
"Siapa ayah dari bayimu?!."
Deg
Gita membeku, dia menatap nyalang suaminya. Bisa-bisanya Danar masih bertanya siapa ayah dari bayinya. Apa Gita terlihat seperti wanita murahan?. Apa selama ini Danar menganggapnya tak lebih dari seorang j*l*ng?.
Cukup ... dia lelah. Habis sudah kesabarannya. Sepertinya sekaranglah waktu yang tepat untuknya menyerah. Tak ada lagi air mata yang keluar dari mata cantiknya. Tidak ada gunanya juga menangisi nasibnya yang tragis. Bahkan impian yang baru bersemi seketika mati begitu saja.
"Katakan, SIAPA AYAH BAYI ITU!!." bentak Danar
Gita menatap suaminya dengan sinis,
"Ayahnya sudah mati!!." jawab Gita dingin
Danar tersulut emosi, dia mencengkram bahu Gita dengan keras, membuat wanita itu meringis kesakitan
"SEKALI LAGI AKU TANYA PADAMU, SIAPA AYAH BAYI ITU!!."
"APA PEDULIMU?, AKU JUJURPUN KAU TIDAK AKAN PERCAYA PADAKU!!." jawab Gita dengan nada yang tak kalah tinggi, "Aku lelah, aku menyerah sekarang. Sejak awal kamu memang tidak menginginkan aku, sejak awal kamu memang tidak mencintaiku. Aku terlalu memaksakan diri dan bermimpi tinggi. Padahal aku sudah tahu, semua hanya angan yang selamanya mustahil untukku gapai. Hahaha, betapa bodohnya aku terus-menerus mengharapkanmu, padahal aku tahu, aku tidak ada artinya dimatamu!!." lirih Gita, perempuan itu tertawa miris meratapi kebodohannya.
"Benar dugaanku. Anak itu bukanlah anakku. Kau tentu tidak akan menyerah jika memang bayi itu adalah anakku!." ucap Danar sinis
Tidak ada yang lebih menyakitkan selain mendengar tuduhan keji dari suaminya. Gita menatap Danar untuk yang terakhir kalinya. Menatap wajah pria yang dia cintai, sayangnya pria itu selalu saja menyakitinya.
"Terima kasih atas luka yang kamu berikan, Mas. Tepat di aniversary kita yang satu tahun, kamu memberikan kado yang luar biasa menyakitkan!."
Deg
Danar terperanjat, dia bahkan lupa hari ini ulang tahun pernikahan mereka. Dirinya terlalu emosi hingga tak bisa berfikir jernih.
Flash Back On
"Kau senang?. Mamamu sudah mengacaukan semuanya, Mas. Apa salahku?, Apa aku harus bercerai dulu darimu baru dia akan berhenti mengusik ketenanganku?!!." sungut Tari marah
__ADS_1
Danar nampak frustasi, ia sudah menduga semua akan seperti ini.
"Kalau seperti ini terus, sebaiknya Kita berpisah saja. Aku lelah menghadapi sikap mamamu!!." ancam wanita seksi tersebut
Danar terperanjat,
"Jangan bicara seperti itu sayang. Kau tahu, aku masih mencintaimu. Jangan pernah berkata tentang cerai!!." mohon Danar
"Alah, kamu bicara seolah takut kehilanganku. Bukankah kamu masih punya istri yang lain?, aku lihat kamu mulai menyukainya. Kamu bahkan melupakanku saat bersama dengannya!." sindir Tari, tapi kenyataannya memang seperti itu, jika saja Tari tak memintanya datang, pasti Danar tak akan menemuinya.
"Aku minta maaf, aku akui aku mulai nyaman bersama Gita. Dia juga istriku, sejak awal kamu tahu resiko hubungan kita. Sekarang, aku tidak bisa melepaskanmu begitupun dengan Gita!!."
