
"Diam!!. Kalian semua diam!!!. Aku sudah bosan hidup dikelilingi manusia munafik seperti kalian. Hahah, kalau kalian berani mendekat, aku tidak segan-segan membunuh Tari!!."
Tari tak dapat menahan air matanya. Bukan karena dia takut mati. Tapi lebih pada kekecewaannya pada sang Mama. Dirga dan Agung sudah mengambil posisi. Bahkan anak buah Dirga langsung mengelilingi Tania.
"Tania, lepaskan Tari. Jangan sampai kau menyesal karena melukai putri kandungmu sendiri!."
Tania bukannya takut, dia malah tertawa. "Aku tidak akan menyesal, hidupku dan Tari tidak ada bedanya. Hidup kami menderita, hidup kami dipenuhi luka. Bahkan, jika kami matipun tidak akan ada yang bersedih karenanya. Tapi sebelum itu, aku harus membalas perbuatan kalian!!."
Tania menyeret Tari keluar, berusaha menghadang mereka yang akan melawannya dengan mengarahkan pisah tersebut ke arah mereka. Diapun berhasil sampai ke teras, dan sebentar lagi akan lolos.
Dirga dan anak buahnya saling lirik, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk segera menyergap Tania. Namun sepertinya gerakan mereka sudah terbaca lebih dulu oleh perempuan itu. Dia semakin menekan pisau dileher Tari hingga darah mulai menetes dari lehernya. Tari terlihat meringis menahan sakit.
Tari berusaha melepaskan diri dari Mamanya,
"Awkhh!", ringis Tania saat Tari menyikut perutnya dan berhasil lepas dari kungkungannya. Nafas Tari terangah, anak buah Dirga segera membekuk Tania, namun siapa sangka wanita itu malah menodongkan pistol ke arah mereka yang entah dari mana wanita itu mendapatkannya. Mereka semua perlahan mundur, bukan hanya Tari yang terkejut dengan kenekatan Mamanya, Dirga dan Agung bahkan tidak menyangka jika Tania akan senekat dan segila itu.
"Tania, jangan gila!! Lepaskan senjata itu sekarang. Polisi akan segera datang. Jangan sampai kau menerima hukuman yang lebih berat!!," ucap Agung yang tak kalah panik saat tiba-tiba Tania mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya.
Tawa wanita itu menguar, tatapannya begitu tajam dan juga sinis." Aku tidak takut dengan ucapanmu. Jika memang aku akan masuk penjara, aku tidak akan menyesal karena sudah memberikan kalian pelajaran!!."
Tania mengarahkan pistol itu ke arah Agung, dia kembali tertawa namun air mata juga mengalir dari matanya, "Kau memang memilihku. Kau memang menjadikan aku istrimu. Tapi aku bukan tidak tahu jika hati dan perasaanmu masih untuk mantan istri tercintamu itu. Aku tahu semuanya, Agung. Aku tahu kau tidak sepenuhnya memberikan hatimu padaku. Kau membawaku terbang, tapi kau juga menjatuhkanku ke dasar jurang!!."
Agung menatap Tania lekat, mungkin benar yang istrinya itu katakan. Dia bukan tidak menerima Tania sepenuhnya, tapi rasa bersalahnya pada Anisa dan Danar lah yang membuatnya demikian. Apalagi setelah dia meninggalkan Anisa begitu saja. Hidup Anisa tak hanya hancur, tapi juga menderita. Bahkan ia tahu jika Anisa pernah tak mampu makan selama beberapa hari. Melihat mantan istri dan anaknya terlantar sedangkan dirinya hidup nyaman, tentu membuat Agung tersiksa.
"Ma, aku mohon. Akhiri semuanya!," lirih Tari
Tania menggeleng, "Sudah terlambat untuk mundur, Tari. Pilihan yang tersisa hanya maju!!."
"Ma, ayo kita mulai hidup baru. Ayo kita pergi dari sini. Jika Mama menyerah, aku akan meminta Papa dan Dirga melepaskan kita. Kita akan hidup damai seperti yang Mama inginkan!."
__ADS_1
Tania menggeleng cepat, "Mereka tidak akan membiarkan kita pergi setelah semua yang kita lakukan, Tari. Mereka hanya orang-orang jahat yang selalu menyakiti kita. Kau lihat, Papamu itu hanya menjadikan aku lelucon. Dan Dirga, dia selalu mencampuri urusanku dan aku tidak menyukai itu. Apalagi, dia menikah dengan wanita yang menghancurkan hidupmu. Wanita yang merebut kebahagiaanmu. Dan karena istri Dirga juga, Danar harus menikahi wanita lain dan mencampakkanmu!!."
Tania tertawa sekaligus menangis, dia sudah seperti orang gila, perempuan itu menarik pelatuk dan bersiap menembak Agung. "Katakan selamat tinggal, suamiku sayang. Kita tidak sepenuhnya saling mencintai di dunia. Tapi kita akan saling mencintai selamanya di akhirat!!"
Dor
"Tari!!."
Pekik Tania, dia membeku ditempat, bukan Agung yang tertembak, melainkan putrinya sendiri. Seketika air matanya kembali jatuh, bersamaan dengan robohnya tubuh Tari yang bersimbah darah dipangkuan Agung. Dan tembakan Tania tepat mengenai dadanya.
