
"Aku hanya takut, aku hamil!",
Ana menatap sahabatnya kemudian terdiam. Memang jarang, sekali berhubungan langsung hamil. Tapi tidak menutup kemungkinan hal itu bisa terjadi jika si perempuan dalam masa subur.
"Berdoa saja, semoga semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Kalian hanya sekali melakukannya, kecil kemungkinan kau akan langsung hamil!", Gita hanya tersenyum, benar yang dikatakan Ana. Dia tidak akan hamil hanya dengan sekali berhubungan.
"Siapa yang hamil??", dua wanita itu mendadak diam melihat kedatangan Anisa.
"Kenapa kalian diam, siapa yang hamil?", ulang mertua Gita tersebut. Anisa menatap keduanya penuh selidik. Matanya melebar melihat tanda merah yang memenuhi leher menantunya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?", tanya Anisa tegas. Gita memandang Ana, begitupun sebaliknya
"Katakan padaku Git, siapa yang telah menodaimu!!", ucap Anisa keras
"Mas Danar!!", Anisa menghela nafas berat. Sekarang apa lagi yang putranya lakukan.
"Dimana dia sekarang?", selidik Anisa
"Dirumah ma!!",
Anisa pergi dengan wajah yang terlihat marah. Gita menghela nafas, menahan Anisa juga percuma.
"Sekarang, apa rencanamu?", tanya Ana penasaran
"Entahlah, mama terlihat sangat marah. Dia pasti akan memarahi mas Danar. Dan mas Danar akan semakin membenciku. Apa aku harus menyerah sekarang?", lirih Gita
Ana kembali menatap sahabatnya, jika bisa berkata ya. Maka Ana akan mengatakan itu, sayangnya Ana tahu jika Gita masih mencintai suaminya. Tapi Ana juga miris melihat sahabatnya menderita dan makan hati setiap hari.
"Tanyakan pada hatimu Git, terkadang, kita harus menyerah demi sebuah kebahagiaan baru!",
"Kau benar, jika saja aku bisa memutar waktu. Jika saja aku tidak bodoh mengenalinya siapa sebenarnya yang perhatian kepadaku. Mungkin aku tidak akan menderita seperti ini!", lirihnya pelan
"Apa maksudmu Git?",
"Dirga, semua perhatian yang kuterima sejak SMA bukan dari mas Danar. Tapi dari Dirga!!"
Ana menutup mulut untuk menutupi keterkejutannya. Pantas saja saat dia bertemu Dirga, pria itu langsung menanyakan kabar Gita. Rupanya ini alasannya.
__ADS_1
"Sayangnya hatiku tidak bisa berpaling. Aku mencintai mas Danar sampai saat ini meski aku tahu, bukan dia yang memberikan semua perhatian itu. Aku bodoh kan An?", Gita tersenyum getir, cintanya pada Danar telah menutup hatinya untuk pria lain. Walau sadar jika dirinya bukan wanita yang diinginkan suaminya. Gita tak bisa mengelak bahwa dia masih mencintai Danar.
"Cinta memang membuat orang menjadi gila. Kalau kau mencintainya, perjuangkan dia. Buat dia melihatmu, kau juga istrinya. Kau juga punya hak atas suamimu. Jika usahamu tidak membuahkan hasil. Mungkin opsi terakhir, kau harus mencari pria lain!!", Ana terkekeh memandang sahabatnya. Gita ikut tertawa mendengar ucapan gadis Jawa itu.
"Terima kasih An, kamu orang yang selalu ada saat aku terpuruk. Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai sahabatku!",
"Aku juga beruntung memiliki kamu sebagai sahabatku. Sudah ah, kok jadi melow gini. Ayo makan, makanannya sudah dingin. Jangan pikirkan apapun saat ini!", Gita mengangguk
Meraka memakan sarapan dengan tenang, Gita berusaha menelan nasinya, pikirannya masih terbayang kejadian semalam. Bohong kalau dia bilang sudah melupakan semuanya. Bayangan kejadian panas itu masih membekas jelas di kepalanya. Tangan Gita mulai gemetar, tubuhnya kembali merinding.
"Tarik nafas, rilekskan pikiranmu. Buang perlahan lalu ulangi!", ucap Ana saat melihat sahabatnya mulai gelisah, Gita melakukan seperti yang Ana perintahkan, dan perlahan dirinya mulai merasa tenang.
"Aku kembali mengingatnya An!!", lirih Gita
"Aku tahu, tidak mudah melupakan kejadian itu. Tapi kamu harus berusaha menekan rasa takutmu agar tidak menjadi trauma. Kalau perlu, kita akan pergi ke psikiater!", ucap menyarankan
"Tidak perlu An, aku akan berusaha sendiri. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya!", jawab Gita yakin
"Kamu tidak sendiri, aku akan selalu menemanimu melewati masa-masa sulit ini!", Ana berdiri lalu memeluk sahabatnya.
Setelah sarapan mereka selesai, Ana menelpon kantor dan memberitahukan jika dirinya dan Gita hari ini ijin tidak masuk. Khusus hari ini, Ana akan menemani sahabatnya seharian full. Dia akan menghibur wanita itu agar melupakan semua kesedihannya.
"Mas, kita harus bicara!", paksa Tari
Danar terus berjalan tanpa menghiraukan istrinya, dia baru saja selesai bersiap untuk menuju kantornya.
