
"Kandungan palsunya, maksudmu?!", sinis Anisa
Tari terlihat pucat, wanita itu mulai ketakutan. Jika Anisa sudah berkata dengan tegas, artinya mertuanya itu sudah mengetahui kebohongannya.
Flash Back On
"Tunggu ....!", suara Mayra menghentikan langkah kaki Anisa,
"Ada yang ingin kau jelaskan?", pertanyaan Anisa membuat Mayra terdiam beberapa saat. Anisa kembali duduk dihadapan dokter muda tersebut.
"Sa-ya ..., minta maaf. Sebenarnya memang benar, saya membuat keterangan palsu mengenai kehamilan menantu anda!", ucapnya penuh sesal
Anisa tersenyum, dia sudah menduga jika semua ini hanya siasat menantu liciknya.
"Jadi, apa yang membuatmu mau melakukan hal itu?", Anisa menatap Mayra. Wanita itu terlihat gamang
"Aku akan melindungimu juga keluargamu. Kau tidak perlu takut pada siapapun. Dan aku pastikan kau juga keluargamu aman!", Mayra menatap Anisa yang tersenyum lembut kepadanya
"Mentari datang dan mengancam akan melaporkan suami saya ke polisi. Suami saya tidak sengaja menabrak seseorang hingga tewas. Kami sudah bertanggung jawab dengan memberi santunan pada keluarganya. Tapi, dalam kejadian itu, suamiku saya dalam pengaruh alkohol. Kami menutupi hal itu dari keluarga korban, mereka hanya orang biasa yang tidak tahu apa-apa. Mereka bahkan pasrah ketika putra mereka telah meninggal", jelas Mayra
Sekarang Anisa mengerti alasan Mayra mau membantu menantunya. Hebat juga wanita licik itu, dia bahkan memanfaatkan situasi ini untuk mengancam seseorang demi kepentingan pribadinya.
"Sebaiknya kalian berterus terang pada keluarga korban. Jika mereka menerima semua ini dengan ikhlas, kasus ini tidak perlu sampai ke jalur kepolisian. Bagaimanapun, suamimu harus bertanggung jawab. Dan sebagai warga negara yang baik, kita harus mematuhi hukum yang berlaku!", tutur Anisa
"Anda benar, saya tidak boleh egois hanya demi kebahagiaan saya sendiri. Suami saya bersalah, dan sudah seharusnya dia bertanggung jawab. Saya sungguh minta maaf karena membantu menantu anda berbohong, saya hanya belum siap menghadapi kenyataan. Suami saya berkali-kali ingin menyerahkan diri pada polisi, tapi saya melarangnya. Saya hanya takut hidup sendiri, saya belum siap apalagi mertua saya memiliki riwayat penyakit jantung. Tapi kedatangan anda telah menyadarkan saya. Kami memang harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga korban. Entah apapun keputusan mereka, kami akan menerimanya!", Anisa tersenyum melihat Mayra telah menyadari kesalahannya, dari awal ia sudah yakin jika Mayra bukan orang yang jahat
"Terima kasih atas kejujuranmu. Kau jangan khawatir, aku akan menyuruh pengacaraku mendampingi kasus suamimu. Semoga saja kasus ini tidak sampai ke jalur hukum!", Mayra tersenyum mendengar penuturan Mayra
"Terima kasih banyak nyonya!", ucap Mayra dengan mata berkaca-kaca.
Flash Back Off
"Apa maksud mama berkata seperti itu?", tanya Danar tak terima, "Jika mama tidak merestui kami, tidak masalah. Tapi jangan mengatakan hal keterlaluan pada Tari. Apa mama tidak memikirkan perasaannya?. Bahkan saat dia sedang hamilpun, mama masih meragukannya!!", lanjutnya emosi
"Kamu sudah dibutakan cinta, Danar. Kamu bahkan sudah dibodohi wanita ini!", ujar Anisa
Tari sudah menitikkan air mata, dia tidak berkata apa-apa, namun hal itu membuat Danar semakin emosi, dia mengira Tari sakit hati dengan ucapan mamanya. Nyatanya Tari takut rahasianya akan terbongkar.
Danar mengusap rambutnya frustasi.
"Apa salah Tari ma?. Kenapa mama bersikap kejam padanya??", tanya Danar sendu
Anisa hanya diam tanpa ekspresi, sungguh dia geram dengan sikap bodoh putranya. Wanita licik itu bahkan bersikap seolah-olah dirinya tertindas dan teraniaya.
"Apa semua karena dia?", Danar menunjuk Gita, pria berusia 25 tahun itu menghampiri Gita dan mencengkram bahunya erat membuat Gita meringis kesakitan
__ADS_1
"Puas kamu sekarang?. Puas sudah membuat Tari dibenci mama. Puas sudah ....!",
"Hentikan Danar!!, potong Anisa, wanita paruh baya itu melepaskan tangan putranya dari bahu sang menantu,
"Kamu sudah keterlaluan!!, tidak cukupkah kamu menyakiti Gita dengan membawa selingkuhanmu tinggal dirumah ini?. Sekarang kamu juga menyalahkan Gita atas masalah ini, kamu bod ....!",
"Lalu aku harus menyalahkan siapa?. Karena perempuan ini mama menyakiti wanita yang aku cintai. Mama menghinanya, menuduhnya bahkan tidak mau menganggapnya sebagai menantu. Apa kurangnya Tari?. Dan apa kelebihan wanita rendahan ini!!",
"DANAR!!!",
Plak
Anisa menampar putranya, dia sungguh geram dengan sikap bodoh Danar.
"Ma, sudahlah!!", pinta Gita mencoba meredakan emosi mertuanya.
