
Berbeda dengan keluarga Danar yang diliputi kegelisahan dan Kekhawatiran. Dirga dan Gita justru tengah bahagia karena keduanya akan pergi bulan madu.
"Sayang, semua sudah siap kan?. Kita pergi sekarang, ya!",
Gita tersenyum, dia menyambut uluran tangan sang suami. Kemudian keduanya berjalan keluar kamar. Dilantai bawah, Januar sudah menunggu mereka diruang tengah.
"Kalian sudah siap?",
"Sudah, Pa!!",
"Ingat pesan papa. Nikmati waktu kalian. Jangan lupa buatkan papa cucu yang banyak!!", ucao Januar antusias.
Gita tersenyum malu, sementara Dirga yang melihat istrinya malu malah berniat menggodanya.
"Papa bantu doa ya, Pa. Kalau kami sih, sudah usaha setiap waktu!!", Dirga mengerlingkan matanya pada Gita.
Januar tertawa melihat kejahilan putranya, apalagi wajah Gita yang tersipu merah.
"Papa akan doakan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian!", lirih Januar
Gita mendekati mertuanya lalu duduk bersimpuh didepan Januar. "Terima kasih atas doanya pa!",
Januar mengangguk, "Dengan cinta kalian yang begitu besar. Papa yakin, apapun badai yang akan menerpa rumah tangga kalian nanti. Kalian pasti bisa melewatinya dengan baik.Ingat, kejujuran dan komunikasi adalah faktor penting dalam sebuah hubungan. Katakan apapun yang terjadi pada pasangan masing-masing sekalipun itu masalah berat. Bicarakan dan cari solusi dengan kepala dingin. Semua bisa diatasi jika kalian saling terbuka.!", tak henti Januar memberikan mereka petuah untuk rumah tangga kedepannya.
Setelah momen haru itu. Dirga dan Gita berpamitan pada Januar. Mereka diantar sopir menuju bandara.
*
*
*
Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Bandara Soekarno - Hatta menuju Bandara Internasional Lombok. Akhirnya pengantin baru itu sampai di Lombok. Tempat dimana mereka akan menghabiskan bulan madu selama beberapa hari kedepan.
"Sayang, kamu yakin akan naik travel kesana?", tanya Dirga ragu
"Tentu saja, sayang. Bukankah kita sudah sepakat akan menikmati perjalanan kita dengan sederhana. Lagipula, travel yang paling cepat sampai!!", Dirga mengangguk.
Mereka memutuskan naik Lombok Car Transport. Dirga sengaja memilih paket private suttle agar tidak berdesakan dengan penumpang lain. Awalnya Gita keberatan, namun akhirnya dia pasrah karena Dirga memaksa. Perjalanan ditempuh dari Bandara menuju Pelabuhan Bangsal. Setelah sampai di Pelabuhan Bangsal, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kapal cepat menuju Gili Trawangan.
Setelah mencari penginapan yang sesuai keinginan keduanya. Dirga dan Gita sepakat menginap di MP Villas yang berjarak 1,1 Km dari pusat Gili Trawangan. MP Villas menggunakan desain kayu kontemporer. Dilengkapi kolam renang pribadi, pencahayaan alami, pendingin ruangan, TV satelit layar datar, ruamg tamu. Ruang makan serta minibar. Sangat lengkap untuk mereka yang memang ingin menikmati privasi.
"Kamu suka Villa-nya?", tanya Dirga yang memeluk istrinya dari belakang. Menghirup aroma tubuh candu tersebut.
"Aku suka, sangat suka!!", sahut Gita.
"Kamar mandinya sangat bagus. Bagaimana kalau kita mandi bersama?", Gita menangkap sinyal nakal dari sang suami.
"Kamu mau kita mandi bersama?", Dirga mengangguk. Gita tersenyum nakal, dia menarik lengan Dirga memasuki kamar mandi. Dan tentunya, mereka menghabiskan waktu untuk kegiatan panas keduanya.
