Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Kehancuran Tari


__ADS_3

Tari membeku. Emosi, kecewa, kesal, sakit hati. Semua bercampur menjadi satu dalam dirinya. Suami yang dia cintai, nyatanya mendua. Bahkan sudah menanam benih dirahim wanita lain saat dirinya berjuang mendapatkan momongan.


"Aku tidak akan menyetujui apapun. Mereka bisa menikah secara agama, tapi tidak akan aku biarkan mereka menikah secara sah!", ucap Tari kemudian meninggalkan ruang tamu.


"Semua ini salahmu, wanita murahan!", ucapnya pada Anya, "Kau senang sekarang? Kau sudah menghancurkan rumah tangga putriku. Sebagai sesama perempuan, kau seharusnya masih punya hati untuk tidak melukai hati wanita lain. Jika kau bermim....!"


"Jangan menyalahkan Anya, Tania. Dia juga tidak mau mengalami nasib seperti ini. Disini dia hanyalah korban. Semua ini takdir. Kau berkata seolah kau wanita paling suci. Nyatanya kau hanya menghina dirimu sendiri. Jadi sebaiknya, berkacalah sebelum menghina orang lain!."


Tania dan Agung langsung terdiam mendengar sindirin Anisa.


"Dan kau Danar. Mama tidak mau tahu, bagaimanapun Tari harus memberimu ijin menikah. Mama ingin pernikahanmu dengan Anya sah dimata agama dan negara!." Danar mengangguk pasrah, sesekali dia melirik Anya yang hanya diam sedari tadi.


"Sebaiknya kamu pulang, Tania. Biar Danar yang membujuk Tari untuk menyetujui pernikahan ini!", ucap Anisa enteng


"Kau mengusirku saat kondisi putriku hancur seperti ini? Yang benar saja, apa kau tidak punya hati? Setidaknya aku harus menemani Tari, karena aku yakin. Kau tidak akan peduli padanya!."


Anisa menatap mantan madunya dengan sengit, "Tari bukan anak kecil yang perlu didampingi orang tuanya. Dia sudah dewasa, dia hanya perlu berdamai dengan keadaan dan hatinya!."


Katakanlah Anisa kejam, tapi semua ia lakukan demi kebaikan bersama.


"Dasar tidak punya hati. Enteng sekali kamu berbicara. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan putriku!."


"Tentu aku tahu. Aku bahkan sangat tahu. Kau tidak lupa kan, kalau kau yang pernah melakukan itu padaku?", Tania kembali bungkam. Dengan perasaan kesal dia mengambil tas dan pergi dari rumah besannya.


"Anya, ayo mama antar ke kamarmu!", Anisa berjalan menaiki tangga. Membawa Anya ke kamar disamping kamar Danar dan Tari, atau lebih tepatnya, kamar Gita dulu.


Diruang tamu, Danar dan Agung masih sama-sama bungkam. Dua pria beda usia itu merasa canggung satu sama lain.


"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan hingga bisa membawa Anya kemari. Aku ucapkan terima kasih untuk itu. Tapi aku harap setelah ini, kamu tidak perlu menemui kami lagi!", ucap Danar kemudian berdiri.

__ADS_1


"Papa melakukan semua ini untuk menebus semua kesalahan papa dimasa lalu. Papa harap kamu mau memberi papa maaf!."


Danar berhenti, lalu tanpa menoleh dia berkata, "Memaafkan bukan berarti melupakan. Sudah malam, sebaiknya anda pulang!."


Danar meninggalkan Agung seorang diri. Pria tua itu menghela nafas. Rupanya Danar belum bisa melupakan dan memaafkan semua kesalahannya. Dengan langkah berat, Agung pergi meninggalkan rumah Anisa.


*


*


Anya menatap sekeliling kamar yang akan dia tempati. Figura besar menggantung diatas ranjang. Dan yang membuatnya terkejut karena foto itu adalah foto pernikahan Gita dan Danar. Banyak sekali pertanyaan yang mengisi kepalanya. Jadi, Gita yang mereka bicarakan adalah istri bosnya sekarang. Bagaimana dunia ini begitu sempit, apa yang direncanakan takdir padanya? Kenapa dia harus masuk dalam lingkaran keluarga ini?.


"Maaf, Danar belum sempat menurunkan foto pernikahan pertamanya!", ucap Anisa. "Kamu mungkin bertanya-tanya dengan situasi sekarang. Aku yakin kamu mengenal Gita, dia adalah istri bos kamu sekarang!", Anis menghela nafas kasar. Dia menceritakan semua perjalanan rumah tangga Danar mulai bersama Gita hingga Tari.


Anya hanya menjadi pendengar tanpa berniat mengatakan apapun. Fakta yang dia dengar membuatnya tidak percaya juga sedikit takut.


Ya Allah, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan? Kenapa aku harus berurusan dengan pria jahat seperti Danar? Apa nasibku akan seperti Mbak Gita yang berakhir mengenaskan? Apalagi istri Danar menolak keberadaan kami. Apa sebaiknya aku pergi dari rumah ini? Aku tidak mungkin menjalani pernikahan dengan orang yang bahkan belum bisa melupakan wanita lain. Walau aku sendiri tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bathin Anya


Kamu harus bertahan, Anya. Setidaknya sampai anak kamu mendapatkan identitas yang jelas. Kamu bisa pergi setelah anak ini lahir nanti.


