
Setelah hari kecelakaan itu. Anya dan Danar mengadopsi bayi cantik tersebut. Proses hukum pun sudah mereka lewati demi mendapat hak asuh legal dari bayi malang itu. Kondisi Anya berangsur membaik dan tampak ceria lagi seperti biasa. Kehadiran bayi mungil itu mampu membuat kesedihan keluarga kecil Danar sedikit terobati atas insiden hilangnya bayi mereka. Walau kehilangan Khanza sudah terobati dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Salwa Rosita Adiaksa itu, tak lantas membuat Danar menghentikan pencarian putrinya.
*
*
25 Tahun Kemudian
"Bagaimana hubungan abang dengan Salwa?," tanya Gita pada di sulung Azka. Putranya itu sudah menjelma menjadi pria tampan yang sukses dengan usaha perhotelannya. Bahkan, dia berhasil menjadi pengusaha dengan jerih payahnya sendiri. Di usianya yang baru 26 tahun, Azka sudah memiliki semuanya. Rumah mewah, beberapa hotel berbintang, bahkan seorang kekasih yang begitu cantik.
"Kalau abang berencana melamar Salwa, apa ayah dan bunda setuju?", jawab Azka sedikit ragu
__ADS_1
Dirga dan Gita saling menatap, mereka memang sudah akrab dengan Salwa, kekasih Azka yang merupakan anak Danar dan Anya. Bahkan kedua keluarga itu sesekali bertemu. Hubungan mereka juga terjalin baik tanpa mempermasalahkan masa lalu.
"Abang yakin, mau menikah dengan si manja itu? Nggak repot nanti ngurusin dia!," celetuk Saga, si bungsu.
Sagara Ibrahim, putra kedua Dirga dan Gita, yang lahir tiga tahun setelah Azka. Jika Azka tumbuh menjadi pribadi yang dingin namun penuh kasih sayang. Saga justru memiliki sikap yang blak-blakan dan tegas.
Azka menatap tajam adiknya, "Salwa tidak semanja yang kamu katakan. Aku yakin dia bisa menjadi istri yang baik!." sahut Azka tidak terima. Saga hanya mengedikkan bahu acuh kemudian melanjutkan makannya.
Gita menghela nafas, "Kalau abang sudah yakin, bunda sama seperti ayah. Kami akan mendukung apapun yang abang pilih. Pesan bunda, apapun yang terjadi nanti. Kalian harus menghadapinya bersama-sama. Saling mengerti, memahami, melengkapi dan mendukung satu sama lain. Cobaan dalam rumah tangga pasti akan selalu datang. Dan saat itu terjadi, cinta kalian akan diuji. Jika kalian mampu melewati badai dengan baik. Percayalah, kebahagiaan akan datang tanpa kalian minta!."
Azka tersenyum, "Terima kasih atas dukungan ayah dan bunda. Aku akan segera melamar Salwa dalam waktu dekat!."
__ADS_1
Saga menatap abangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan dia tidak suka dengan Salwa. Tapi Saga ragu, apakah Azka benar-benar mencintai Salwa atau hanya rasa nyaman abang kepada adiknya. Mereka mengenal sejak kecil, bahkan selama ini, Azka tidak mengenal gadis lain karena dia hanya sibuk menjaga Salwa. Sikap Salwa yang manja membuatnya selalu bergantung pada Azka. Dan Azka sendiri akan selalu melindungi Salwa dari gangguan teman-temannya. Itupun berlaku sampai sekarang.
*
"Bang, kamu benar-benar mencintai Salwa?", tanya Saga. Kini mereka berada di kamar Azka. Sebagai saudara, ia ingin abangnya bahagia. Ia tidak mau Azka salah pilih dan menyesal dikemudian hari.
"Cinta? Apa itu cinta? Kami sudah bersama sejak kecil. Sudah tahu sifat masing-masing. Apa cinta masih diperlukan?."
Saga menghela nafas, "Kamu akan menikah bang. Kalian akan tinggal bersama selamanya. Rasa bosan pasti ada, jenuh apalagi. Cinta itu pondasi. Awal dari semua kebahagiaan. Yang saling mencintai saja bisa berpisah, apalagi yang tidak ada cinta. Abang merasa nyaman dengan Salwa karena selama ini abang tidak pernah mengenal wanita lain. Itu bukan cinta, bang. Hanya rasa nyaman abang kepada adiknya. Coba abang tanyakan pada hati kecil abang. Jangan sampai abang menyesal dengan keputusan yang abang buat!."
Azka menatap punggung Saga yang sudah tak terlihat. Dia menghela nafas. Cinta? Dia sendiri tidak tahu apa dia mencintai Salwa atau tidak. Terbiasa menjaga gadis itu membuat Azka menyayangi Salwa. Apa sayang bisa dikatakan cinta? Entahlah. Lagipula, benar kata Saga, selama ini dia tidak mengenal gadis lain selain Salwa. Ah sudahlah, bukankah dia dan Salwa sudah saling mengenal luar dalam. Azka yakin semua akan baik-baik saja. Perkara masalah apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Azka yakin mereka bisa melewatinya walau dia yang harus banyak mengalah.
__ADS_1