
"Ma, apa yang Mama lakukan? Mama sudah menabrak Danar!!", ucap Tari panik. Dia bisa merasakan betapa kerasnya mobilnya menabrak mantan suaminya itu.
"Diamlah. Salah sendiri tiba-tiba mengagetkan Mama. Mama tidak sengaja menginjak gas dan menabraknya!", jawab Tania tanpa dosa.
Tari menatap Mamanya tidak percaya. Sekarang mereka akan menjadi buronan polisi karena kasus tabrak lari. Tapi Tania malah bersikap setenang itu.
"Ma, mama sadar kan? Yang Mama lakukan tadi akan membuat hidup kita tidak tenang. Kita akan dicari polisi dan kemungkinan terburuk, kita akan mendekam di penjara!!."
Tania malah tertawa, "Kita langsung ke luar negeri setelah ini. Mama yakin, Anisa belum lapor polisi. Dia pasti masih mengurus mantan suamimu yang saat ini sedang kritis atau mungkin ... sudah mati!."
"Ma!!", teriak Tari.
"Jangan membentakku. Apa kamu masih mencintai pria ba*ingan itu, hah!! Ingat Tari, dia sudah mengkhianatimu. Dia menghancurkan hidupmu. Bukankah bagus kalau dia mati. Rasa sakitmu langsung terbayar lunas!!."
"Mama tidak seharusnya menabrak Danar!!."
"Kau benar. Seharusnya yang tertabrak adalah Anisa!!."
"Sama saja, Ma. Seharusnya Mama tidak menabrak siapapun!! Kenapa Mama melakukan hal itu?."
Tania menatap tajam ke arah putrinya, "Hidup ini kejam, Tari. Kita hanya punya satu pilihan, ya atau tidak.
__ADS_1
Tari bungkam, kepalanya mulai berdenyut nyeri. Bayangan Danar terlempar jauh terus menghantuinya. Bagaimanapun, Tari masih memiliki rasa pada mantan suaminya itu. Tidak mudah menghilangkan rasa yang delapan tahun ia rajut.
"Kamu sudah menjual semua aset Danar, bukan?", Tari mengangguk lemah. "Bagus, kita langsung ke bandara sekarang. Kita tidak boleh membuang waktu. Sebelum polisi menemukan kita!!."
Tari hanya bisa pasrah, entah apa rencana Mamanya. Yang jelas, dia tidak bisa berfikir saat ini. Pikirannya terus tertuju pada Danar. Entah bagaimana nasib mantan suaminya itu sekarang.
Tania benar-benar melajukan mobilnya menuju bandara. Setelah memarkirkan mobil, dia mengambil koper yang ada dibagasi.
"Jadi Mama memang sudah merencanakan ini?", tanya Tari heran.
"Tentu saja. Mereka yang sudah menyakitimu pantas mendapatkan hukuman. Sekarang kita sudah tidak memiliki urusan lagi dengan mereka. Sudah waktunya kita bebas. Hidup tenang dan damai!."
Tari masih terdiam, "Ayo cepat, pesawat kita akan berangkat sebentar lagi!", sambung Tania.
"Kalian mau kabur setelah membuat onar? Cih, tidak semudah itu!!."
Tania menatap nyalang mantan anak tirinya. Bagaimana bisa dia menemukan keberadaannya saat ini.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Jadi, menyingkirlah dari hadapanku!!."
Dirga tertawa sinis, "Benarkah kita tidak memiliki urusan? Ah, sepertinya ada. Kau tidak lupa dengan paket yang aku kirimkan, bukan?."
__ADS_1
Tania menatap tajam kepada Dirga. Tari yang tidak mengerti situasi menjadi semakin bingung. Jika berhadapan dengan Dirga, hidupnya pasti tidak akan tenang.
"Apa maumu sebenarnya?", tanya Tania dengan geram.
Dirga kembali menatap mantan mama tirinya dengan tatapan tajam, "Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu!!."
Tania tertawa, "Aku tidak melakukan apapun padamu. Aku bahkan tidak punya urusan lagi denganmu. Kenapa kau ikut campur dengan urusanku, hah!!! Pergi dari sini!!."
"Kau yakin tidak punya urusan denganku? Aku ingatkan, kau ingat dengan baju kesayangmu?apa kau lupa, bagaimana bisa baju itu dipenuhi dengan darah?."
"Jangan membual. Baju itu sudah lama hilang. Sekarang, pergi dari sini. Jangan menggangguku lagi!!."
"Bawa mereka!!", perintah Dirga. Beberapa orang berbaju hitam segera membawa mereka. Tania dan Tari memberontak, mereka bahkan menjadi tontonan banyak orang. Tapi tidak ada yang berani bertanya atau membela keduanya.
"Lepaskan aku, ba*ingan. Lepas!!", teriak Tania.
Namun percuma, mereka seolah tuli dan tetap menyeret Tania dan Tari masuk ke dalam mobil. Tania berusaha terus memberontak, hingga akhirnya para pria itu memutuskan untuk mengikat tangannya.
"B*engsek. Kalian tidak tahu siapa aku!! Kalian akan menyesal karena berbuat seperti ini padaku!!."
"Diam kau pembunuh!!."
__ADS_1
"P-pem-bu-nuh!!."