__ADS_1
Dirga benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk membuat bayi. Dia tidak membiarkan Gita terlalu lama menganggur. Setiap ada waktu, pasti dimanfaatkan dengan baik oleh pria itu. Bahkan makanan mereka saja sengaja Dirga minta dikirim kekamar.
*
*
Pagi kembali menyapa, terlihat seorang wanita hanya berbalut selimut dengan wajah kesalnya. Siapa lagi kalau bukan Gita. Dirga hanya tersenyum melihat kekesalan sang istri. Tentu saja karena mereka baru selesai bercinta. Kegiatan yang selalu mereka ulang entah sudah ke berapa kalinya.
"Kenapa harus jauh-jauh ke Lombok kalau aku hanya dikurung dikamar?", ucapnya kesal
"Kita akan jalan-jalan kok, sayang. Tapi urusan ranjang akan jadi prioritas utama!!", sahut Dirga santai
Gita meraih jubah mandi kemudian memakainya. Namun saat hendak ke kamar mandi, Dirga justru menahannya.
"Apa lagi, aku mau pipis!!", Gita menatap suaminya dongkol.
"Ya pipis aja. Tapi jangan mandi, kita mandi di kolam renang saja!!",
Gita mengangguk malas, setelah selesai membuang hajat. Gita berjalan keluar kamar mandi. Tanpa dia duga, Dirga mengangkatnya dan membawanya ke kolam renang.
"Sayang, kamu mau apa?", pekiknya kaget
"Kita akan mandi di kolam renang!!", Gita mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Tanpa sengaja dia melihat tanda kerah dileher Dirga. Sungguh dirinya malu kala mengingat malam ganas mereka. Bukan hanya Dirga yang memiliki ha*s*at tinggi. Dirinya pun demikian. Hanya saja, yang membuatnya kesal karena Dirga hanya memberinya jeda sebentar untuk istirahat.
"Baru sadar kalau kamu membuat banyak tanda semalam?", pertanyaan Dirga membuat pipi Gita merona.
"Jangan malu. Aku malah suka kalau kamu juga agresif!!", bisik Dirga. Dia menurunkan istrinya di kursi panjang ditepi kolam renang. Menatapnya dengan instens kemudian memberikan kecupan manis di bibir Gita.
"Ayo sayang, masuklah kemari!!",
Gita pun ikut masuk kedalam kolam. Tidak hanya berenang, mereka bercanda, berciuman, dan menikmati sarapan yang entah sejak kapan ada disana.
Selesai sesi mandi di kolam renang. Dirga mengajak Gita jalan-jalan. Sebelumnya dia sudah menghubungi resepsionis untuk mengatur perjalanan mereka selama disana.
Keduanya tampak bahagia menikmati kegiatan mereka. Dan rasanya dunia hanya milik berdua.
*
*
Jantung Tari berdetak semakin cepat. Darimana mertuanya itu tahu kalau dia sudah melakukan pemeriksaan?. Ah, Tari lupa siapa Anisa. Dia bukan perempuan rumahan yang kerjaannya sibuk bergosip seperti tetangga sebelah. Anisa adalah wanita karier yang memiliki banyak kenalan dan koneksi. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika Anisa mengawasi semua kegiatannya selama ini.
Berbeda dengan Tari, Danar juga tak kalah terkejut dengan permintaan mamanya. Bagaimana bisa mamanya meminta dia menikah lagi jika Tari tak bisa memberinya seorang anak. Bukankah setiap pasangan memiliki masalah berbeda-beda. Dan dalam rumah tangga tidak melulu hanya soal anak. Tapi tidak dipungkiri jika dirinya juga ingin menggendong bayi, memiliki penyemangat hidup yang akan menghapus lelahnya setiap hari selepas bekerja.
"Aku setuju, kita pergi bersama untuk memastikan jika yang kamu tuduhkan pada Tari sama sekali tidak benar!",
Anisa mengiyakan perkataan Tania. Walau badannya sedikit lelah. Tapi dirinya harus memastikan tidak ada masalah pada menantunya.
