Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Menerima Pinangan Tak Romantis


__ADS_3

"Aku tidak akan pergi lagi. Tujuanku pulang untuk menerima pinanganmu menjadi nyonya Ibrahim!",


Deg


Dirga terkesiap, bulu kudunya terasa berdiri. Bahkan detak jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Dia masih menatap wanita didepannya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu ... !",


Gita mengangguk, dia menatap Dirga dengan mata berkaca-kaca.


"Aku menerima lamaranmu!",


Dirga langsung berjongkok, dia meraih sesuatu didalam saku jasnya. Pria itu mengeluarkan kotak merah lalu membukanya.


Gita menganga, dia menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu tak menyangka Dirga akan mengeluarkan cincin dari saku jasnya.


"Aku bukanlah pria yang sempurna. Aku juga bukan pria yang romantis. Aku tidak bisa memberimu dunia. Tapi aku akan memberimu cinta yang tulus. Kasih sayang yang tiada batas juga segenap jiwa dan ragaku. Anggita Geavina, Will You Marry Me?",


Air mata tak bisa ditahan, menetes begitu saja tanpa Gita minta. Jika biasanya ia selalu menangis karena luka, kali ini Gita menangis karena bahagia.


"Yes, I Will!",


Dirga menyematkan cincin bermata berlian itu dijari manis Gita.


"Terima kasih sudah menerima lamaranku. Aku mencintaimu!",


"Aku juga mencintaimu!",


Dua insan itu kembali berpelukan. Suasana restoran yang cukup ramai membuat benerapa orang ikut baper atas lamaran Dirga. Tak sedikit yang memuji kecocokan mereka.


"Kamu belum makan kan, sayang. Kita duduk dulu yuk!",


Wajah Gita bersemu merah mendengar kata sayang dari Dirga. Dia seperti ABG yang baru pertama jatuh cinta. Perasaannya berbunga-bunga.


Dirga bahkan tidak malu menyuapi Gita meski dilihat banyak pengunjung lainnya.


"Aku tidak sabar untuk menikahimu!", ucap Dirga memandang calon istrinya.


"Kita harus menemui papa Januar dulu untuk meminta restu!",


"Ah, kamu benar. Papa pasti senang sekali. Bagaimana kalau setelah ini, kita langsung kerumahnya",

__ADS_1


Gita mengangguk setuju, kemudian mereka melanjutkan makannya.


Mobil Dirga kini melaju ke kediaman Januar. Keduanya tampak saling melempar senyum. Dirga begitu bahagia, Allah menjawab semua doanya. Akhirnya, setelah penantian yang panjang, dia dan Gita akan menyatu dalam ikatan suci pernikahan.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?", tanya Gita heran


"Ah, tidak apa-apa kok. Aku hanya sedang bahagia. Akhirnya kamu menerima lamaranku. Rasanya masih seperti mimpi!",


"Kemarin aku masih ragu sama perasaanku. Tapi setelah meminta petunjuk-Nya, aku yakin kalau kamu yang terbaik untukku!",


"Terima kasih sudah menerimaku!",


Gita tersenyum geli, Dirga sudah berulang kali mengucapkan terima kasih.


"Kamu sudah berulang kali mengucapkan terima kasih, kak!",


Dirga terkekeh,


"Itu karena aku terlalu bahagia. Aku sudah tidak sabar bisa hidup bersama denganmu, selamanya!",


Gita menatap Dirga dengan tatapan teduhnya,


"Kamu tahu kan, aku pernah mengalami kegagalan. Aku harap, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Danar!", ucap Gita lirih


"Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti Danar. Aku mencintai kamu dengan sepenuh hati. Kamu separuh jiwaku, nafasku bahkan duniaku. Aku sudah menyukai kamu sejak lama. Bahkan perjuanganku untuk mendapatkanmu tidaklah mudah. Tentu aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya!",


Gita terharu mendengar ucapan calon suaminya.


"Terima kasih sudah memilih aku yang tidak sempurna ini!",


"Hei, jangan bicara seperti itu. Akulah yang harus berterima kasih karena kamu mau menerimaku apa adanya!",


Gita kembali melemparkan senyum, "Aku harap, kita bisa menjalani rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah!",


"Amin!",


Mobil Dirga sudah sampai dihalaman rumah Januar. Keduanya turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah.


"Pa, lihat. Siapa yang datang!",


Januar yang tengah membaca buku, menatap ke arah putranya. Matanya membulat melihat kehadiran Gita.

__ADS_1


"Gita, itu kamu nak?",


Gita tersenyum kemudian mendekat ke arah Januar. Tak lupa menyalami calon mertuanya. Pria paruh baya itu tersenyum lembut melihat kedatangan Gita.


"Papa apa kabar?", tanya Gita yang duduk berjongkok didepan kursi roda Januar.


"Papa baik. Sudah lama kamu tidak kemari. Bagaimana kabarmu?",


"Aku baik pa. Maaf baru bisa mengunjungi papa!", ucap Gita menyesal


"Tidak masalah nak. Yang penting kamu sehat. Papa lihat, kamu jauh lebih baik daripada dulu!",


"Aku di lupakan nih?", ucap Dirga pura-pura merajuk.


Dua orang yang asyik mengobrol itu, menatap Dirga tapi kemudian kembali mengacuhkannya.


"Kami baru saja bertemu, wajar jika papa melepas rindu pada Gita!",


"Aku juga baru bertemu dengannya. Kan masih banyak waktu untuk mengobrol lagi dengan calon menantu papa ini!",


Januar menatap keduanya bergantian,


"Maksudnya, Gita sudah menerima lamaran kamu?", tanya Januar memastikan


"Papa lihat jari manis Gita. Aku sudah menyematkan cincin lamaranku di jarinya!",


Januar terlihat berkaca-kaca, ia menatap Gita dengan haru. Lalu membelai lembut kepalanya,


"Terima kasih sudah mau menerima Dirga. Papa sangat bahagia karena akhirnya kalian bisa bersatu!",


Gita menggenggam tangan Januar,


"Akulah yang harus berterima kasih karena Dirga dan Papa mau menerima aku yang tidak sempurna ini!",


"Tidak nak, kamu adalah wanita sempurna. Terlepas apapun masa lalu kamu, kamulah wanita yang dipilih Dirga. Kebahagiaan putraku ada padamu. Dan papa akan selalu berdoa semoga rumah tangga kalian nanti selalu dihiasi dengan kebahagiaan!",


"Terima kasih banyak atas doa papa!",


Obrolan mereka begitu hangat. Sesekali keduanya tertawa bersama. Hal itu membuat hati Dirga menghangat. Pilihannya meminang Gita adalah pilihan yang paling tepat. Selain cantik, wanita itu juga sangat lembut pada orang tua.


"Sekarang coba ceritakan bagaiamana anak nakal ini melamarmu, apa dia melamarmu dengan romantis?", tanya Januar antusias.

__ADS_1


Gita menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi.


"Kamu meminang Gita dicafe?. Didepan para pengunjung lainnya?. Dasar pria tidak romantis!",


__ADS_2