
"Baik-baiklah disini. Danar tak akan bisa menemukanmu, setidaknya kamu aman sampai sidang perceraianmu tiba. Aku akan sering-sering mengunjungimu!", ucap Dirga sambil membelai rambut Gita. Perempuan itu tersenyum,
"Kak ... setelah aku benar-benar bercerai. Bisakah kau tidak menemui aku!!",
Deg
Dirga menatap Gita dengan wajah bertanya-tanya. Kenapa dia tak memperbolehkan dirinya menemuinya?.
"Kenapa?", tanya Dirga bingung
Gita mengulas senyum manisnya,
"Aku hanya ingin menata hatiku dengan tenang. Jika kakak merindukanku, kakak bisa menelponku. Aku hanya minta, jangan pernah menemuiku!",
Terlihat jelas raut kekecewaan diwajah Dirga. Hanya menelpon tak akan mengobati rindunya pada perempuan itu. Namun dia harus menghormati keputusan Gita. Lagipula, sekarang Dirga tak perlu khawatir karena dia berada ditangan orang yang tepat.
"Aku akan pulang jika sudah waktunya tiba. Dan ketika hari itu datang, kakak adalah orang pertama yang akan aku temui!", lanjut wanita cantik tersebut.
Dirga menghela nafas berat, tak lupa bibirnya terangkat lalu tersenyum tipis. Biarkan takdir yang berbicara. Dia memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Jika dirinya dan Gita akan ditakdirkan menjadi satu. Maka, mereka akan bersama suatu hari nanti.
"Baiklah, aku akan melakukan semua permintaanmu. Setidaknya, aku masih bisa bertemu denganmu sampai persidangan kalian selesai!",
Gita tersenyum simpul. Kemudian memeluk pria yang dia anggap sebagai kakaknya itu.
"Terima kasih banyak. Terima kasih sudah membantuku sejauh ini. Aku tidak akan melupakan semuanya. Setelah ini, aku akan memulai hidup baruku dengan baik",
Dirga mengangguk, dia membalas pelukan wanita yang telah bertahta di hatinya sejak lama.
__ADS_1
"Istirahatlah, kau pasti pelah bukan. Aku akan kebawah menemui Kak Adi!",
Gita mengangguk, kemudian Dirga keluar dari kamar Gita. Pria itu menuruni anak tangga lalu duduk diruang tamu, dimana pemilik rumah berada disana.
"Aku berterima kasih, karena kalian mau menerimanya!", ucap Dirga pada pasangan suami istri tersebut.
Adi dan Mika tersenyum,
"Kau tidak perlu sungkan, sudah seperti dengan siapa saja!", jawab Adi singkat
Dirga tersenyum, dirinya kini berada di Singapura. Lebih tepatnya, dia berada dirumah Tuan Adi, rekan bisnisnya. Ah, bukan hanya rekan bisnis, dia adalah orang yang sudah Dirga anggap seperti kakaknya sendiri. Jika diluar urusan pribadi, hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis. Tidak ada yang tahu, jika keduanya memiliki hubungan lebih dari itu. Mereka sudah seperti keluarga sejak beberapa tahun lalu. Saat itu, Dirga menyelamatkan Adi dari kejaran beberapa penjahat. Dirga bahkan merawat Adi yang penuh luka hingga sembuh. Dirga juga membantu Adi menyusun konsep pembangunan Mall miliknya. Berkat konsep yang Dirga berikan, usaha Adi perlahan mulai berkembang hingga sukses seperti sekarang. Sejak saat itu hubungan mereka terjalin dengan sangat baik. Alasan kenapa Dirga membawa Gita kemari karena, disinilah Gita akan merasa aman. Mereka adalah orang yang tepat yang Dirga percaya bisa menjaga wanita itu.
"Lalu bagaimana dengan proses perceraiannya!", tanya Mika
"Gita sudah mengajukan gugatan ke pengadilan sebelum berangkat kemari. Semua sudah diurus oleh pengacaraku. Dia akan kembali hanya untuk menjalani sidang perceraiannya!", jawab Dirga sambil menyesap kopi yang Mika suguhkan
"Jangan tunjukkan rasa kasihan kalian didepannya. Dia paling tidak suka jika dikasihani!", ucap Dirga memberi tahu,
"Tentu, kau tidak perlu khawatir. Kami tidak akan melakukan itu!", jawab Mika. "Kau akan sering kemari bukan?", tanya perempuan itu
Dirga kembali menghela nafas, dia mengingat janjinya pada perempuan itu.
"Gita melarangku menjenguknya setelah dia benar-benar bercerai. Kami hanya akan berhubungan melalui telepon. Bukankah itu berat!", jawab Dirga lesu
Adi tersenyum menatap istrinya,
"Jangan berkecil hati bung, serahkan semua pad Allah. Tikung hatinya dengan doa. Sebut namanya di setiap sujudmu. Aku yakin, hatinya akan luluh padamu!", ucap Adi menyemangati
__ADS_1
"Kakak bisa berkata dengan santai karena belum pernah menjalaninya!",
"Siapa suruh kau lamban. Jika kau bergerak cepat, Gita lebih dulu akan menjadi milikmu. Bahkan mungkin, kalian sudah memiliki bayi yang lucu!", cibir Adi
Dirga mencebik kesal, dia menatap Adi yang malah asyik merangkul bahu istrinya.
"Kalian membuatku iri saja!", ucapnya dengan nada kesal
"Makanya nikah bro. Kau akan tahu bagaimana nikmatnya memiliki seorang istri!", cibirnya lagi
Dirga hanya mampu mendengus kesal, sedangkan Adi malah tertawa mengejek ke arahnya.
"Sudah, jangan meledeknya terus. Nanti pria jomblo ini merajuk!", ujar Mika yang juga meledeknya.
Huh, dua manusia ini sama menyebalkannya. Pikir Dirga
"Kau akan pulang sekarang?", tanya Adi yang melihat Dirga melirik jam tangannya.
"Ya, aku harus segera pulang. Pembangunan Mall cabang mengalami sedikit kendala dan aku harus meninjaunya langsung. Aku akan menjemputnya setelah adanya panggilan sidang!", jawab Dirga santai.
Pria itu berjalan menaiki tangga, dia membuka pintu kamar Gita untuk berpamitan. Bukan, sebenarnya tadi dia sudah berpamitan. Dirga hanya ingin melihat Gita untuk terakhir kalinya.
"Kau adalah wanita yang kuat. Aku yakin kau bisa melewati semua ini. Selamat tinggal little boney. Aku akan sangat merindukanmu!", Dirga mencium kening Gita dengan lembut.
Setelah pintu tertutup, Gita membuka mata. Wanita itu tidak tidur, dan dia mendengar ucapan Dirga.
"Aku menyia-nyiakan pria sebaik dirimu demi pria tak berperasaan seperti Danar. Maafkan aku Dir, semoga setelah ini kau menemukan kebahagiaanmu!", lirih Gita sambil mengusap air suguhkan
__ADS_1