"Mas ..., hanya kesalahan kecil kamu mengabaikanku seperti ini?", ucapnya kesal
Danar menghentikan langkah, dia berbalik lalu menatap istri keduanya.
"Kamu bilang masalah kecil?!", Tari membisu saat melihat ekspresi wajah suaminya. Nyalinya menciut saat mata Danar menatapnya.
"Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya mama bekerja banting tulang agar kami bisa hidup dengan layak?. Ah tentu saja, kamu hidup dengan sangat baik bersama mama dan pria bajingan itu. Huh ..., bahkan dia tidak mengingat darah dagingnya sama sekali", sarkas pria itu
"Aku tidak tahu apapun yang mama lakukan dimasa lalu mas. Aku tidak tahu jika papa Agung adalah papa kandungmu. Apa itu salahku?!", tanya Tari
"Kamu memang tidak bersalah atas semua yang mamamu lakukan. Tapi kamu ikut menutupi kebenaran ini, apa tujuanmu sebenarnya?. Apa mamamu yang menyuruhmu mendekatiku? Mamamu ingin melukai mamaku lagi?!", tanya Danar lirih. Tari menggeleng cepat
__ADS_1
"Tidak mas, hubungan kita tidak ada sangkut pautnya dengan mama. Aku tulus mencintaimu mas, dan kamu tahu betul akan hal itu. Awalnya mama senang saat aku bercerita tentang kekasihku. Tapi saat tahu kamu adalah anak papa, mama melarangku berhubungan denganmu. Itulah kenapa aku nekat merayumu, hingga kita tidur bersama sebelum menikah. Itu semua agar mama meretui kita!!", jelas Tari
"Jadi benar dugaanku!!. Kau memang merayu putraku agar menikahimu, kau bahkan menggunakan tubuhmu untuk mendapatkannya!!", ucap Anisa sinis.
"Tidak, bukan seperti itu ma. Aku ....!",
"Kau sangat mirip dengan mamamu. Kau merelakan segala cara untuk mencapai tujuanmu. Tidak salah keputusanku menolakmu sebagai menantuku. Kau memang tidak layak masuk kedalam keluarga Adiaksa!!",
"Aku melakukan semua itu karena aku mencintai mas Danar!!", ucap Tari membela diri
"Kau lihat istrimu, seperti inilah wanita pilihanmu. Aku memilihkanmu wanita yang baik tapi kamu malah memilihnya. Lihat sekarang, dia telah mengecewakanmu, membohongimu dan melukai hatimu!!", ujar Anisa menatap putranya
"Aku menyesal ma, seharusnya aku mendengarkan ucapan mama!!", sesal Danar
"Mas kenapa kamu berbicara seperti itu. Apa kamu menyesal telah menikahiku. Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?", lirih Tari
Tentu saja Danar masih mencintai wanita dihadapannya, bahkan sangat. Mereka menjalin kasih selama lima tahun. Banyak kenangan manis dan pahit yang mereka lewati bersama, dan tidak mudah melupakan semuanya dalam sekejap mata. Sayangnya Danar terlanjur kecewa dengan kebohongan istrinya.
"Jawab aku mas?, kamu sudah tidak mencintaiku?", ulangnya
Danar menatap lekat mata istrinya
"Aku masih mencintaimu!", Tari tersenyum mendengar penuturan Danar, " Tapi aku terlanjur kecewa padamu. Bahkan kamu berbohong tentang kehamilanmu. Kamu tahu?, hatiku hancur Tari, hancur. Aku sangat menantikan kehadiran buah cinta kita, aku sangat menginginkan seorang anak. Tapi kamu dengan mudahnya menjadikan semua ini bahan mainan. Karena ulahmu, aku hampir saja membunuh Gita, karena mengira dia telah membunuh calon bayi kita!", ucap Danar dengan mata berkaca-kaca.
"Aku melakukan semuanya karena takut kamu mulai mencintai wanita itu mas. Kalian bahkan dekat saat aku tidak ada sisimu. Kamu terlihat nyaman saat bersamanya. Aku, hanya takut kehilanganmu!", Tari mulai menangis,
"Bukankah kau sudah tahu, Danar itu pria beristri. Sudah menjadi resikomu harus berbagi suami dengan istrinya yang lain. Tapi dengan tidak tahu dirinya kamu ingin menguasai Danar seorang diri. Bahkan berbohong hanya demi keegoisanmu!!", geram Anisa, apalagi Danar terlihat mulai luluh pada istri keduanya.
Danar memang mulai tersentuh mendengar ucapan istri keduanya, jujur dia merasa bersalah. Tari benar, saat bersama Gita, Danar memang mulai merasa nyaman. Bahkan mulai melupakannya, apa mungkin Danar mulai ada rasa pada istri pilihan mamanya?. Apalagi setelah kejadian semalam, Danar mulai merasa candu pada tubuh istri pertamanya.
"Tolong maafkan aku mas. Aku janji akan berubah menjadi istri yang lebih baik lagi. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku!!", mohon Tari, dia memeluk suaminya dengan erat
Anisa memandang jengah menantunya, apalagi Danar yang sepertinya masih termakan bujuk rayu istrinya.
"Aku akan memaafkanmu, jika kamu menyetujui satu hal!", Tari menatap suaminya dengan mata berbinar
"Katakan mas, aku pasti menyetujuinya!", ucap Tari semangat.
__ADS_1
"Aku mau kau menerima Gita sebagai istriku juga!",
Deg