian masuk ke belakang.


Hal itu tak luput dari penglihatan Januar. Diam-diam pria itu menyunggingkan senyum melihat kebaikan calon menantunya. Tidak salah jika Dirga begitu mencintai Gita. Wanita itu tidak hanya cantik, tapi juga baik hati.


"Eh ... selamat pagi Pa!", sapa Gita tersenyum


"Selamat pagi, Nak!", jawab Januar


Gita segera menghampiri calon mertuanya kemudian mendorong kursi roda milik Januar hingga didepan meja makan.


"Papa mau sarapan dulu?",


"Kalian mau meninggalkan aku?", potong Dirga yang baru datang. Pria itu mengenakan kaos casual juga celana jeans yang membuat penampilannya terlihat lebih muda dan tampan.


"Kau ini, papa kan belum menjawab pertanyaan calon menantu papa yang cantik ini!",


Dirga mengerucutkan bibir kemudian duduk disamping papanya.


"Papa mau makan sama apa?", tanya Gita menawarkan


Januar memandang hidangan di meja makan. Ada nasi kuning, telur balado, sambal goreng kentang juga ayam goreng dan sambal. Semua terlihat begitu lezat.


"Semuanya papa mau!", sahut Januar


Gita tersenyum kemudian mengambilkan makanan untuk calon mertuanya.


"Terima kasih!", ucap Januar yang mulai memakan sarapan buatan Gita.


"Ehem. Cuma calon mertua nih yang diambilin. Calon suaminya nggak?", tanya Dirga sok merajuk. Januar tersenyum begitupun dengan Gita.


"Sepertinya, ada yang iri nih!", cibir sang papa


"Tentu saja, masak yang dilayani hanya calon mertua. Calon suami juga dong!",


"Ih, bibirnya ga usah manyun begitu. Sini, aku ambilin. Kakak mau makan dengan apa?", tanya Gita pada calon suaminya


"Semuanya!", jawab Dirga tersenyum


Gita dengan telaten mengambil makanan untuk calon suaminya. Kemudian menyerahkan piring yang sudah penuh kepada Dirga.

__ADS_1


"Terima kasih calon istri!",


Dirga langsung memakan sarapannya dengan lahap.


"Masakan kamu enak. Aku suka!", puji Dirga


"Benar, masakan Gita memang enak!", sahut Januar


Hal itu membuat Gita senang, anak dan papa itu makan dengan lahap. Hati Gita menghangat melihat suasana sarapan pagi ini. Biasanya dia akan memakan sarapannya terlebih dahulu, sedangkan mantan suami dan madunya akan makan bersama. Tidak pernah ada pujian untuk masakannya. Tapi sekarang, dia makan bersama dengan calon suami dan calon mertuanya dalam suasana hangat.


"Kenapa kamu hanya memandang kami, makanlah juga!", ucap Dirga yang melihat Gita hanya memandang ke arahnya


"Ah, tentu saja. Papa mau tambah?",


Januar tersenyum lalu mengangguk. Suasana terasa semakin hangat saat diiringi obrolan kecil dan juga tawa ketiganya.


****


Setelah selesai sarapan, Dirga dan Gita berpamitan kepada Januar. Mereka berencana akan menemui WO yang direkomendasikan oleh Mika. Perempuan yang sudah menjadi kakak bagi Gita dan Dirga itu sangat antusias saat mendengar kabar tentang rencana pernikahan adik-adikknya. Bahkan dia akan membantu mengurus semuanya.


"Sayang ... kamu jadi membuka butik setelah kita menikah?", tanya Dirga


"Ya, itupun kalau suamiku mengijinkannya!", Gita tanpa sadar sudah memanggil Dirga suamiku. Hal itu tentu membuat Dirga sangat senang.


"Cie, yang sudah manggil suamiku!", goda Dirga. Gita yang menyadari hal itu tersenyum malu.


"Ish, kok malah tertawa. Kan aku jawab sesuai pertanyaan!",


Gita mencubit perut Dirga dengan gemas. Pria itu mengaduh tapi tak urung kembali tertawa.


"Aku senang karena akhirnya kita bisa bersama!",


"Akupun begitu. Seharusnya, aku tidak membuatmu menunggu lama!", ucap perempuan cantik tersebut


"Ya, kamu benar. Untung saja aku pria setia. Padahal banyak sekali wanita yang mengantri untukku!", ucapnya percaya diri


"Owh, aku sungguh beruntung. Terima kasih atas kesetianmu calon suamiku!", Gita berkata dengan wajah dibuat sok imut. Dirga yang merasa gemas langsung mencubit pipi calon istrinya.


