
"Apa ini, Ma?", tanya Tari dengan suara tercekat.
"Bukan apa-apa!", elak Tania.
Tania berusaha menutupi kegelisahannya dengan bersikap setenang mungkin dihadapan Tari.
Aku sudah membuang baju itu. Bagaimana bisa, anak sialan itu menemukannya. Apa mungkin, dia tahu semuanya? Tidak, aku yakin tidak ada yang tahu soal kejadian malam itu. Ucap Tania dalam hati
"Ma, sebenarnya apa yang pernah mama lakukan? Kenapa Dirga mengirimkan baju mengerikan ini pada mama!", tuntut Tari.
Tari masih mengingat jelas, jika baru yang berlumuran darah itu adalah baju kesayangan mamanya beberapa tahun yang lalu.
"Dia hanya meneror kita, Tari. Sama seperti kamu meneror istrinya dengan boneka berdarah!", Tania terus mencari alasan agar Tari tidak curiga. Alasan mamanya yang menurutnya masuk akal membuat Tari tidak curiga.
"Ya sudah. Aku akan ke butik. Mantan anak mama itu telah mengacaukan butikku. Dan aku harus segera membereskannya!."
Tania mengangguk, setelah Tari pergi, Tania mendudukkan tubuhnya di sofa. Bayangan kejadian beberapa tahun lalu mulai muncul dikepalanya.
Ini kecelakaan, aku tidak melakukan apa-apa padanya. Bathin Tari
*
*
__ADS_1
*
"Bu, syukurlah anda datang!", ucap karyawan Tari.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?."
Wanita muda didepannya diam, kemudian menghela nafas. "Desainer yang ibu sewa, tiba-tiba membatalkan kerjasama dengan kita. Semua desain yang sedang dia kerjaan juga dicancel. Bahkan dia sudah mentransfer uang denda atas pelanggaran kerjasamanya dengan pihak kita. Bukan hanya itu, entah kenapa semua pelanggan yang kemarin memesan, tiba-tiba membatalkan pesanan secara sepihak!."
Tari mengepalkan tangannya, omzet butiknya sudah menurun drastis sejak butik Gita dibuka. Dan sekarang karena ulah Dirga, dia kehilangan desainernya dan beberapa pesanan. Keterlaluan!!
"Bu ... Kalau seperti ini terus, saya khawatir kita tidak bisa bertahan. Bulan kemarin saja, keuangan kita minus ditambah harus menggaji karyawan!."
Tari memijat kepalanya, suaminya menikah lagi, butiknya di ujung kebangkrutan. Bahkan mamanya seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Papanya ... Pria itu bahkan mendukung suaminya untuk menikahi perempuan lain. Bak sudah jatuh masih tertimpa tangga, beginilah nasib Tari saat ini.
"Baik, bu!."
"Tolong urus masalah ini. Saya mau pulang!."
Tari melangkahkan kakinya keluar butik. Sebelum masuk kedalam mobil, dia menatap bangunan yang menjadi kebanggannya ini. Entah berapa lama lagi butiknya bisa bertahan. Wanita itu menghela nafas, butiknya ini adalah impiannya sejak kecil. Walau tidak memiliki kemampuan dibidang desain, tapi Tari memiliki keyakinan jika dirinya mampu mengelola dan menjadi pemilik butik yang terkenal.
Setelah masuk kedalam mobilnya, Tari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah akan kemana dia sekarang. Yang jelas dia malas untuk pulang kerumah. Suaminya baru menikah lagi, pasti mereka sedang mengobrol hangat, bermanja-manja bersama atau bahkan sedang bercinta. Tsk ... Miris sekali hidupnya. Impian hidup bahagia seketika sirna karena Takdir tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Tidak, kalau aku terus menghindar. Sama saja aku mengalah. Aku Mentari, tidak ada kata kalah dalam hidupku. Kalaupun aku terjanjur kalah. Aku akan tetap menjadi yang utama!."
__ADS_1
Tari melajukan mobilnya menuju rumah. Lebih tepatnya, rumah mertuanya yang dia tinggal bersama suami, dan sekarang bersama madunya juga.
Suasana hening mengiringi perjalanannya. Tari menatap kedepan dengan pikiran yang entah kemana. Dia merasa semua hampa, hati dan pikirannya tidak mau menyatu.
Setelah beberapa menit mengendarai mobilnya, akhirnya Tari tiba dikediaman Anisa. Rumah tampak sepi seperti biasanya. Wanita itu mengedikkan bahu. Suaminya kan terpaksa menikahi wanita lain karena hamil. Jadi tidak mungkin ada pesta mewah, bukan.
Tari berjalan menuju dapur, tenggorokannya kering. Dia butuh air untuk meredakan rasa hausnya.
"Wah - wah, lihatlah siapa ini. Ada nyonya baru disini!", sindir Tari saat melihat Anya makan didapur. Anya menampakkan ekspresi datar, perempuan itu seolah tidak peduli dengan ucapan Tari.
"Enak makanannya?", pertanyaan Tari hanya ditanggapi lirikan oleh Anya, "Tsk, kamu makan lahap sekali. Ah ya ... Jelas saja. Biasanya kan kamu makan seadanya. Tapi sekarang, kamu bisa makan makanan enak setiap hari!."
Anya masih menikmati makanannya tanpa terpengaruh dengan ciutan istri pertama suaminya. Hal itu membuat Tari emosi. Dia menatap tajam ke arah madunya.
"Kamu itu, tuli ya? Aku berbicara padamu. Dasar tidak sopan, setidaknya tatap lawan bicaramu!!."
Anya meletakkan sendok yang dia pegang. "Aku tidak memintamu bicara padaku. Kalau kamu punya etika, kamu tidak akan mengajak bicara orang yang sedang makan. Mengganggu saja!!"
Anya beranjak hendak meninggalkan dapur, namun Tari lebih dulu mencekal lengannya, "Wanita kelas bawah memang tidak punya sopan santun!!. Apa kau merasa diatas angin karena sudah dinikahi suamiku? Cih, jangan berharap akan menggantikan posisiku, gadis kampungan. Kau tidak lebih dari sekedar alat untuk memperoleh keturunan di keluarga ini!."
Anya menatap Tari sinis, lalu menghempas tangannya dengan kasar. "Aku bahkan tidak berminat menggantikan posisimu. Aku tidak tertarik dengan apapun yang ada dikeluarga ini, kecuali status untuk anakku. Walau aku hanya alat untuk memperoleh keturunan, setidaknya keluarga ini akan memiliki keturunan!", Tari menatap madunya tidak suka. Perkataan Anya seolah meledeknya karena dia belum juga hamil keturunan Adiaksa. "Tidak perlu bercemas diri karena keberadaanku. Aku bukan wanita matre, aku cukup tahu diri siapa dan dimana posisiku. Lagipula, aku tidak berminat dengan suami ba*inganku itu!." Anya melangkah meninggalkan Tari, "Oh ya, satu lagi. Sebaiknya mulai sekarang, kau borgol suami tercintamu itu. Aku khawatir, dia akan mencari wanita lain lagi karena tidak tahan dengan sikapmu!!"
Tari mengepalkan tangan, dia tidak menyangka jika Anya seberani itu. Urung mengambil air untuk minum, dengan langkah lebar Tari berjalan menuju kamarnya. Saat membuka pintu, Tari melihat Danar berada dikamarnya. Ada sedikit rasa senang karena Danar tidak bersama madunya, setidaknya, bayangan buruknya belum terjadi. Tari melangkah pelan ke arah sang suami.
__ADS_1
"Aku masih sangat mencintaimu, Gita!!."