Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Haruskah Menyerah Sekarang?


__ADS_3

Tidak bisa tergambarkan bagaimana perasaan Gita. Dua hari tidak pulang, kini Danar sudah kembali seperti dulu. Ada apa dengan suaminya?. Tanya Gita dalam hati


"Sudahlah sayang, jangan pikirkan Danar. Sebaiknya kita shooping sekarang, tapi mama sudah tidak mood belanja disini. Kita pergi ke butik lain saja!!."


Dengan perasaan gundah, Gita hanya bisa mengangguk. Dia melangkah gontai mengikuti mertuanya. Ingin rasanya dia menolak, tapi melihat Anisa yang begitu bersemangat membuatnya tak tega.


****


"Terima kasih sudah menemani mama. Sekarang kamu masuk dan istirahat. Oh ya, mulai besok akan ada pembantu yang bekerja dirumah ini. Jadi kamu tidak perlu lagi mengerjakan semuanya sendiri!." jelas Anisa


"Tapi Ma--!."


"Mama pergi dulu!."


Anisa segera masuk kedalam mobil. Mobil mertuanya semakin menjauh dan tak terlihat. Gita menghela nafas. Dia melangkah memasuki rumahnya sambil membawa paper bag belanjaan yang Anisa belikan.


"M-mas!." ucap Gita saat melihat Danar duduk disofa ruang tamu


"Sudah bersenang-senangnya?!." tanya Danar dingin


"Mas - aku .... !."


"Kau senang?. Kau puas sekarang?!."


Gita menatap suaminya, tatapan ini sama persis seperti dulu. Tak ada kelembutan seperti sebelumnya.


"Sebenarnya, apa yang kau inginkan. Hum?!."


Danar semakin mendekat, Gita perlahan memundurkan badannya. Tatapan Danar terlihat menakutkan,


"Mas -- !."


Danar berada tepat didepan Gita sekarang. Pria itu memegang dagu istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Apa aku kurang adil padamu, hingga kay mengusik kebahagiaan Tari?." tanya Danar tegad


Gita menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca


"Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jujur, aku juga mencintai Tari. Dia wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Dia begitu kecewa karena acaranya berantakan. Bahkan wartawan melupakan dirinya. Seharusnya hari ini hari yang membahagiakan untuknya. Tapi semua malah seperti ini. Katakan padaku Git, apa aku kurang adil memperlakukanmu hingga kamu menyakiti Tari seperti ini?!."


Deg


Sebegitukah besarnya cinta sang suami pada madunya. Danar terlihat begitu mengkhawatirkan Tari bahkan menyalahkan dirinya. Apakah selama ini Gita egois karena terus memilih bertahan sementara dia tahu betul seperti apa perasaan suaminya. Apa sudah saatnya sekarang dia menyerah?.

__ADS_1


"Aku berusaha untuk adil pada kalian berdua. Aku berusaha mencintai kamu seperti aku mencintai Tari. Katakan apa yang kurang dari semua perhatianku Git, atau ... kau ingin memiliki seorang diri?!". tuduh Danar, "Jika itu yang kau inginkan. Kau sudah tahu bahwa jawabannya adalah tidak!!."


Hati Gita mencelos mendengar tuduhan Danar. Dia menatap sendu wajah suaminya, jadi apa arti perhatiannya selama ini?. Apa semuanya palsu?. Tanpa di-ingatkan-pun dirinya tahu dan sadar posisinya.


"Mama memblokir kartu milik Tari, mama juga membatasi keuanganku dan mengalihkan semua aset perusahaan atas namanya. Aku tidak tahu harus mempercayaimu lagi atau tidak!."


Deg


Gita kembali membeku, kenapa Anisa melakukan semua itu. Pasti Danar berfikir dirinyalah penyebab semua ini.


