
"M-maksud dokter, pasien mengandung?", tanya Dirga
"Benar Pak, usia kandungannya 14 minggu!."
Deg
Semua membeku mendengar penuturan dokter. Khususnya Anisa, jika usia kandungan Tari 14 minggu, artinya Tari sudah hamil waktu bercerai dengan putranya.
"Dokter yakin, jika pasien hamil?", tanya Anisa memastikan.
"Benar bu, korban memang mengandung. Sekali lagi saya mohon maaf, dan saya turut berduka cita. Kalian bisa mengurus jenazah korban setelah dimandikan!."
Agung dipindahkan keruang ICU karena kondisinya yang masih kritis. Sementara Tari masih berada diruang gawat darurut karena sebentar lagi jenazahnya akan dimandikan. Setelah dokter pergi, Dirga, Gita dan Anisa segera masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat jasad Tari tertutup kain putih. Perlahan pria itu mendekat, kemudian dengan tangan bergetar dia menyingkap penutup tubuh adik tirinya itu.
"M-maaf!", itulah yang Dirga katakan setelah melihat wajah pucat Tari, meskipun pucat wajah Tari justru terlihat begitu cantik. "Maaf, adikku. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku bahkan membencimu dan ... dan aku juga--!", perkataan Dirga tercekat. Dia menyesal, menyesal karena membiarkan Tari mengikuti sifat jahat Mamanya. Padahal Dirga tahu jika Tari bukanlah wanita jahat.
"Mas, ikhlaskan dia. Buat jalannya lapang. Aku tahu kamu merasa bersalah, tapi semua yang terjadi sudah menjadi takdir hidup Tari. Kita hanya bisa mendoakan semoga dia mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya!."
Dirga terisak, lalu mengangguk. Dia akan mengurus pemakaman Tari sebagai penghormatan terakhir untuk mendiang adiknya itu.
Dirga langsung mengurus persiapan pemakaman Tari. Sedangkan, Anisa, dia menatap jenazah mantan menantunya yang ternyata tengah mengandung cucunya. Entah dosa apa yang dia lakukan dimasa lalu. Semua cucunya pergi bahkan sebelum melihat dunia.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tari. Maafkan aku yang tidak pernah bersikap baik padamu," tangis Anisa pecah. Dia sungguh menyesal mengingat bagaimana sikapnya selama ini pada Tari. Apalagi setelah mendengar cerita Dirga jika Tari meninggal karena melindungi Agung, mantan suaminya. "Aku bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Aku selalu membandingkanmu dengan orang lain. Aku tidak mau memahamimu bahkan aku memaksamu menjadi seperti yang aku mau. Kau selalu menuruti keinginanku walau terpaksa. Kau selalu berusaha memberikan yang terbaik walau tidak sepenuhnya aku hargai. Tolong maafkan aku, Tari. Maafkan semua keegoisanku!."
Gita mengusap bahu mantan mertuanya, baru kali ini dia melihat Anisa begitu menyesal." "Ma, ikhlaskan Tari. Dia sudah tenang disana. Aku yakin dia juga sudah memaafkan Mama!", Anisa menggeleng.
"Tari menderita menjadi menantuku, Git. Tari tidak mendapat kasih sayang dariku. Bahkan aku bersikap seenaknya padanya. Itulah kenapa Allah menghukumku dengan membawa cucuku pergi. Bahkan dulu saat kamu menjadi menantuku, akupun kehilangan cucuku karena aku egois memaksamu bersama Danar. Aku orang yang jahat. Aku selalu memaksakan kehendakku tanpa bertanya apa yang sebenarnya kalian inginkan. Aku wanita egois, karena itu Allah memberikanku karma seperti ini!."
Gita memeluk Anisa, "Semua yang terjadi sudah menjadi takdir, Ma. Kita tidak merubah ataupun melawannya. Doakan Tari agar tenang dan diterima di sisi Allah!."
Anisa mengangguk lemah, bagaimana dia akan menceritakan hal ini pada Danar. Putranya bahkan belum mampu menerima kenyataan tentang kakinya dan kini, bagaimana hancurnya dia saat tahu Tari sudah meninggal bersama bayi mereka.
"Semua sudah siap. Tari akan segera dimandikan dan dimakamkan!", Dirga datang memberi tahu. Gita segera menyusul suaminya sedangkan Anisa, dia pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan hancur. Dia menyempatkan diri untuk melihat kondisi Agung. Dia sekarang tengah menatap ruangan kaca. Didalamnya sedang berbaring mantan suaminya. Kondisi Agung masih kritis, sebagai orang yang pernah hidup lama dengan Agung. Anisa turut sedih dengan apa yang menimpa mantan suaminya itu. Anisa berjalan ke ruangan Danar. Dia membuka pintu dengan lemas, Anya yang memang menunggunya langsung menanyakan kenapa Anisa begitu lama.
"Mama baik-baik saja, kan? Kenapa lama sekali!?."
"Ma, ada apa?", tanya Anya bingung
Anisa hanya menangis, hal itu membuat Danar terjaga. Perlahan dia membuka mata dan melihat Mamanya yang menangis sambil memeluk Anya.
"Ma, ada apa? Kenapa Mama menangis?," Danar
Anisa melepas pelukannya dia berjalan ke arah Danar lalu memegang tangan putranya. "Maafkan Mama, Danar. Maafkan Mama!."
__ADS_1
Danar menatap istrinya sekilas, Anya juga sama bingungnya dengan Danar.
"Ma, ada apa. Jangan membuat kami khawatir!,"
Anisa mengambil nafas dalam-dalam, dia berusaha menenangkan dirinya.
"Tari!!."
"Ada apa dengan perempuan itu. Apa dia sudah mati?", tanya Danar dingin. Dia masih marah karena Tari mengambil semua hartanya. Danar menganggap Tari hanya mengincar hartanya selama ini. Dan sekarang, wanita itu menampakkan wujud aslinya.
"Iya, Tari sudah meninggal!!."
Berbeda dengan Anya yang terkejut, Danar justru tertawa. "Bagus, dia memang pantas mati. Wanita licik itu pantas mendapat karma atas perbuatannya.
"Jaga ucapanmu, Danar. Kamu tidak pantas berbicara seperti itu!!", sentak Anisa
Danar menatap Mamanya dengan heran, "Dia sudah mengambil semua hartaku, ibunya sudah membuat aku lumpuh. Biarkan saja dia mati!!."
"Mas!", peringat Anya
"Kamu akan menyesal berkata seperti itu Danar. Kamu tidak tahu, kenapa Tari bisa meninggal, bukan?."
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu!."
"TARI MENINGGAL KARENA MELINDUNGI PAPAMU. BAHKAN DIA MEMBAWA PERGI ANAK KALIAN BERSAMANYA!!."