
Kondisi Agung belum juga membaik, dia masih belum sadarkan diri sejak kejadian itu. Anisa selalu menyempatkan datang kerumah sakit untuk mengecek kondisi mantan suaminya. Bukan karena masih memiliki perasaan padanya. Namun sebatas rasa kemanusiaan. Apalagi, Tania masih menjadi buronan polisi dan hingga kini keberadaannya belum ditemukan. Agung sudah tidak memiliki keluarga. Hanya dirinya dan Danar yang sekarng menjadi keluarganya.
"Kamu tidak mau bangun? Sudah sembilan hari kamu tidak bangun. Tidakkah kamu merasa lelah?!."
Anisa selalu mengajak Agung bicara, dia tahu jika pasien koma bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Maka dari itu, dia terus mengajak Agung berkomunikasi, berharap pria itu sadar dan membuka mata. Tapi melihat kondisi mantan suaminya, sepertinya Agung sudah lelah. Kadang pria itu meneteskan air mata saat Anisa mengajaknya bicara.
"Aku sudah memaafkan semua perbuatanmu dimasa lalu. Jika itu yang membuatmu berita meninggalkan dunia ini, maka aku ikhlas melepas kepergianmu!."
Ceklek
Pintu terbuka, terlihat Anya mendorong kursi roda Danar memasuki ruangan Agung.
"Bagaimana kondisinya, Ma?", tanya Danar saat dirinya sudah berada disamping ranjang Papanya.
"Dia belum sadar. Dan kondisinya masih sama seperti sebelumnya!."
Danar memegang tangan Papanya. Walau sakit hati dan kecewanya pada Agung masih membekas di ingatan. Tapi Danar sudah memaafkan Papanya. Agung adalah sosok yang baik. Bahkan Tari rela mengorbankan nyawanya untuk menolong Agung. Walau pada akhirnya, Agung juga mengalami nasib yang sama dengan Tari.
"Pa, aku sudah memaafkan kesalahan Papa. Jika Papa menunggu kata maaf dariku, maka sekarang aku sudah mengatakannya. Aku tidak mau menghambat jalan Papa jika Papa memang ingin pergi!."
Seketika monitor langsung berbunyi, tanda lurus terlihat disana yang artinya Agung sudah tiada. Anisa langsung memanggil dokter, sementara Danar hanya bisa menatap Papanya dengan sendu. Agung hanya menunggu kata maaf darinya. Dan kini, dia benar-benar telah pergi.
Dokter datang dan langsung mengecek kondisi pria tua itu. "Maaf, Pak Agung sudah berpulang!."
__ADS_1
Anisa langsung menangis, kenangan bersama mantan suaminya dulu kembali melintas, banyak suka duka yang mereka lewati bersama. "Aku ikhlas, kau sudah pergi dengan tenang!."
*
*
*
"Apa kamu merasa sakit lagi?", tanya Danar pada Anya. Beberapa hari ini, perempuan itu sering merasakan kontraksi palsu.
Anya mengangguk pelan, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan. Dan perkiraan kelahiran anaknya tinggal seminggu lagi.
"Apa kita kerumah sakit sekarang? Aku akan memanggilkan Mama!", ucap Danar dengan lirih. Dia sudah bisa berjalan beberapa langkah, tapi membawa Anya kerumah sakit saat istrinya akan melahirkan tentu saja hal mustahil yang dia lakukan.
Danar tersenyum, dia begitu beruntung memiliki istri sebaik Anya. Anya adalah perempuan sabar yang mau menerima dia apa adanya. Disaat rasa percaya diri akan dirinya sendiri mulai terkikis. Anya membuktikan bahwa dirinya mau menerima keadaan Danar apa adanya. Dia bahkan dengan sabar dan telaten membantu serta melayani semua kebutuhan Danar. Perlahan Danar luluh walau kegundahan dihatinya masih ada. Dia takut kehilangan Anya. Dia takut Anya akan pergi seperti Gita dan Tari. Tapi nyatanya, sampai sekarang, Anya selalu setia mendampinginya. Bukankah Danar pria yang begitu beruntung?
"Mas!."
"Kenapa?."
"Akhir-akhir ini, perasaanku selalu gelisah. Tapi ini wajar dialami wanita yang akan melahirkan spertiku. Aku sudah bertanya pada beberapa orang yang aku temui dirumah sakit saat periksa kandungan. Nanti, kalau aku melahirkan, kamu akan menemaniku, kan?."
Danar tersenyum lembut, "Aku bukan hanya akan menemanimu saat melahirkan. Tapi aku akan menemanimu, selamanya. Merawat dan membesarkan anak kita bersama. Hingga muat yang memisahkan kita!."
__ADS_1
Anya tersenyum haru, ternyata ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpanya. Awalnya, Anya menganggap Danar adalah kesalahan. Pria yang merusak dan menghancurkan hidupnya. Namun, sekarang dia merasa beruntung memiliki suami seperti Danar. Pria itu perhatian, penyayang dan menyayanginya dengan tulus. Begitupun dengan Anisa. Tidak ada kata lain yang selalu ia ucapkan selain kata syukur kepada Allah semata.
"Menangislah untuk tangisan kebahagiaan. Jangan pernah keluarkan air matamu untuk kesedihan. Kita akan hidup bersama selamanya, menua bersama bahkan kelak sampai kita punya cucu dan cicit!."
"Semoga Allah mendengar doa baikmu, Mas!!."
Tiba-tiba Anya meringis, wajahnya seketika pucat dengan keringat yang keluar dari wajahnya.
"Sayang, kamu kenapa?", tanya Danar panik
"Perutku sakit, Mas. Sakit sekali!!."
Tanpa sadar, Danar berlari keluar kamar lalu berteriak memanggil Anisa.
"Ada apa Da---!," ucapan Anisa terhenti melihat anaknya yang berdiri tanpa bantuan tongkat.
"Danar, kamu sudah bisa berjalan tanpa tongkat?", teriak Anisa kaget. Danar mental kakinya, benar, dia berjalan tanpa tongkat. Danar juga tersenyum melihat dirinya bisa berdiri tanpa menggunakan tongkat lagi.
"Kamu memanggil Mama karena ini?."
Wajah Danar kembali tegang, ia lupa jika istrinya tengah kesakitan didalam kamar.
"Astaga, aku lupa. Anya mau melahirkan!!."
__ADS_1
"APA?."