"Mama tega menamparku demi perempuan ini. Dia sungguh hebat, dia membuat mama memukul putra mama sendiri!!", lirih Danar,
"Sebaiknya mama pulang!!", lanjutnya
Perkataan Danar membuat Anisa terperangah, begitupun dengan Gita. Berbeda dengan Tari yang diam-diam tersenyum dibalik tangis palsunya.
"Kau mengusir mama?", tanya Anisa tak percaya
Danar menatap mamanya dengan raut yang sulit di artikan.
"Akhirnya kau menampakkan sifat seperti papamu!!", ucapan Anisa membuat Danar terdiam
Deg
Danar menghentikan langkah lalu menatap Anisa dengan sendu,
"Sekarang kau benar-benar mirip dia. Darah memang lebih kental daripada air. Kalian berdua sama, sama-sama menyakiti perempuan berhati tulus dan memilih wanita ular sebagai pendamping hidup kalian. Aku tidak akan melarangmu lagi, terserah apapun yang akan kau lakukan. Tapi ingat, jangan datang padaku jika kau sudah tahu kebenaran yang sesungguhnya!!",
Danar hanya menatap mamanya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya. Pria itu tidak peduli dengan mama dan istri pertamanya.
"Sebaiknya mama pulang dulu, mama perlu menenangkan diri!", saran Gita
Anisa menatap menantunya dengan tatapan iba. Tidak bisa dipungkiri, Anisa begitu kecewa dengan sikap Danar.
"Maafkan mama nak, mama gagal mendidiknya. Mama membuatmu mengalami penderitaan ini!", ucap Anisa terdengar lemah
Gita memeluk mertuanya, dia tahu perasaan Anisa saat ini. Anisa pasti sangat kecewa.
"Semua sudah takdir yang harus aku jalani ma. Bukan salah mama, bukan salah mas Danar juga. Kita semua sedang di uji, Allah ingin tahu sampai mana kita bisa menghadapi masalah ini. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan ma, bukankah mama yang mengingatkanku untuk tetap bertahan?", Anisa memeluk Gita. Entah terbuat dari apa hatinya, bukan hanya keikhlasan namun juga kesabaran luar biasa Gita lakukan demi pernikahannya dengan sang putra yang jelas-jelas hanya menyakiti perasaannya.
__ADS_1
"Ikutlah dengan mama nak, ayo tinggal bersama mama!", ajak Anisa namun Gita menggeleng
"Rumahku disini, ada suamiku dirumah ini. Aku tidak akan pergi sebelum dia yang mengusirku dari sini!", Anisa menatap menantunya dengan sendu
"Jika itu keputusanmu, mama tidak bisa berbuat apa-apa!",
Gita tersenyum, dia mengantar Anisa hingga ke teras. Wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu pergi dengan wajah penuh dengan penyesalan. Gita yakin semua akan baik-baik saja.
"Sudah selesai dengan dramamu?", Gita menatap Danar dan Tari yang ada didepannya
"Jika bukan karena mama, tentu aku sudah menceraikanmu!",
Deg
Gita membeku seketika, jantungnya berasa berhenti berdetak. Setidak ingin itukah Danar menjadi suaminya?. Bahkan dengan mudahnya pria itu mengucap kata cerai.
"Kau begitu menjijikkan Git, kau seperti parasit yang terus menempel padaku. Kenapa kau tidak menyerah dan menceraikan aku?!", Gita menatap Danar dengan derai air mata, apalagi mendengar kata-kata Danar yang menyakitkan.
"Jika kau takut hidup susah, aku akan memberikan harta gono gini yang sepadan!", ucap Danar santai
"Sayang, aku tidak ingin tinggal serumah denganya. Suruh dia pergi dari sini!", ucap Tari manja.
Setelah berada dalam kamar, Tari kembali menghasut suaminya. Dia bahkan meminta Danar memaksa Gita untuk menceraikannya. Karena Tari tahu, Anisa tidak akan membiarkan Danar menceraikan menantu kesayangannya. Bahkan Tari meminta Danar mengusir istri pertamanya.
"Tidak tahu diri!",
Mereka semua dikejutkan dengan suara seseorang yang tidak asing,
"Setelah menjadi duri dalam rumah tangga mereka. Sekarang kau menghasut Danar untuk mencampakkan istrinya. Benar-benar wanita ular!!", cibir Dirga. Entah kapan dan darimana datangnya pria itu. Kini dia sudah berdiri gagah menatap Danar dan mantan adik tirinya.
"Siapa kau berani menghardik istriku. Ini masalah kami, kau tidak berhak ikut campir!!", ucap Danar tak suka
"Gita adikku, dan sebagai kakak yang baik, aku akan melindungi dia dari manusia tidak punya hati seperti kalian berdua!!",
"Dirga hentikan!!", pinta Gita
"Hahah, adik?. Gita itu anak tunggal, jadi aku pastikan dia bukan adikmu. Oh, mungkin yang kau maksud adik adalah simpananmu, atau dia jalangmu?",
Bug
Dirga memukul Danar saat mendengarnya mengatai Gita ******. Pria itu tak terima dengan perkataan Danar.
"Kau!!", teriak Danar marah
"Kau benar-benar manusia paling bodoh di dunia ini. Kau mati-matian bahkan melawan mamamu sendiri hanya untuk membela perempuan licik ini. Kau belum tahu siapa dia bukan?", Dirga menatap Tari dengan tatapan membunuh, hal itu membuat Tari mulai gusar,
__ADS_1
"Aku peringatkan padamu Mentari, jika kau masih mengganggu dan membuat Gita menderita. Aku tidak segan-segan memberi tahu Danar semuanya!!",
Deg