
"Kita akan segera bercerai. Pergilah sekarang juga!."
Deg
Danar memejamkan mata menahan sesak di dadanya. Ucapan Gita telah menegaskan bahwa istrinya itu sudah tak bisa memaafkannya. Tidak ada lagi kesempatan seperti sebelumnya, kali ini, Danar akan benar-benar kehilangan Gita untuk selamanya.
"Untuk apa kau masih berada disini?. Pergi!!!."
"Ayo Danar, sebaiknya kita pergi dulu!." ajak Anisa
Dengan langkah gontai, Danar meninggalkan kamar rawat Gita. Berat rasanya meninggalkan istrinya dengan pria lain, tapi mau bagaimana lagi. Gita sendiri tak menginginkan kehadirannya.
"Mereka sudah pergi!." ucap Dirga
"Sebaiknya kakak juga pulang!." ucap perempuan itu
Dirga menatap Gita heran,
"Tidak, aku akan menemanimu disini. Ana sedang keluar kota mengurus proyek baru bersama tim. Jadi tidak ada yang menjagamu sekarang!." jelas Dirga
Gita menghela nafas,
"Aku ingin sendiri!." lirihnya pelan
Dirga menarik kursi lalu duduk disamping ranjang Gita. Dia kembali menatap wanita lemah tersebut,
"Kau pasti merencanakan sesuatu. Kau mau pergi dan menghilang bukan?. Kau mau membuat semua orang mengkhawatirkanmu?!." tebak Dirga
Gita langsung menatap bosnya,
"Aku tahu isi otakmu!!." cibir pria tersebut, Gita mendengus kesal
"Aku sudah tidak memiliki gairah hidup. Semua hancur, hidupku sudah tidak ada artinya lagi!." Gita tersenyum miris meratapi nasibnya.
"Lalu kau mau lari dari masalah?!", Gita menggelang pelan
"Aku tahu semua begitu berat untukmu. Tapi kau tidak bisa lari dari kenyataan. Selesaikan dulu masalahmu, lalu kau bisa pergi setelah itu!", ucap Dirga. Pria itu memandang Gita dengan tatapan teduhnya. Tangannya bahkan mengusah air mata yang keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
"Aku ingin semua segera berakhir. Aku tidak mau terlalu lama meratapi nasibku. Aku harus bangkit, aku harus memulai hidup baru. Aku harus bisa melupakan semua kenangan pahit ini. Tapi rasanya begitu sulit. Aku bahkan tidak tahu harus memulai darimana dan mau kemana!", Gita kembali meneteskan air mata. Sungguh, Dirga tak tega melihatnya.
"Pergilah denganku. Seperti yang pernah aku ucapkan pada Danar. Jika dia kembali melukaimu, aku akan membawamu pergi!", lagi-lagi Gita menggeleng. Dia tak mau merepotkan Dirga untuk kesekian kalinya.
"Tidak, maafkan aku kak. Aku tidak bisa pergi denganmu. Aku tidak mau melibatkanmu dalam masalah ini. Sudah cukup kau membantuku selama ini!", lirih Gita
Dirga menangkup wajah Gita, membuat wanita itu menatapnya.
"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku. Jadi, sudah seharusnya aku membantumu. Jika kau memang tidak mau pergi denganku, aku tahu siapa yang bisa membantumu!",
Gita hanya bergeming, entah bagaimana nasibnya ke depan. Ia sendiri belum tahu, yang jelas. Dia ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Danar lalu memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
****
Danar kembali kerumah sakit karena hati dan pikirannya begitu resah. Baru saja pulang, dia sudah kepikiran pada istrinya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali kerumah sakit. Tidak peduli seberapa keras Gita menolaknya. Danar hanya ingin meminta maaf dan jika bisa, semoga Gita tidak akan mengajukan perceraian mereka.