"Tari!!.", pekik Agung. "K-kenapa kau mengorbankan nyawamu untukku, Nak!!", Agung tak mampu membendung air matanya. Ia tidak menyangka jika putri yang dia sayangi seperti anak kandungnya sendiri rela mengorbankan nyawa untuknya.
"A-aku menyayangimu, Pa. A-ng-gap i-ini buk-ti bak-ti-ku pa-damu!! Se-te-lah i-ini, hidup-lah ba-ha-gia", Tari menatap Dirga dengan tatapan sendu, "M-maaf!."
Setelah mengatakan itu, Tari langsung memejamkan mata, "Apa yang sudah kau lakukan, Tania. Kau membunuh putrimu sendiri!!." bentak Dirga
"Pak Agung!!." Agung langsung roboh ditubuh Dirga setelah dia mengorbankan diri demi menyelamatkan pria itu. Agung seketika langsung tak sadarkan diri.
"Jangan diam saja. Tangkap wanita itu!!," teriak Dirga memerintah. Anak buah Dirga segera mengejar Tania yang melarikan diri setelah tembakan keduanya juga salah sasaran.
Polisi yang baru datang ke lokasi langsung membantu Dirga mengevakuasi Tari dan Agung. Mereka sudah datang tepat waktu, hanya saja, Tania sudah lebih dulu bergerak sebelum polisi datang.
"Siapkan mobil. Kita akan membawa korban kerumah sakit!."
Dirga menggendong Tari dan memasukkan dalam mobil, ingatannya kembali ke beberapa tahun silam. Dia dan Tari memang bukan saudara kandung namun mereka pernah dekat layaknya kakak adik. Sikap manja Tari membuat hidup Dirga lebih berwarna. Tapi semua perasaan seorang kakak pada adiknya lenyap begitu saja, saat Tari juga ikut membantu rencana Tania meninggalkan ayahnya setelah menguras habis harta Januar.
"Aku mohon bertahanlah! Aku akan memaafkan semua kesalahanmu jika kamu bisa bertahan!!," Dirga tak mampu membendung air matanya. Dia hanya bisa mengucap doa semoga Tari dan Agung baik-baik saja.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu lama. Dirga bahkan membentak sopirnya berkali-kali. Sampai akhirnya, merekapun tiba dirumah sakit. Dirga berteriak hingga beberapa perawat datang dengan membawa brangkar lalu membawa Tari dan Agung ke ruang gawat darurat.
__ADS_1
Tak jauh dari sana, Anisa melihat tubuh Tari dan Agung bersimbah darah, dia cukup dibuat terkejut dengan kondisi mantan suami dan menantunya. Jantungnya berdetak begitu cepat, tubuhnya sedikit bergetar melihat kondisi mereka berdua. Anisa langsung menyusul Dirga, dia bahkan urung menebus obat untuk Danar di apotik.
"Dirga, apa yang terjadi dengan Tari dan Agung?!!", tanya Anisa dengan raut wajah khawatir.
"Ini semua ulah Tania!", jawab Dirga lirih
Anisa tak bertanya apapun, dia tidak mungkin menanyakan kejadian ini diwaktu yang tidak tepat.
Tak lama dokter keluar, dia meminta persetujuan untuk melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru ditubuh korban. Dan Dirga dengan sukarela menjadi wali mereka.
Dirga dan Anisa menunggu dengan gelisah, sudah hampir tiga jam, namun dokter belum juga keluar. Ponsel Dirga terus berdering, beberapa kali dia mendapat panggilan telepon dari sang istri. Dirga bimbang, haruskah dia memberi tahu kejadian ini pada istrinya. Apalagi Gita tengah hamil, tapi Dirga akhirnya memilih memberi tahu Gita. Walau bagaimanapun, Gita harus tahu kejadian ini. Perempuan itu terdengar panik dan mungkin sekarang, dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sudah lima jam, namun tak ada tanda-tanda dokter akan keluar.
"Mas, bagaimana keadaan Tari dan Pak Agung!?", tanya Gita dengan nafas tersengal-sengal.
Dirga menatap istrinya, ada buliran keringat yang menetes diwajah cantiknya. "Dokter belum keluar!." Dirga segera mengusap keringat Gita dengan sapu tangan dari dalam sakunya.
Gita diam, dia memilih mengusap punggung suaminya demi memberinya ketenangan. Gita yakin, yang saat ini suaminya butuhkan hanya dukungannya.
Dirga berusaha tersenyum, walau Gita tahu ada rasa bersalah besar dari senyum yang terbit dibibir suaminya. Ya, Dirga sudah menceritakan kepadanya, jika dia dan Agung berhasil menangkap Tari dan Tania. Dirga bahkan membantu Agung melaporkan perbuatan Tania pada polisi. Tapi siapa sangka kejadiannya malah seperti ini.
"Bagaimana keadaan mereka, dok?", tanya Dirga setelah seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Gita dan Anisa juga ikut mendekat untuk mendengarkan penjelasan dokter.
"Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru ditubuh korban. Korban laki-laki, kondisinya kritis karena peluru hampir menembus jantung korban. Dan untuk korban wanita--," dokter menjeda ucapannya.
"Bagaimana kondisi adik saya, dok?", tanya Dirga dengan khawatir yang begitu kentara dari wajahnya.
"Maafkan kami, Pak. Kami memang berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh korban. Namun, peluru ternyata menembus jantungnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain. Korban tidak berhasil kami selamatkan. Dengan sangat menyesal kami mengatakan jika korban dan bayinya telah meninggal dunia!."
__ADS_1