
Gita terjaga dari tidurnya, dia tertidur di meja makan. Jam sudah menunjukkan angka 12, itu artinya sudah tengah malam. Gita menatap sekeliling, begitu sepi. Kakinya melangkah menuju pintu utama, dia mengintip dibalik gorden dan rupanya, mobil sang suami tidak ada disana. Ada sedikit perasaan kecewa kala Danar tak pulang kerumah. Banyak pertanyaan yang ada di otaknya. Mungkinkah urusan kantor belum selesai atau Danar sedang bersama Tari?.
Gita menghela nafas, dia kembali ke meja makan dan menatap masakannya yang sudah dingin. Dengan langkah pelan, Gita memindahkan makanan tersebut kedalam kulkas. Setelah selesai, ia mematikan lampu dan kembali ke kamarnya. Gita menatap kamar yang semalam ia singgahi bersama suaminya. Baru semalam mereka terasa hangat, tapi malam ini Gita kembali harus menelan kekecewaan.
Perempuan cantik itu meraih ponselnya kala mendengar ada notifikasi pesan. Ia mengira itu dari suaminya. Namun hatinya lagi-lagi dibuat kecewa saat bukan Danar yang mengiriminya pesan. Melainkan dari madunya yang sedang menunjukkan kemesraan mereka. Danar memeluk Tari dibawah selimut yang sama, pria itu terlihat pulas. Rupanya Danar bersama Tari. Sedangkan daritadi dirinya menunggu kehadiran Danar disini. Tanpa terasa air mata mengalir dipipinya. Kecewa ... Rasanya semua kembali seperti semula. Dirinya kembali dihadapkan pada kenyataan dimana memang Danar hanya mencintai madunya. Lalu, apa semua yang Danar lakukan kemarin hanya sandiwara?.
Tak mau terlalu meratapi nasib. Gita memilih memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.
****
Pagi ini Gita kembali duduk seorang diri di meja makan. Dia sedang menikmati roti panggangnya dengan enggan. Pikirannya kembali tertuju pada sang suami. Gita sadar posisinya saat ini. Danar memiliki dua istri, tentu pria itu harus adil memperlakukan keduanya. Jika saja Danar mengatakan yang sebanarnya, Gita tak akan menunggunya pulang. Tapi kejadian semalam seolah menyatakan bahwa dirinya tidaklah berarti dikehidupan Danar. Harusnya Danar memberinya kabar. Harusnya Danar membalas pesannya. Tapi apa, semua hanya angan semata.
Gita menggelengkan kepala. Dia tak boleh berfikiran negatif. Danar berhak mengunjungi Tari karena bagaimanapun, Tari juga istrinya. Madunya itu juga memiliki hak untuk bersama Danar. Tak mau berlarut memikirkan masalah ini, Gita memilih pergi ke kantor.
Dia mengendarai mobilnya melewati jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Tepat saat lampu merah menyala, Gita menghentikan mobilnya, dan tak sengaja mobilnya berhenti disebelah mobil Danar. Gita menatap dua orang yang ada didalam sana. Suaminya tersenyum dan mengecup tangan istri keduanya. Mereka terlihat bahagia tanpa menyadari jika pemandangan tersebut melukai hatinya.
Gita tersenyum getir, Danar bahkan tak menyadari keberadaannya. Pria itu terlalu sibuk hanya untuk melihat jika dirinya berada disampingnya.
****
"Kemana suami tercintamu?." Pertanyaan Dirga kembali mengingatkan Gita akan kejadian di lampu merah. Danar tentu saja bersama Tari.
"Dia ada meeting, jadi tidak bisa mengantarku ke kantor!." Jawab Gita bohong
Dirga hanya mengangguk, dia tak bertanya apa-apa lagi. Mereka kembali berjalan menuju ruangan masing-masing. Perempuan 24 tahun itu langsung mengerjakan tugas-tugasnya.
Sudah waktunya makan siang, Dirga berjalan keluar ruangan. Dia melihat Gita masih fokus pada pekerjaannya. Pria itu berinisiatif menghampiri sekertarisnya.
"Kau belum makan siang?."
Gita mendongak lalu menatap bosnya. Perempuan cantik itu menggelengkan kepala
"Ayo kita makan siang bersama!." Tawar Dirga, Gita yang suasana hatinya badmood merasa malas untuk makan,
"Anda saja pak. Saya masih mengerjakan laporan ini!." tolaknya
Dirga menghela nafas, sepertinya Gita sedang ada masalah
"Sebenarnya, aku sekalian ingin mengajakmu membeli hadiah untuk ulang tahun papa. Tapi karena kamu menolak, ya sudahlah!."
