Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Kenekatan Tania


__ADS_3

"Tapi jatah servis lolipop aku skors sampai aku melahirkan!."


Glek


Dirga menelan ludah kasar, selain jatah terbang melayang berdua, Dirga sangat menyukai servis lolipop yang Gita berikan. Astaga, masa iya dia harus menghubungi menejer Mall hanya untuk nonton bioskop tengah malam begini.


"Sayang, kalau nontonnya dirumah, gimana? Aku akan siapkan semuanya. Kamu mau nonton film apa?," bujuk Dirga


Gita malah melengos, tentu saja membuat Dirga gelagapan. "Gini deh, gimana kalau jalan-jalan saja. Cari makanan apa gitu, mau makan apa saja aku belikan. Tapi kalau bioskop, kan sudah tutup, yank. Mau cari di Arab pun ya tutup!."


Gita mendelik kesal, lalu menghela nafas, "Aku sudah nggak kepengen nonton!."


Dirga mengerutkan alisnya, "Lah terus?."


"Mau tidur!!," bumil muda itu langsung naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Terus, nggak jadi anget-angetan gitu, yank!."


"Pakai dua selimut. Kalau kurang anget, bawa kayu bakar terus nyalain api unggun dikamar!!."


"Terus ambil jagung di oles mentega kayaknya enak, yank!," sahut Dirga usil


"Kalau mau ya silahkan. Sudah, jangan ngomong lagi. Aku mau tidur!!."


Dirga mengusap rambutnya frustasi, sabar. Menghadapi wanita hamil memang cobaan yang luar biasa.


"Sebaiknya sekarang tidur saja deh. Daripada tambah ngambek, emaknya Prince!" Bathin Dirga


*


*


Tania terus memikirkan cara untuk bisa keluar dari rumah ini. Kemarin, dia berbicara dengan Agung. Sepertinya, suaminya kali ini benar-benar akan memberinya hukuman.


Flash Back On


"Apa kau senang bisa melihatku lagi, Tania?."


Tania bungkam, dia memilih memalingkan wajah.

__ADS_1


"Apa, apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa Mama dan Papa seperti orang asing sekarang?", tanya Tari. Dia bingung melihat kedua orang tuanya seperti tidak saling mengenal. Biasanya mereka akan terlihat romantis dan harmonis disetiap perjumpaan.


"Aku masih hidup, Tania. Kau senang kan?."


Pertanyaan Agung membuat Tania menatapnya, "Aku menutupi bangkaimu belasan tahun. Aku menjaga rahasiamu bahkan menyayangi anakmu hingga mengabaikan putraku sendiri. Memilihmu dan mencampakkan wanita sebaik Anisa. Lalu sekarang, lau melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Ghani?."


Deg


Mendengar nama Ghani, Tari langsung menatap sang Papa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ghani, ayah kandungnya? Apa yang sudah Mamanya lakukan pada ayah kandungnya. Dan dimana sekarang ayahnya itu berada? Kenapa Mamanya menyimpan banyak rahasia darinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah, Pa?. Kenapa Papa berkata seperti tadi? Apa yang sudah Mama lakukan pada ayah kandungku?."


Tania menatap tajam Agung, matanya seolah mengatakan jangan bicara apapun pada Tari. Agung yang mengerti tatapan itu berniat segera pergi, sebelum dia mengatakan satu hal pada Tari.


"Kalau kau ingin tahu dimana dan kenapa kamu tidak pernah dipertemukan dengan ayahmu, tanyakan langsung pada Mamamu!!."


Agung mendorong kursi rodanya, "Satu lagi. Kali ini perbuatanmu sudah diluar batas. Kau harus menerima konsekuensi atas semua yang sadah kau lakukan. Dan jangan pernah mencoba untuk lari. Karena dimanapun kau berada, aku pasti akan menemukanmu!." Agung pergi setelah mengatakan hal tersebut.


Flash Back Off


"Makanlah. Dan jangan pernah berfikir untuk kabur. Kalian tidak akan bisa keluar dari rumah ini!," ucap anak buah Dirga.


"Ma, Mama belum menjawab pertanyaanku soal ayah. Apa yang Mama sembunyikan dariku?."


Tania menatap tajam putrinya, "Sudah aku katakan. Ayahmu itu sudah mati. Kenapa kau tidak mengerti juga, hah!!."


"Kalau memang sudah mati. Dimana makamnya. Aku ingin mengunjungi ayah!," lirih Tari


Tania malah tertawa, "Untuk apa kau mau mengunjungi pria tidak berguna itu? Gara-gara dia hidup kita susah. Tukang mabuk, tukang judi dan banyak hutangnya pula. Jangan bertanya dimana makamnya, dia tidak pantas dikunjungi!!."


Tari menghela nafas, sejahat dan seburuk apapun Ghani. Dia tetaplah ayah kandungnya.


"Aku akan mencari tahu sendiri soal ayah!."


Tania menatap Tari dengan kesal, "Tidak perlu memikirkan manusia pendosa itu. Sebaiknya kamu berfikir, bagaimana caranya kita bisa keluar dari rumah ini. Kalau tidak, bersiaplah masuk penjara!!."


Krek


Pintu terbuka, terlihat Dirga berjalan mendekat diiringi senyum menyeramkannya. Dibelakangnya ada Agung yang sudah bisa berjalan walau tertatih dan dibantu tongkat.

__ADS_1


"Kau sudah siap bertemu dengan polisi, Mamaku sayang!."


Deg


Baik Tari dan Tania sama-sama menatap mereka dengan tatapan terkejut. Jantung keduanya berdetak sangat kencang bak genderang perang.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Polisi tidak akan berani menangkap kami!!," ucap Tania dengan yakin. Membuat Dirga tertawa sinis.


"Benarkah?."


"Tentu saja!."


"Baiklah, karena aku baik hati, maka aku akan mengingatkanmu. Enam belas tahun yang lalu. Setahun setelah kau menjadi Mama tiriku. Kau keluar rumah malam-malam. Pergi ke sebuah klub malam lalu bertemu dengan seorang pria. Dia mengajak mu pergi kemudian ditengah jalan, kalian adu mulut dan dia menamparmu!!."


Deg


Wajah Tania seketika pucat, rahasia yang selama ini dia jaga, pasti akan terbongkar.


"Lalu entah sengaja atau tidak, kau menusuknya dengan pisau. Pria itu langsung tumbang dan kau menusuknya lagi berkali-kali!!."


"Aku hanya membela diri!!", teriak Tania. Semua terperangah, begitupun dengan Tari


"Apa yang Mama bunuh, adalah ayah?", pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut putrinya.


"Katakan, Ma. Apa benar pria yang dimaksud Dirga adalah ayah kandungku? Jawab!!!."


"Ya, dia memang pria ba*ingan itu!! Dia ayahmu!!."


Srek


"Awhhkkk!."


Semua terperangah saat Tania menarik Tari dan menempelkan pisau di lehernya bahkan pisau itu sudah menggores sedikit kulit leher putrinya itu.


"M-mama ... Apa yang Mama lakukan padaku?", tanya Tari dengan lirih.


"Tania, jangan nekat! Lepaskan Tari!!", pinta Agung


"Diam ... Kalian semua diam. Aku sudah bosan hidup dikelilingi manusia munafik seperti kalian!! Hahah, kalau kalian berani mendekat aku tidak segan-segan membunuh Tari!!."

__ADS_1


__ADS_2