"A-aku ... tidak tahu apa-apa mas!." ucap Gita memberanikan diri menatap mata suaminya


"Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu. Aku ingin percaya, tapi aku ragu. Aku butuh waktu sendiri, dan aku harap kamu mengerti!."


Danar meninggalkan Gita begitu saja. Kini tangis wanita itu pecah. Diragukan oleh orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. Hubungan mereka baru saja membaik, tapi sekarang keruh kembali. Apa sudah saatnya dia menyerah sekarang, melanjutkan rumah tangganyapun rasanya percuma.


Gita melangkah gontai menuju kamar, dia membaringkan tubuh lemasnya diatas ranjang. Baru saja ia menyecap manisnya rumah tangga, kini harus kembali menelan pahitnya sebuah hubungan. Akankah impian yang sudah mulai tumbuh itu kandas ditengah jalan.


Mata lelahnya mulai terpejam. Gita mulai masuk ke alam mimpi dengan pipi yang masih basah.


****


Pagi ini Gita bangun dengan kepala yang begitu pening. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Ingin rasanya ia kembali tidur, sayangnya, hari ini dirinya harus menemani Dirga untuk meeting. Dengan memaksakan diri, Gita masuk kedalam kamar mandi,


Dia menuruni anak tangga dan berniat langsung berangkat. Namun baru beberapa langkah, pintunya sudah diketuk oleh seseorang.


"Cari siapa ya?!." ucap Gita ramah


"Saya Ika nona, asisten rumah tangga dari ibu Anisa!." jawabnya sembari tersenyum


"Oh, bik Ika ya. Silahkan masuk, maaf saya lupa!."


"Tidak apa nona!"


Gita mengantar bik Ika ke kamarnya,


"Bibi istirahat saja dulu, maaf tidak bisa menemani. Saya harus berangkat kerja!."


Bik Ika tersenyum


"Tidak apa nona!!."


Setelah memastikan semuanya beres, Gita mengendarai mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


****


"Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?!." tanya Dirga khawatir


"Aku baik-baik saja kak. Hanya kurang istirahat!." jawab Gita


Dirga hanya mengangguk, kemudian mereka duduk dikursi masing-masing lalu mengerjakan pekerjaannya.


Gita tak bisa menahan denyut pening dikepalanya. Ditambah badan lemas karena belum sarapan membuatnya semakin tak bertenaga.


Aku kenapa?, tanya Gita dalam hati. Dia mengingat bahwa dirinya belum mengalami siklus bulanan, mungkinkah dirinya?.


"Wajahmu semakin pucat, sebaiknya kita periksa sekarang!." paksa Dirga


"Tidak perlu kak, aku baik-baik saja!." jawab Gita lemas


"Kamu tidak baik-baik Git, jangan bandel. Pikirkan kondisi tubuhmu!." ujar Dirga tegas.


Akhirnya Gita mengalah, dia terpaksa mengikuti Dirga keluar ruangan. Namun baru sampai di lobi, dia sudah sadarkan diri. Dirga yang panik segera menggendong Gita dan membawanya masuk kedalam mobil.


Wajah panik Dirga begitu kentara, dan itu tak luput dari pandangan semua karyawan yang pada saat itu berada di lobi.


"Cepat sedikit pak!." pinta Dirga pada sopir perusahaan


Perjalan ditempuh selama 20 menit, setelah tiba dilobi rumah sakit Dirga kembali menggendong Gita masuk kedalam rumah sakit.


"Suster tolong ... !." teriak Dirga


Dua orang suster datang membawa brangkar lalu meminta Dirga meletakkan Gita diatasnya.


"Silahkan tunggu diluar pak!." ujar suster


Dirga menunggu dengan gelisah, baru kali ini dia melihat Gita begitu lemah.


Semoga kamu baik-baik saja Git, pinta Dirga dalam hati


Tak lama setelah diperiksa, seorang dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaannya dok?!."


"Selamat pak, anda akan menjadi seorang ayah!."


Deg

__ADS_1


__ADS_2