
Dirga mengantar Gita kerumahnya setelah makan malam. Sebenarnya, Dirga meminta Gita tinggal dengan Januar, namun Gita menolak. Perempuan itu beralasan ingin tinggal dirumahnya sendiri karena merindukan kenangan masa lalunya bersama mendiang orang tuanya. Lagipula, mereka akan menikah dua minggu lagi. Dengan terpaksa Dirga mengiyakan permintaan calon istrinya.
Gita menatap sekeliling rumahnya. Rumah dimana ia dilahirkan, rumah dimana ia dibesarkan. Rumah yang memiliki kenangan pahit dan manis bersama kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, aku merindukan kalian. Apa kalian bahagia disana?. Sebentar lagi aku akan menikah. Pernikahan keduaku", Gita tersenyum sambil meneteskan air mata. Dia memandang lekat foto kedua orang tuanya. "Aku sudah menemukan pria yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku akan membina rumah tangga yang bahagia dengannya. Doakan aku tidak gagal seperti dulu. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang disana, aku akan selalu mengirimkan doaku untukmu, Ma, Pa!",
Gita segera beranjak ketika mendengar ketukan pintu. Pasti Ana, karena tadi Dirga meminta Ana untuk menemani Gita.
"Kamu sudah da ... !", ucapan Gita menggantung ketika yang datang bukan Ana, melainkan Danar. Wajah Gita langsung berubah dingin melihat mantan suaminya.
"Mau apa kamu kemari?", tanya Gita dengan nada ketus
"Kamu tidak mempersilahkan aku masuk?", Gita menatap Danar tajam mendengar pertanyaan pria itu.
"Ini sudah malam, lagipula aku tinggal sendiri. Aku tidak mau terjadi fitnah. Jadi, sebaiknya kamu pulang sekarang!", Gita hendak menutup pintu namun ditahan oleh Danar
"Aku ingin bicara, diluarpun tak apa. Aku mohon, sebentar saja!",
Gita menghela nafas. Jujur, dia malas meladeni mantan suaminya ini.
"Lima menit. Aku beri kamu waktu lima menit!",
Danar memandang Gita dengan lekat. Rasa rindu pada mantan istrinya begitu banyak. Ingin sekali dia memeluk wanita itu. Tapi Gita pasti akan marah jika ia melakukannya.
"Jadi bicara tidak?. Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, sebaiknya pergi dari sini. Buang-buanh waktu saja!!",
__ADS_1
Gita berbalik dan hendak masuk kedalam rumah. Tapi Danar menarik tangannya hingga berada dihalaman rumah.
"Maaf ... !", ucap Danar saat Gita menyentak tangannya dengan keras.
"Git, aku minta maaf atas semua perbuatanku dimasa lalu!",
Gita hanya mendengarkan Danar, walau terlihat begitu enggan.
"Aku tahu kesalahanku begitu banyak padamu. Aku sungguh menyesal. Maukah kamu memaafkanku?", tanya Danar dengan sendu
Gita bersedekap dada, lalu menatap mantan suaminya.
"Bisa saja aku memaafkanmu!", Danar tersenyum mendengar hal itu. "Memaafkan itu mudah, tapi melupakan semua yang pernah terjadi, itu mustahil. Luka yang kamu torehkan, itu terus membekas disini!", Gita memegang dadanya.
Danar kembali menatap mantan istrinya dengan sendu.
Gita tersenyum sinis,
"Aku tidak butuh sujudmu. Lagipula, mau bersujud atau menangis darah sekalipun. Semua tidak akan kembali seperti semula. Waktumu sudah habis, sekarang pergilah!!",
Gita mulai melangkahkan kakinya,
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?",
Langkah Guta terhenti, dia mengepalkan tangannya kuat, Danar sungguh tidak tahu diri. Setelah semua yang dia lakukan, tanpa dosa pria itu memintanya kembali.
__ADS_1
"Apa kau sudah berkaca sebelum mengatakan hal itu?", tanya Gita dengan sinis.
"A-aku hanya mengutarakan isi hatiku?",
"Dengarkan ini baik-baik, Danar Adiaksa!!. Sampai matipun, aku tidak sudi kembali padamu. Kau adalah pria ba*ji*ngan yang sudah mengahancurkan hidupku. Menghepaskan semua impianku dan menginjak-injak harga diriku. Jika saja negara kita bukan negara hukum. Pasti aku sudah membunuhmu, seperti kau yang sudah membunuh anakku!!",
Deg
Lagi-lagi kata pembunuh mampu membuat hati Danar sesak. Bayangan semua perbuatannya pada Gita kembali berputar, rasa bersalah kembali menghantui pikirannya. Jika saja waktu bisa di putar, tentu Danar tak akan melakukan semua itu.
"Pergilah, jangan pernah menampakkan dirimu dihadapanku lagi. Juga, anggap kita tidak saling mengenal!!",
Gita benar-benar akan melangkah masuk kedalam rumah. Namun baru sampai didepan pintu, dia terkejut karena dipeluk seseorang.
"Maafkan aku, maaf ... !", suara Danar terdengar begitu lirih. Gita menghentak tangan Danar begitu kuat, dia berbalik lalu menampar wajah mantan suaminya.
"Tidak tahu diri!!, beraninya kau memelukku!!", ucap Gita geram
"Maaf ... aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan!",
Gita terlihat begitu emosi, ingin rasakan dia memukul, mencakar dan membunuh Danar saat ini juga.
"Apa kau tuli?!!. Apa kau tidak mengerti yang aku ucapkan?!!. Sampai matipun, aku tidak akan kembali padamu!!. Tidak akan pernah ada kesempatan untukmu. Hiduplah berbahagia dengan istri tercintamu itu. Dan jangan pernah mengusik hidupku lagi!!",
"Tapi aku masih mencintaimu, aku tidak bisa melupakanmu. Salahkan aku mengharapkan kamu kembali?",
__ADS_1
"Oh, bagus!. Jadi benar dugaanku. Kau menemui pelakor ini!!",