Mereka memutuskan pergi kerumah sakit untuk mendengar penjelasan dokter mengenai pemeriksaan yang Tari lakukan dua hari yang lalu. Tari tampak cemas, jujur dia khawatir akan kondisinya. Bagaimana jika ternyata memang dirinya yang bermasalah. Haruskah dia merelakan Danar menikah lagi?. Tidak, membayangkannya saja sudah membuatnya sesak. Bagaimana kalau jadi kenyataan. Apapun hasilnya nanti, dia akan tetap berusaha agar bisa mengandung anak Danar.
__ADS_1
"Jangan khawatir, semua akan.baik-baik saja!!", ucap Danar seolah tahu kekhawatiran sang istri. Tari tersenyum, dia menggenggam tangan suaminya.
Akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Tari yang sudah membuat janji dengan dokter, tidak perlu mengantri karena dokter tersebut belum masuk jadwal praktek.
"Selamat pagi ibu Tari. Wah, hari ini yang mengantar banyak ya!", ucap dokter berhijap itu. Tari hanya tersenyum kaku, dia deg-degan sekaligus takut untuk mendengar hasil pemeriksaan dirinya.
"Tolong bacakan hasil pemeriksaan anak saya dok!. Katakan jika memang tidak ada masalah pada putri saya!!", pinta Tania dengan percaya diri. Dokter tersenyum kemudian mengambil amplop didalam laci mejanya.
"Dari beberapa rangkaian tes yang sudah dijalani ibu Tari. Disini hasilnya normal. Tidak ada masalah pada kondisi ibu Tari!!",
Tania tersenyum begitupun dengan Tari yang merasa lega.
"Kalian dengar kan?. Tari tidak mandul, dia normal!!", sarkas Tania
"Lalu kenapa menantu saya belum juga hamil, dok?", tanya Anisa
Tari dan Tania kompak menatap ibu Danar tersebut.
"Jika semuanya normal. Penyebab lain sulit hamil bisa terjadi karena gaya hidup tidak sehat. Misalnya merokok dan minum minuman beralkohol!",
Deg
Tubuh Tari membeku, rokok dan alkohol adalah temannya kala dirinya merasa kalut dan emosi. Apalagi kalau dirinya sedang ada masalah dengan Danar ataupun sedang kesal pada Anisa. Sedangkan Tania, senyum yang tersungging tadi tiba-tiba lenyap seketika.
Tania berdecak kesal, kebiasaan Tari sendirilah yang menyulitkannya saat ini. Bagaimana kalau Anisa memintanya merestui Danar untuk menikah lagi?. Karena tahu kebiasan buruk putrinya. Baru saja dia merasa menang, sekarang langsung kalah telak.
"Apa istrimu itu perokok dan peminum, Danar!!", tanya Anisa setelah mereka berada didalam mobil.
Danar tidak menjawab, dia takut mamanya akan marah kalau tahu Tari memang perokok juga peminum walau tidak begitu berat. Tapi tetap saja Tari melakukan itu. Tari sendiri takut, bagaimana kalau Anisa tahu kebiasaan buruknya. Apa wanita itu akan memintanya merestui Danar untuk menikah lagi?.
"Tari terbukti baik-baik saja. Dia masih bisa memiliki anak. Tidak perlu meminta Danar menikah lagi. Lagipula, aku yakin Danar mencintai Tari apa adanya!!", ucap Tania seolah tahu apa yang cemaskan putrinya.
"Tapi kami tetap membutuhkan seorang pewaris!!", kekeh Anisa
..."Kamu tidak mau menjawab pertanyaan Mama, Danar?", Anisa mengalihkan tatapannya pada Danar....
Danar masih bergeming. "Katakan dengan jujur, Tari. Apa kamu seorang perokok dan peminum?",
Tari gemetar, jujur dia takut dan belum siap jika harus berbagi suami lagi.
"Jawab!!", bentak Anisa
"I-iya Ma!!",
*
*
*
__ADS_1
duh mbak Tari, sekarang menyesal kan?
Oh iyaz untuk tempat honeymon, jarak dan lain lainnya. Aku hanya mencari informasi lewat internet ya. Kalau ada kesalahan, kalian bisa komen dibawah. Terima kasih