Gita merasa tidak enak hati mendengarnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menemani Dirga makan siang sekaligus mencari hadiah untuk Januar.
__ADS_1
Mereka sudah tiba di Royal Mall,
"Kita makan dulu atau cari hadiah dulu?." Tanya Gita
"Makan saja, aku sudah lapar!." Gita mengangguk lalu mengikuti bosnya
Dirga membawa mereka masuk kedalam restoran seefood. Gita yang memang tidak nafsu makan hanya ikut saja.
"Mau makan apa?."
"Nasi goreng!."
Dirga menatap Gita begitupun dengan pelayan yang sudah siap mencatat pesanan mereka.
"Nasi goreng seefood maksudmu?." tanya Dirga memastikan
"Aku tidak suka seefood!."
Fiks, Gita sedang dalam konsidi tidak baik. Perempuan itu menjawab sambil melamun, bahoan tidak menyadari dimana keberadaan mereka saat ini.
Akhirnya Dirga yang memilih menu makan siang mereka. Pelayan pergi setelah Dirga menyebutkan menu yang dia pesan.
"Ada apa?. Kau bertengkar dengan suamimu?."
"Kau terlihat tidak semangat. Sebenarnya, apa yang terjadi?."
"Tidak ada kak, semua baik-baik saja!."
Dirga hanya bisa menghela nafas, memaksa Gita berceritapun tidak mungkin. Mereka sama-sama diam hingga pesanan datang. Setelah itu keduanya menyantap makan siang masing-masing. Sesekali Dirga memperhatikan Gita yang terkadang masih tampak melamun.
Selesai makan siang, keduanya memutuskan untuk mencari hadiah ulang tahun Januar.
"Kamu mau beli hadiah apa kak?." tanya Gita
"Entahlah, setiap tahun aku selalu memberi papa hadiah. Jam tangan, pakaian, kursi roda baru dan lainnya. Kali ini aku bingung akan memberikan hadiah apa, makanya aku mengajakmu!."
"Apa yang om Januar inginkan?. Dia akan lebih senang jika mendapat hadiah yang dia inginkan!". Jawab Gita memberi saran
Dirga menghentikan langkahnya, dia menatap Gita dengan seksama. Wanita didepannya ini tampak heran melihat bosnya mentap dirinya dengan begitu intens
"Mustahil memberikan apa yang papa inginkan!." Jawaban Dirga membuat alis Gita terangkat
__ADS_1
"Kenapa?. Memangnya apa yang om Januar inginkan?. Bukankah kamu kaya kak, kamu pasti bisa membeli yang om Januar inginkan!."
"Apa kamu mau membantuku memenuhi keinginan papa?."
"Ya ... Selama aku mampu aku akan membantu!". jawab Gita dengan penuh keyakinan
"Kau yakin?."
"Tentu saja!."
"Yang papa inginkan itu - cucu!."
Gita membeku, Dirga menatapnya kembali. Namun kali ini dengan tatapan santai.
"Kalau yang itu, aku mundur!." jawab Gita pelan
"Aku sudah menduga jawabanmu akan begitu. Sudahlah, lain kali saja memberi cucu pada papa. Jangan hiraukan ucapanku barusan, aku hanya bercanda. Sekarang kita cari kado yang lain. Menurutmu, apa yang cocok untuk papa?!."
Gita berfikir sejenak,
"Kucing!."
Jawaban Gita membuat Dirga kembali menatapnya.
"Kucing?." tanya Dirga memastikan, Gita mengangguk semangat
"Meow-meow?!."
Perempuan berstatus sekertarisnya itu tertawa saat Dirga menirukan suara kucing. Apalagi dengan ekspresi menggemaskan yang Dirga tampilkan
"Kau yakin?." Dirga kembali memastikan jika dirinya tak salah dengar, saat Gita kembali mengangguk
"Kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang menggemaskan dan lucu. Nabi juga sangat menyukai kucing, apalagi dia hewan yang penurut. Bukankah om Januar kesepian selama ini. Kucing itu akan menjadi penghiburnya kala om Januar merasa sepi!."
Dirga mencerna ucapan Gita. Papanya memang kesepian, tapi membeli kucing apakah solusi yang baik?.
"Jangan banyak berfikir, aku yakin Om akan menyukainya!!."
Gita begitu semangat, dia mengajak Dirga mencari petshop. Dirga hanya bisa pasrah kala Gita menarik tangannya. Namun baru beberapa langkah, Gita menghentikan langkah mereka
"Mas Danar!!."
__ADS_1
****
Kira-kira Danar sedang apa? dan apa yang akan terjadi??