Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Merasa Senang


__ADS_3

Tari yang mendengar kabar bahwa Gita kehilangan bayinya tentu merasa sangat senang. Saat ini dia sedang video call dengan mamanya.


[Tanpa aku bertindak-pun, bayi itu lenyap dengan sendirinya Ma!]


[Kau benar sayang, sepertinya Danar memang ditakdirkan untukmu. Mama yakin setelah ini perempuan itu akan meminta pisah dari suamimu!!]


[Hahah, mama benar. Aku yakin kali ini Gita tidak akan memaafkan mas Danar. Akupun jika jadi dia akan langsung meninggalkan mas Danar], ucap Tari sambil tertawa


[Tidak sia-sia kau selalu menghasut suamimu. Untung saja, mama dengan cepat menyadarkanmu. Kau bahkan seperti orang gila waktu itu]


[Ya ... Aku beruntung memiliki mentor yang berpengalaman]


Mereka sama-sama tertawa, setelah mengobrol cukup lama, Tari mematikan telponnya. Kini dia tengah merebahkan diri dengan nyaman di ranjang. Wanita seksi itu tertawa sendiri, ternyata hanya dengan hasutan, ia tak perlu repot-repot turun tangan. Tidak akan ada lagi yang menghalanginya memiliki Danar seorang diri.

__ADS_1


Hidup itu kejam, kita harus pintar agar menjadi pemenang. Kau sudah kalah Git, dan akulah pemenangnya.


Tari meraih ponselnya, tidak ada panggilan atau pesan dari suaminya. Tidak masalah, Danar mungkin masih dirumah sakit, pikirnya. Tari memilih tidur cantik diatas ranjang empuknya. Kini wanita itu perlahan masuk kedalam alam mimpi


****


"Kali ini Mama minta, lepaskan dia!."


Danar terkesiap, dia menatap mamanya yang juga menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lalu apa yang kau harapkan. Apa kau yakin kali ini Gita akan memaafkanmu?. Kau bahkan menghilangkan nyawanya!!." ucap Anisa geram, ia sudah lelah menghadapi sikap keras kepala putranya.


"Tapi itu bukan sepenuhnya salahku Ma. Aku tidak berniat membuatnya celaka!." bela Danar

__ADS_1


"Sengaja atau tidak, kenyataannya kau membyat Gita celaka!!."


Danar kembali mematung, memang dirinyalah penyebab Gita kehilangan bayinya. Tapi, dirinya tidak bermaksud demikian. Tidak ada seorang suami yang tega mencelakai istrinya sendiri. Ini murni ketidaksengajaan. Jika dia ditanya bersedih atau tidak, jawabannya adalah ya. Danar begitu sedih melihat kondisi Gita apaplgi dia juga merasa kehilangan atas lepergian bayinya. Danar hanya berharap, kali ini Gita masih mau memaafkannya.


"Kenapa diam?. Kau sadar akan kesalahanmu?!." tanya Anisa sengit


"Mama bahkan percaya jika kamu sudah berubah, mama sempat yakin kalau kamu benar-benar menyayangi Gita!." gumam Anisa lirih, ia kembali mengusap sudut matanya, "Kehilangan seorang anak, bagi seorang ibu itu sama seperti kehilangan seluruh nyawa. Gita pasti merasakan sakit yang teramat sangat. Dan semua itu karena ulahmu. Kau meragukan anakmu sendiri, kau menuduh Gita berselingkuh dengan pria lain. Kau tidak hanya melukai hatinya sekali, tapi berkali-kali. Cukup sudah, mama minta kau mengakhiri semuanya. Gita berhak bahagia, dia pantas mendapat kebahagiaan dari orang lain karena kau tidak bisa membahagiakannya!!."


Danar tertohok mendengar kalimat yang mamanya ucapkan. Jika saja dia tidak emosi, jika saja dia tidak terhasut omongan Tari, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.


"Mama tidak akan menghalangi hubunganmu dengan Tari lagi. Sekarang semua mama serahkan padamu. Apapun yang kau lakukan, mama tidak akan peduli lagi!!."


Danar hanya bisa tertunduk lesu, mamanya bahkan sudah menyerah terhadapnya. Perempuan paruh baya itu duduk dikursi panjang sambil menutupi wajahnya dengan tangan, bahunya bergetar dan Danar yakin, mamanya sedang menangis. Dirinya kembali dihantui rasa bersalah.

__ADS_1


Kini dirinya menatap Gita dari kaca pintu. Perempuan terlihat menangis dipelukan Dirga. Jujur, Danar tidak suka melihatnya, namun dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Cemburupun rasanya dia sudah tidak berhak.


"Mama akan segera mengurus perceraian kalian!."


__ADS_2