
"Sayang, kamu keterlaluan loh, ngerjain Andre. Dia sampai mual-mual!", ucap Gita pada suaminya. Gita hanya merasa tidak enak pada tunangan sahabatnya. Sudah susah-susah mengantar pesanannya kemari, eh ... Masih dikerjai juga.
"Sekali-kali jahil sama karyawan sendiri, ga ada salahnya, yank!", sahutnya enteng.
Gita mendengus kesal, ada saja ulah suaminya yang membuatnya mengusut dada.
"Yank!."
"Hem!", sahut Gita malas
"Kamu marah?", tanya Dirga
"Nggak marah. Hanya merasa tidak enak hati pada Andre. Lain kali, jangan bersikap seenaknya begitu!"
Dirga hanya mendengus, masalah kecil saja dibesar-besarkan.
"Ya sudah. Nanti aku akan meminta maaf pada Andre. Sekalian aku angkat dia menjadi asisten pribadiku!."
Reflek Gita menatap suaminya, "Kamu ih, bercanda terus!."
__ADS_1
"Loh, aku nggak bercanda. Aku serius. Aku sudah memantau Andre sejak lama. Dia kerjanya bagus dan rapi. Tidak seharusnya dia bekerja hanya di tim divisi. Sayang kalau kemampuannya tidak dimanfaatkan. Dia juga orang yang jujur dan bisa dipercaya. Lagipula, dia harus menghidupi sahabatmu setelah mereka menikah. Setidaknya, hidup mereka akan jauh lebih baik kalau Andre manjadi asistenku!."
Gita menatap suaminya dengan lekat," Terima kasih, kamu sudah memikirkan hidup sahabatku! ", ucap Gita jujur.
Dirga memeluk istrinya lalu mencium keningnya dengan lembut. "Aku juga ingin orang-orang yang menyayangimu juga bahagia!."
Gita memeluk suaminya erat, ternyata Allah begitu menyayanginya. Dia mengirimkan pria sebaik Dirga sebagai pendamping hidupnya. Memberikan kebahagian yang dulu bahkan seperti mimpi belaka. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi luka. Dan semoga kedepannya, hanya kebahagiaan yang menyertai hidup mereka.
"Yank, kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki, ya?", tanya Dirga setelah mengurai pelukannya.
"Laki - laki atau perempuan tidak masalah. Asalkan dia sehat!", sahut Gita
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat dia lahir. Kalau laki-laki pasti tampan seperti aku. Kalau perempuan, akan cantik seperti kamu!."
"Kamu akan menjadi Daddy yang baik untuk anak-anak kita kelak!."
"Dan kamu akan menjadi Mommy yang terbaik untuk anak-anak kita. Aku mencintaimu!."
"Aku juga mencintaimu!."
__ADS_1
*
*
Perasaan Tari semakin hancur setelah Danar meluapkan perasaannya. Rasa cintanya yang begitu besar pada sang suami telah menyeretnya dalam luka menganga yang akan sulit disembuhkan. Kejujuran Danar seperti godam yang meremukkan seluruh hatinya.
"Aku mohon, demi kebaikan bersama. Kamu harus setuju aku menikahi Anya. Bagaimanapun sekarang dia sedang mengandung anakku. Aku tidak mungkin lepas tanggung jawab begitu saja!", ucap Danar melembut.
Tari masih membisu, dia mencoba berdamai dengan keadaan. Jujur hatinya menolak, tidak ada wanita yang mau dimadu termasuk dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur rumit seperti ini.
Semua ini karena Gita. Seharusnya dulu dia mati dengan bayinya itu. Meski aku pemenangnya, nyatanya sekarang aku kalah. Aku dikalahkan oleh takdir. Aku terluka karena perempuan itu masih menghantui rumah tangga kami.
"Tari, aku mohon. Berdamailah dengan keadaan!", pinta Danar.
Tari menatap suaminya, "Kenapa hanya aku yang menderita disini sedangkan kamu tidak? Tuhan menghukumku tapi tidak denganmu. Bukankah ini tidak adil? Aku setia padamu sejak dulu, tapi kamu? Gita, aku dan sekarang Anya. Kamu tidak lebih dari pria ba*ingan yang meniduri banyak wanita. Kamu tak ubahnya seperti pria b*engsek diluar sana yang dengan mudahnya menikmati wanita manapun yang kamu inginkan. Kenapa hanya aku yang menerima karma? Seharusnya kamu menerima karma yang jauh lebih menyakitkan dari pada aku!."
Danar bungkam, ucapan Tari seolah mengingatkannya pada kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini. Danar sadar, dia bukanlah suami yang baik. Gita meninggalkannya, Tari mulai membencinya dan Anya, Danar bahkan tidak tahu bagaimana perasaan wanita itu. Benar yang Tari ucapkan, dia tak lebih dari seorang ba*ingan.
"Kamu mau aku menyetujui pernikahan kamu, kan? Aku akan menyetujuinya!."
__ADS_1
Danar menatap istrinya, jelas terlihat luka di mata Tari.
Ini baru awal Danar, aku mengalah untuk menang. Akan kubuat hidup istri barumu menderita. Tapi sebelumnya, aku akan memberi pelajaran pada mantan istrimu itu. Dialah sumber masalah dari penderitaan yang aku alami.