Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja

Berbagi Cinta : Cintai Aku Sekali Saja
Rencana Tari


__ADS_3

"Jadi kamu mengalah, dan memutuskan untuk bercerai dengan Danar?", tanya Tania dengan sengit sambil menatap putrinya yang terlihat biasa saja setelah menceritakan semua padanya.


"Aku sudah lelah, Ma!", jawab Tari


Tania tertawa sinis, "Bodoh!! Kamu memang wanita bodoh!! Setelah semua yang kamu korbankan, sekarang kamu menyerah begitu saja? Dengar, Tari!! Aku tidak pernah melahirkan putri bodoh sepertimu!!", ucap Tania dengan geram.


Tari malah tertawa, "Aku memang menyerah. Tapi aku sudah menyiapkan balasan yang setimpal bagi mereka!", Tari menyeringai.


"Kamu selalu berkata seperti itu. Tapi apa? Selalu saja gagal. Terakhir kali adalah paket yang kamu kirimkan pada Gita. Buktinya, nyawamu hampir melayang ditangan Dirga!!."


Tari menatap Mamanya, "Aku jadi ingat paket yang Dirga kirimkan pada Mama. Apa Mama tidak ingin menceritakan sesuatu padaku?."


"Tidak ada yang perlu aku ceritakan!", jawab Tania berkelit.


"Baiklah, mungkin aku akan mencari tahu sendiri!", sahut Tari santai.


Tania berdecak, kenapa dia memiliki anak yang begitu menyebalkan seperti Tari. "Kamu sudah memikirkan matang-matang keputusanmu untuk bercerai? Bagaimana hidupmu setelah bercerai? Apa kamu sudah memikirkan sampai disana?."


Tari tersenyum, "Aku bukan wanita bodoh, Ma. Aku memutuskan untuk lepas dari Danar, tentu saja aku sudah menyiapkan masa depanku. Mama kira selama ini, apa yang aku lakukan dirumah itu? Menjadi babu Anisa? Cih, yang benar saja!!."


Tania menatap putrinya dengan lekat, "Apa yang kamu lakukan?", tanya Tania penasaran.

__ADS_1


"Mama tidak perlu tahu. Cukup tahu hasilnya saja!."


Tari menyeringai, entah apa yang sudah dia rencanakan. Hanya dia sendiri yang tahu.


Berbeda dengan Tari, dirumah Anisa. Suasana terasa hening. Penghuni rumah tidak ada yang semangat memakan sarapannya kecuali, Anya.


Perempuan hamil itu seolah tidak peduli dengan suami dan mertuanya. Itu karena dia tidak sengaja mendengar ucapan Tari semalam, saat dirinya berniat mengambil air minum didapur. Beberapa hari mengenal Anisa, Anya bisa menyimpulkan bahwa Anisa adalah orang yang baik. Tapi mendengar ucapan Tari, Anya menilai Anisa cukup egois. Orang akan baik pada kita kalau kita juga baik pada orang lain, itulah yang selalu mending ayahnya katakan. Mungkin, Tari tidak baik pada Anisa karena Anisa juga tidak baik pada Tari.


"Jangan hanya dilihat dan di aduk-aduk, Ma. Makanan itu untuk dimakan. Jangan membuang-buang makanan. Karena banyak diluar sana orang yang kesulitan untuk makan!", ucap Anya memecah keheningan. Anisa menatap menantunya, sedikit terkejut dengan teguran Anya.


"Mama hanya tidak nafsu makan, Nya!."


Anya menatap mertuanya, "Aku tahu Mama banyak pikiran. Apalagi setelah kepergian Mbak Tari. Tapi Mama juga harus memikirkan kesehatan Mama. Setidaknya, isilah perut Mama walau sedikit. Orang berpikirpun butuh tenaga!."


Anya beralih menatap sang suami, "Aku bukan orang yang suka berpura-pura. Maaf Ma, tapi aku belum bisa memaafkan kesalahan Mas Danar padaku. Melihatnya saja, aku begitu membencinya. Aku butuh waktu, aku harap Mama paham!."


Anisa menghela nafas, dia menghargai keputusan Anya. Kesalahan Danar memang fatal, wajah jika Anya belum bisa memaafkannya. Dia hanya bisa berdoa semoga suatu saat nanti, Anya bisa menerima Danar sebagai suaminya.


"Tidak masalah, aku akan menunggu maafmu sampai kapanpun!", ucap Danar terdengar tulus.


"Oh ya, Nar. Apa kamu akan menemui Tari hari ini? Mungkin semalam dia emosi, makanya mengatakan seperti itu!", Danar melirik Anya yang hanya diam.

__ADS_1


"Nanti aku akan menemuinya, hari ini aku harus meninjau pembangunan Mall yang sempat ada masalah. Pekerjaanku agak berantakan belakangan ini, Ma. Jadi aku harus membereskan kekacauan yang terjadi!."


Ah, benar. Mall milik Danar sempat mengalami kendala pembangunan karena Danar yang kurang fokus sebab memikirkan masalah rumah tangganya. Bahkan ada beberapa investor yang menarik sahamnya karena menganggap Danar tidak kompeten dalam mengelola pembangunan Mall tersebut. Jadi sekarang dia harus membereskan semua kekacauan yang terjadi akibat ulahnya sendiri itu.


"Anya, kalau kamu bosan dirumah. Kamu bisa jalan-jalan dengan sopir. Atau kamu bisa mengunjungi Mama atau Danar diperusahan!."


Anya hanya mengangguk, dia adalah tipe rumahan. Jadi tidak akan bosan jika berdiam diri dirumah walau seharian. Setelah menyelesaikan sarapannya. Danar berpamitan ke kantor, begitupun dengan Anisa yang harus kembali mengurus perusahaan kecantikannya.


"Kalau kamu ingin apa-apa, beritahu aku. Akan membelikan apapun yang kamu mau!", ucap Danar sebelum benar-benar pergi.


"Hmm!", sahut Anya


"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pulang agak terlambat!."


Danar memasuki mobilnya, setelah mobil itu benar-benar pergi, barulah Anya memasuki rumah. Dia langsung menuju kamarnya, lalu merebahkan diri. Sudah tidak ada lagi foto pernikahan Danar dan Gita disana. Yang ada hanya foto pernikahannya dengan Danar beberapa minggu yang lalu. Anya tersenyum kecut,


"Sampai kapan aku terjebak dirumah ini? Kalau bukan karena anak ini, aku lebih memilih tinggal dirumahku sendiri. Aku lebih suka hidup kekurangan daripada hidup mewah tapi kesepian!", ucapnya lirih


Berada dirumah asing dengan orang-orang asing tentu membuatnya kesepian. Anisa sibuk begitupun dengan Danar, walau dia tidak pernah berharap dengan pria itu.


"Sebaiknya aku mencari kegiatan lain. Ah, membuat brownies sepertinya enak!!."

__ADS_1


Anya bergegas menuruni tangga menuju dapur, namun langkahnya terhenti karena kedatangan seorang yang membuatnya terkejut.


"Lihatlah, Ma. Siapa yang ada didepan kita?."


__ADS_2