"Kamu semakin menggemaskan saja sih. Jadi nggak sabar pengen cepat dinikahin!",


"Adek nggak akan lari kok bang. Jadi, sabar ya!", kekeh Gita


Mereka tertawa bersama. Raut kebahagiaan tergambar jelas diwajah keduanya. Setelah melewati perjalan yang panjang, akhirnya keduanya akan menjadi satu dalam iktan yang sah.


Kini dua insan itu telah sampai di WO yang direkomendasikan oleh Mika. Setelah berkonsultasi dan melihat-lihat. Keduanya sepakat menggunakan tema outdor bergaya modern. Dirga dan Gita menyerahkan segala urusan kepada WO, mulai dari undangan, tempat, katering, dan lain-lainnya.


Selesai mengunjungi WO, Dirga mengajak Gita untuk membeli cincin pernikahan. Mereka menuju Royal Mall yang tak jauh dari tempat WO. Keduanya berjalan masuk beriringan membuat banyak pasang mata menatap kagum pada pasangan ini. Bagaimana tidak, Dirga terlihat tampan dan gagah sementara Gita, jangan ditanya bagaimana cantiknya wanita itu. Apalagi sekarang, dia sudah mengenal yang namanya perawatan.


"Selamat siang tuan Dirga, ada yang bisa saya bantu?",


"Kami mencari cincin pernikahan!", jawab Dirga

__ADS_1


Karyawan tersebut langsung menunjukkan beberapa model cincin pernikahan terbaik kepada pemilik Mall tersebut.


"Sayang, kamu suka yang mana?", tanya Dirga. Gita masih melihat-lihat. Hingga matanya tertuju pada sepasang cincin polos bermata berlian dibagian tengah.


"Bagaimana dengan yang itu?",


"Ternyata kita sepemikiran. Baiklah, kami ambil yang itu!",


"Baik tuan, mohon tunggu sebentar dan silahkan melakukan pembayaran!",


Dirga mengeluarkan kartu kreditnya, kemudian membayar cincin mereka. Setelah dari toko perhiasan. Keduanya kembali berjalan beriringan keluar Mall, Dirga sengaja merangkul pinggang calon istrinya karena banyak pasang mata pria yang menatap kagum pada Gita.


"Bagaimana kalau kita makan dulu?", Gita mengangguk.


"Mau makan dimana?", tanya Gita


"Aku akan membawamu ke suatu tempat. Dan pastinya, kamu akan suka!",


"Kakak membuatku penasaran!",


Dirga tersenyum. Dia melajukan mobilnya ke satu tempat dimana pertama kali dia melihat Gita. Tempat dimana dia mulai memperhatikan dan menyukai Gita.


Mobil berhenti di salah satu restoran yang membuat Gita menatap calon suaminya.


"Kak, tempat ini ...?",


"Ya ... tempat ini adalah tempat kerjamu dulu. Dan disinilah pertama kali aku melihatmu dan menyukaimu!",


Gita menyunggingkan senyum manisnya. Ia menatap calon suaminya dengan lekat. Dirga sudah menyukainya sejak dulu, tapi hatinya malah ia berikan kepada Danar yang dengan jelas tidak pernah mencintainya.


"Kamu tidak mau turun?. Kenapa malah menatapku begitu?", tanya Dirga keheranan. Gita menggeleng pelan.


"Aku hanya menyesal. Kenapa tidak sejak awal aku menyadari keberadaanmu. Aku menyia-nyiakan orang yang tulus dan lebih memilih orang yang salah!", ucapnya pelan


Dirga menatap calon istrinya lalu menggenggam tangannya dengan lembut.


"Tidak perlu menyesali apapun. Dan tidak perlu mengingat masa lalu. Cerita hidup yang lalu, menjadi pelajaran berharga agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Juga sebagai bentuk pendewasaan diri. Lagipula, Allah telah menjawab semua doaku dengan menyatukan kita. Yang harus kita lakukan sekarang hanya fokus pada masa depan. Kamu, aku dan anak-anak kita nanti!",


"Ish, kenapa jadi sampai ke anak sih. Lagi serius juga!",


"Loh, apa ada yang salah?. Perlu kamu tahu ya sayang. Setelah menikah nanti, aku ingin kita memiliki banyak anak!", ucap Dirga tersenyum


"Ih, laki-laki kalau ngomong gampang ya!",


"Jelas dong. Jadi, setelah menikah kita harus rajin bikin, supaya cepat jadi!",


Gita mendelik mendengar perkataan Dirga. Ternyata pria itu punya sisi lain yang baru dia tahu hari ini.


"Mesum. Udah ah, sebaiknya kita turun terus makan. Aku udah lapar!",


Dirga terkekeh melihat tingkah calon istrinya. Mereka turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran. Saat hendak masuk, tak sengaja mereka bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


"Wah, wah, wah ... lihatlah siapa ini!",


__ADS_2