Pria itu berjalan ke kamar rawat Gita. Setibanya didepan kamar, dia menghela nafas. Kemudian membuka hendel pintu. Kosong, kamar Gita sudah rapi, apa Gita pindah kamar?. Pikirnya,
Danar segera keluar, dia berjalan menuju ruang administrasi untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Permisi sus, pasien kamar anggrek no 5, tidak ada dikamarnya. Apa pasien pindah kamar?!",
"Pasien atas nama Anggita Geavina sudah pulang setengah jam yang lalu pak!",
Deg
"Suster yakin pasien sudah pulang?. Coba di cek lagi, mungkin kamarnya dipindahkan!", paksa Danar
"Pasien memang sudah pulang pak!",
Hati Danar bergemuruh, emosi mulai menguasai dirinya. Beraninya Dirga membawa Gita pulang tanpa persetujuannya.
Tak membuang waktu, Danar segera menuju parkiran kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen Dirga.
Setibanya di apartemen Dirga, Danar memencet bel apartemen. Sayangnya tidak ada yang membuka pintu, Danar yakin Dirga sudah membawa Gita pergi dan menyembunyikan istrinya.
Aku akan membuat perhitungan denganmu, ucapnya geram
__ADS_1
Danar kembali pergi, kali ini dia pergi kerumah mamanya. Ia akan meminta bantuan Anisa untuk mencari keberadaan Gita. Jika perlu, Danar akan melaporkan Dirga ke polisi karena membawa kabur istri orang.
Emosi yang menguasainya membuat Danar kalap. Hampir saja dia menabrak pengendara bermotor jika dirinya tidak langsung menginjak rem mobilnya. Danar memukul stir dengan keras. Pikirannya hanya tertuju pada Gita, bahkan panggilan dari Tari tidak ia hiraukan.
Kini Danar tiba dirumah mamanya, ia masuk dengan langkah pelan. Anisa nampak duduk termenung diruang tamu. Ia bahkan tidak menyadari kehadirannya.
"Ma!",
Perempuan paruh baya itu menatap putranya.
"Untuk apa kau kemari?", tanya Anisa dingin
"Dirga membawa Gita pergi!",
Anisa bersikap santai, mungkinkah ia sudah tahu tentang kepergian Gita,
"Dari sikap mama, aku yakin mama sudah tahu hal ini!", tebak Danar
"Dirga tidak membawa Gita pergi. Tapi kau yang membuat dia pergi!",
"Ma ... !",
"Apa?. Memang benar kan, kau yang membuat Gita pergi. Lagipula, istri mana yang akan tahan memiliki suami sepertimu. Sudah poligami, KDRT pula. Untung Gita tidak melaporkanmu pada polisi. Kalau tidak, kau sudah mendekam dipenjara!", sinis Anisa
Danar mengusap rambutnya frustasi. Niatnya kemari bukan untuk berdebat dengan mamanya. Tapi Anisa malah semakin menyalahkan dan menyudutkannya.
"Kedatanganku kemari untuk meminta mama membantuku mencari Gita. Bukan mendengar mama semakin menyalahkan aku!",
"Loh, kamu memang salah kok. Kenapa tidak terima?",
Danar menggeram kesal, dia semakin pusing mendengar ucapan mamanya.
"Kalau kamu mau mencari Gita, cari sendiri. Mama tidak akan membantumu. Lagipula mama tidak tahu kemana Gita pergi, sekalipun Mama tahu, mama tidak akan memberitahumu!", Anisa melenggang pergi begitu saja meninggalkan Danar diruang tamu. Pria itu terlihat semakin frustasi. Kemana dia akan mencari Gita, Danar bahkan tidak punya informasi lebih mengenai Dirga.
Dengan perasaan kacau, Danar berdiri lalu mulai melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun perkataan Anisa mampu membuat jantungnya terasa berhenti berdetak,
"Gita sudah mengajukan gugatan cerai. Selamat, kau akhirnya akan bahagia dengan kekasihmu itu!",
__ADS_1
Deg