
"Oh, jadi benar. Kau menemui pelakor ini?", ucap Tari sengit. Dia melangkah mendekat ke arah Gita.
"Tari, jangan membuat keributan!", peringat Danar. Namun istrinya itu tak menghiraukan.
"Apa kau sudah tidak laku sampai ingin merebut suamiku?", tanya Tari dengan nada kesal.
Gita tertawa remeh, pertanyaan macam apa itu. Tidak bermutu.
"Kau sengaja datang kembali untuk merebut suamiku, bukan?. Cih, buang jauh-jauh niat busukmu itu, dasar pelakor!!",
Gita justru tertawa, hal itu membuat Tari semakin geram.
"Tari, sebaiknya kita pulang sekarang!", pinta Danar yang menyadari jika situasi mulai memanas.
"Kenapa buru-buru pulang?. Urusanku dengan wanita murahan ini belum selesai. Aku harus membuatnya berhenti mengejarmu!!",
"Aku sendiri yang kemari!", jawaban Danar membuat Tari semakin kesal. Dia langsung menatap suaminya tajam.
"Sudah selesai bicaranya?", tanya Gita pada dua orang didepannya. "Pertama, aku tekankan dan tegaskan. Kedatanganku bukan untuk kembali pada suami pecundangmu itu!", Danar langsung melotot mendengar ucapan mantan istrinya. "Kedua, aku tidak akan pernah memungut sampah yang sudah aku buang. Dan ke ... !",
"Cih, kau pikir aku percaya dengan semua bualanmu?. Sekali wanita murahan tetaplah wanita murahan!", potong Tari dengan angkuh
"Hahaha, pelakor teriak pelakor. Apa kau tidak malu mengatai dirimu sendiri?",
"Aku wanita terhormat, aku bukan perempuan perebut suami orang sepertimu!!", geram Tari tak terima
Gita kembali tertawa sinis,
"Kamu itu bodoh atau apa sih?. Yang jelas-jelas merebut suamiku itu kamu!!. Yang merangkak naik keranjangnya hingga dia meninggalkan aku itu juga kamj. Jadi, sebelum mengatai orang, sebaiknya berkaca dulu. Lagipula, bukankah aku sudah mengalah dan memberikan Danar padamu secara cuma-cuma. Mana mungkin aku mau menjilat ludahku sendiri, kurang kerjaan!!",
__ADS_1
"Perempuan tidak tahu diri!!", Tari menampar Gita, Danar segera menarik tangan istrinya. Bukan marah, Gita malah dengan santai menghampiri mantan madu dan suaminya.
"Awkk ... !", pekik Tari saat satu tangan Gita menjambak rambutnya, dan satunya lagi mencengkram lengan madunya. Dia juga menatap Danar tajam membuat pria itu membeku dan tak melakukan apa-apa.
"Aku peringatkan padamu, Tari. Jangan pernah berfikir aku akan kembali pada suami busukmu itu. Meski di dunia ini laki-laki hanya tersisa suamimu, aku tidak sudi kembali padanya. Karena apa?!", tanya Gita menatap mantan madunya. "Karena aku sangat membenci kalian berdua. Karena kalian aku menderita, bahkan aku harus kehilangan calon anakku. Kau pikir, aku mau menghabiskan sisa hidupku dengan seorang pembunuh seperti suamimu?. Astaga ... yang benar saja. Aku masih memiliki kewarasan tinggi dan berfikir milyaran kali untuk kembali padanya. Jadi jangan khawatir, aku tidak berminat dengan suami bekasmu!. Sekarang, silahkan tinggalkan tempat ini, dan jangan pernah kembali lagi!!",
Gita mendorong Tari, membuat wanita itu terhuyung kedepan. Wajahnya terlihat memerah menahan marah, dadanya juga naik turun dengan nafas memburu.
"Urusan kita belum selesai, aku akan membuat perhitungan denganmu!!", teriak Tari
Danar masih mematung menatap mantan istrinya, ada sakit yang tak tergambarkan setiap kali Gita menghinanya. Mungkin, itulah yang Gita rasakan dulu. Sekarang Danar paham, kenapa Gita sulit melupakan semua perbuatannya.
"Mas, cepat!!!. Jangan sampai aku turun dan membuat keributan lagi!!", ancaman Tari membuat Danar segera masuk kedalam mobil. Lalu pergi dari rumah Gita.
"Dasar pria bodoh!. Kalian memang pasangan yang serasi!!",
Gita berbalik, dia langsung mengelus dada melihat seorang wanita berdiri didepannya.
"An, setelah sekian lama tidak berjumpa. Apa kau berniat membuatku mati jantungan?", kesal Gita
Ana menyengir,
"Maafkan aku Git, aku hanya tidak menyangka kamu bisa seberani itu!!",
Gita memutar bola matanya malas, dia berjalan memasuki rumah.
"Kamu mau masuk, apa terus berada diluar?",
"Eh, iya-iya!", Ana segera berlari masuk kedalam rumah.
__ADS_1
****
"Git?",
"Hm!",
"Ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa kabur begitu saja tanpa memberi tahu apapun padaku. Kamu sudah tidak menganggap aku sahabat lagi?. Kamu bahkan tidak pernah menghubungiku!", Ana memberondong Gita dengan banyak pertanyaan.
Gita masih rebahan dengan santai, dia sedikit merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"An, aku tidak mau membebanimu dengan masalahku. Aku juga tidak mau merepotkan siapapun. Masalah aku tidak menghubungimu, tenang. Bukan hanya kamu saja yang tidak aku hubungi, tapi semua orang!",
Ana mencebik kesal,
"Kua selalu seenaknya sendiri!!", cibir Ana
Gita hanya tertawa,
"Oh ya, apa kau tahu?. Selama tiga tahun ini, bos Dirga begitu dingin dan anti wanita. Dia jadi lebih gila kerja dan sedikit pemarah. Tapi, karena itulah dia terlihat semakin keren. Bahkan banyak karyawati yang semakin menyukainya. Aku jadi penasaran, apa dia berubah karena kepergianmu?",
"Mungkin!", jawab Gita sambil mengedikkan bahu
"Aku sempat terkejut karena dia menghubungiku untuk menemanimu disini. Sebenarnya, bagaimana hubungan kalian?",
"Baik!",
"Ish, maksudku, sejauh apa hubungan kalian sekarang?",
"Kami akan menikah dua minggu lagi!!",
__ADS_1
"WHAT!!"