"Jika boleh mama meminta. Bertahanlah demi anak kamu sampai dia mendapatkan identitas dan akta kelahiran yang jelas dan sah. Dengan begitu, kedepannya kehidupan kalian akan lebih mudah. Mama juga tidak akan lepas tangan dengan kehidupan kalian nantinya. Mama tahu, kamu belum bisa menerima Danar. Dan mama tidak akan melarang kamu jika suatu saat kamu ingin berpisah dengan Danar!."


Anya menatap calon mertuanya, perempuan itu seolah tahu isi pikirannya. Entah kenapa, setiap perkataan yang keluar dari mulut Anisa terasa menenangkan baginya.


"Sekarang istirahatlah. Kalau butuh apa-apa kamu bisa mengatakannya pada mama. Atau minta langsung pada bibi!."


Anya tersenyum. Anisa meninggalkannya dikamar. Anya sendiri masih merasa asing dengan tempat ini. Lebih tepatnya, dia takut jika Danar tiba-tiba masuk kedalam kamarnya. Bagaimanapun dia harus berhati-hati pada pria itu.


*

__ADS_1


*


Tari tidur memunggungi suaminya. Entah untuk berbicara, menatap suaminya saja dia enggan. Sakit hatinya masih terasa. Bahkan dia seperti tidak punya nyawa lagi. Bayangan hidup bahagia setelah kepergian Gita nyatanya hanya mimpi belaka. Danar tetaplah Danar.


"Tari, aku tahu kamu belum tidur. Ayo kita bicara!", pinta Danar


Tari bergeming, air mata kembali mengalir diwajahnya. Suara itu, suara yang dulu selalu ingin dia dengar. Tapi sekarang, dia tidak ingin mendengar apapun kalimat yang keluar dari suara itu.


"Tari, aku mohon. Kita harus bicara agar semuanya jelas. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut!."


Tari berbalik lalu menatap suaminya tajam, sisa air mata masih terlihat jelas dikedua pipinya.


"Apa lagi yang perlu dibicarakan, hah? Kamu sudah mengkhianati aku, Mas. Mengkhianati janji cinta kita!", ucapnya lirih


Danar menghela nafas, ya ... Dia sadar dialah biang masalah dari semuanya.


"Aku minta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud mengkhianati pernikahan kita. Waktu itu aku dalam keadaan tidak sadar. Aku tidak sengaja melakukannya!", ucap Danar menyesal


"Hahah, kamu tidak sengaja? Tapi buktinya perempuan itu sekarang hamil anak kamu!!. Hebat, sekali tembak langsung jadi. Tidak ada ketidaksengajaan yang membuahkan hasil, Mas. Atau ini hanya alasan kamu karena aku tidak bisa memberimu keturunan?", tuduh Tari.


"Tidak Tari. Semua yang kamu ucapkan tidak benar. Waktu itu aku benar-benar kacau. Suasana hatiku sedang tidak baik, ditambah kamu selalu membuatku kesal. Jadi semua terjadi begitu saja!."


Tari menatap tajam suaminya, "Jadi kamu menyalahkan aku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa, Mas. Kamu hanya mencari alasan, kamu bersikap seolah-olah korban. Tapi nyatanya, kamu pelakunya. Kamu!!."


Danar meraup wajahnya frustasi, dia benar-benar susah untuk menjelaskan semuanya pada Tari yang keras kepala.


"Aku lelah, Tari. Sikapmu inilah yang membuat aku muak. Kamu bersikap seenaknya tanpa memikirkan perasaanku. Kamu selalu menuduhku yang bukan-bukan. Curiga, cemburu, itu yang selalu kamu lakukan. Kamu mau tahu, kenapa aku ingin Gita kembali padaku? Itu karena dia lebih dewasa. Dia bisa menenangkan aku saat hati dan pikiranku lelah. Berbeda dengan kamu yang tidak mau memahami apa yang aku inginkan. Kamu kekanakan! Ingin menang sendiri. Saat aku sedang kacaupun kamu bukan menenangkanku, tapi membuatku semakin kacau. Aku tidak bisa memiliki Gita kembali, aku juga kecewa dengan sikapmu. Aku mabuk dan berakhir menodai Anya. Semua memang salahku, aku yang brengs*ek, tapi coba kamu pikir. Siapa yang menyebabkan aku seperti ini? Kamu, kamulah orangnya Tari!!."


Tari membeku, perkataan Danar memukul telak hatinya. Baru kali ini Danar meluapkan perasaannya. Tari pikir, sikapnya itu wajar. Dia tidak mau kehilangan Danar. Tapi nyatanya, semua ini terjadi tidak lepas dari keegoisanya.

__ADS_1


"Aku akan tetap menikahi Anya. Aku harap kamu menyetujui hal ini dan memberi kami ijin untuk menikah secara sah dimata agama dan hukum!."


Deg


__ADS_2