Tari kesal bukan main. Tidak ada wanita yang mau di duakan ataupun menjadi nomor dua.
"Kalau begitu, biar aku saja yang pergi. Hiduplah bahagia dengan wanita murahan itu!!."
"Apa maksudmu bicara seperti itu Tari. Gita bukan wanita murahan!." ucap Danar tak terima
"Terus saja membelanya, sekarang aku semakin yakin untuk berpisah denganmu. Asal kau tahu saja, istri tercintamu itu adalah simpanan Dirga. Dibelakangmu dia bermain api dengan bosnya itu. Kau pikir, apa alasannya mau bekerja di perusahaan saingan suaminya kalau bukan dengan imbalan yang pantas. Dia tak sepolos yang kira mas!!."
Tari tersenyum sinis, dia berjalan ke arah nakas kemudian mengambil amplop cokelat dan melemparkannya pada Danar.
"Itu yang kamu sebut tidak memiliki hubungan?. Kamu bodoh mas, kamu sudah dibutakan oleh cinta!!."
Danar membuka amplop tersebut, banyak foto Dirga dan istrinya. Mata Danar membulat saat melihat mereka berpelukan. Tari yang melihat hal itu tersenyum senang. Danar pasti akan meninggalkan wanita itu setelah ini.
Setelah tak sengaja bertemu Dirga dan Gita di Mall, Tari meminta seseorang untuk mengikuti mereka. Tari juga meminta orang itu untuk memfoto mereka. Dan ya, hal itu tentu saja menguntungkannya.
Rahang Danar mengeras, dia meremas foto-foto tersebut.
"Aku memberimu kesempatan terakhir, Mas. Kau memilih aku atau wanita itu, terserah padamu!!."
"Aku butuh waktu!!." Danar meninggalkan Tari begitu saja. Tari yang sudah hafal watak Danar justru tertawa,
__ADS_1
Kau hanya akan menjadi milikku Mas. Hanya milikku.
Flash Back Off
"Dia anak pria sialan itu bukan?!." tanya Danar sengit, dirinya kembali dikuasai emosi ketika mengingat foto-foto mereka.
"Cukup dengan kamu tidak mempercayaiku Mas. Jangan menyakiti anakku dengan perkataanmu itu!!."
"Kenapa?. Bukankah benar jika bayi itu anak Dirga!!." sinisnya
Gita tak mampu lagi berkata-kata. Hatinya sudah terlanjur sakit. Dia menaiki tangga meninggalkan Danar. Tak tinggal diam, pria itu mengikuti Gita masuk ke kamarnya
Danar melihat Gita memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Hal itu membuat Danar kembali menatapnya sinis,
"Bawa semua barang-barangmu. Aku tidak sudi ada satu barangmu yang tertinggal dirumahku!!."
"Kau tidak perlu khawatir tuan Danar yang terhormat, aku tidak akan meninggalkan satupun barangku dirumahmu!!."
Danar bergeming, dia masih menatap Gita dingin
"Seharusnya aku melakukan hal ini sejak dulu. Aku menyesal sudah menyia-nyiakan waktu berhargaku hanya untuk pria sepertimu!!." ucap Gita lalu menggeret kopernya keluar kamar
Danar tidak terima dengan ucapan istrinya,
"Akulah yang menyesal karena tertipu oleh wanita murahan sepertimu. Kau begitu menjijikkan, harusnya aku tidak pernah menikahimu, wanita j*l*ng!!!."
Tes
Air mata menetes begitu saja dipipi cantiknya. Inilah akhir penantiannya, akhir yang dia pikir manis, nyatanya semua terasa sangat menyakitkan
"Aku memang j*l*ang, aku memang murahan. Aku bahkan rela menyerahkan diriku pada pria brengsek sepertimu!!!."
Danar menyentak tangan Gita, sayangnya Gita justru terpeleset lalu jatuh berguling dari tangga lantai dua.
__ADS_1
"GITA!!!."