
"Pria ba*ingan. Kau sudah menghancurkan hidupku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!."
Wanita itu berjalan menuju halte didekat rumah sakit. Kebencian menyelimuti hatinya. Dan tanpa sadar dia meremas perutnya dengan erat.
Flash Back On
Anya berjalan pelan menuju poli dokter kandungan. Pikirannya diliputi perasaan cemas. Dia belum datang bulan sejak kejadian itu. Tepatnya setelah waktu masa suburnya dia habiskan dengan pria asing yang telah merenggut mahkotanya.
"Ibu Anya!."
Panggilan dari suster membuatnya menoleh ke kanan dan kiri. Dia takut ada orang yang mengenalnya dan melihat dirinya berada di poli dokter kandungan. Untung saja suasana belum terlalu ramai. Dengan langkah berat, wanita itu masuk ke ruangan dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?", tanya dokter dengan ramah. Anya menatap sedikit ragu,
"S-saya ingin memastikan, apa saya hamil atau tidak dokter!", jawabnya sedikit gugup
"Sebelumnya apa sudah pernah di cek menggunakan alat kehamilan?", Anya menggeleng. " Gelaja apa saja yang anda alami belakangan ini?."
"Em ... Saya sering pusing. Kadang mual juga, dok!."
Dokter tersenyum, "Kalau begitu, silahkan anda berbaring diranjang. Saya akan memeriksanya dulu!."
Setelah berbaring diranjang, dokter mengoleskan gel kemudian menggerakkan alat tranduser ke perut Anya. "Disini memang ada janinnya bu. Anda lihat titik hitam ini? Itu adalah anak anda. Usianya masuk 7 minggu!."
Deg
Ya Allah, jadi aku memang hamil pria ba*ingan itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku takut!
Anya tanpa sadar menangis, dokter mengira dia menangis karena bahagia, nyatanya bukan.
"Usahakan tetap makan walau mual. Kalau tidak bisa makan nasi, ganti dengan buah atau apapun yang penting perut anda terisi. Mual muntah akan berakhir setelah melewati trimester awal. Kalau bisa, anda juga mengkonsumsi susu hamil. Saya akan memberikan obat yang bisa mengurangi mual anda!."
Anya mengangguk lemah, pikiran dan hatinya tengah kacau. Kejadian dua bulan lalu membuat hidupnya berantakan. Lalu sekarang, dia harus hamil anda pria itu.
"Sekali lagi selamat, Bu. Pemeriksaan selanjutnya kalau bisa didampingi suami. Kehamilan pertama biasanya calon ayah dan bunda sangat antusias!", ucap dokter
Anya hanya tersenyum kaku, Saya bahkan tidak punya suami dok. Bathinya
Setelah mendapat resep dari dokter, Anya keluar. Hatinya merasa teriris manakala melihat banyak pasangan yang tampak bahagia dengan kehamilan mereka. Sedangkan dirinya? Dia bahkan tak tahu harus bahagia atau tidak. Tak bisa menahan air matanya, Anya memutuskan pergi ke toilet. Disana ia menangis menumpahkan segala kesedihan hatinya. Hingga seseorang mengetuk pintu.
"Hallo, kamu tidak apa-apa?." Anya hanya diam, dia mengusap sudut matanya. Berharap perempuan yang mengetuk pintu toiletnya pergi. Namun semua hanya harapan, wanita itu terus mengetuk pintu membuat Anya mau tak mau membuka pintu.
"A-anya!", pekiknya kaget
"B-bu Gita!", Anya tak kalah kaget melihat istri bosnya ada disini.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kenapa menangis disini?."
Anya menggelang, "Saya tidak apa-apa, Bu!."
Tapi sepertinya wanita itu tidak percaya. Melihat penampilan Anya, semua orangpun bisa melihat jika wanita itu tidak baik-baik saja.
"Kamu sakit? Atau butuh sesuatu?."
Anya kembali menggeleng, "Saya baik-baik saja. Kalau begitu, saya duluan!."
Anya segera pergi dari toilet, ia tak mau istri bosnya itu semakin curiga padanya. Apalagi sampai tahu kehamilannya, bisa-bisa ia dipecat karena dianggap melalukan prilaku buruk karena hamil diluar nikah.
Anya terus melangkahkan kakinya dengan lemah menuju apotik. Selesai menebus obat di apotik, Anya hendak pulang. Namun matanya tak sengaja melihat pria itu. Pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Dia adalah pria beristri. Hahah, lengkaplah sudah penderitaanmu, Anya. Kau hamil anak seorang pria yang sudah menikah. Apa kata orang nanti kalau tahu hal ini?. *Kau akan dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang. u*capnya dalam hati
Anya terus memperhatikan Danar dan Tari bahkan saat mereka sedikit ribut dengan bos dan istrinya. Entah apa hubungan mereka, tapi melihat wajah tak bersahabat bosnya, ia yakin Dirga tidak menyukai mereka.
Flash Back Off
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?," Anya melepas remasan perutnya. Ia memang membenci pria yang menanam benih dirahimnya. Tapi ia tak boleh membenci anaknya. Bagaimanapun, bayi yang dia kandung adalah darah dagingnya sendiri.
Kamu bisa, Anya. Kamu pasti bisa merawatnya dengan baik. Mungkin ini hadiah dari Allah karena kamu sebatang kara. Hidupmu tidak akan kesepian lagi. Banyak juga wanita yang mengalami nasib sepertimu dan mereka berhasil menjadi single mom hebat. Kamu pun pasti bisa. Anya membathin
Anya turun dari bus, dia masih harus berjalan kaki sekitar satu kilo untuk sampai ke rumahnya.
Kamu sabar ya, Nak. Bunda akan berjuang untuk kamu. Untuk saat ini, kita hidup sederhana dulu ya.
Wanita itu berjalan melewati trotoar. Hingga sebuah mobil mewah berhenti tepat didepannya.
"Nona, silahkan masuk. Kami akan mengantar anda pulang!", ucap seorang pria berjas hitam.
Anya menatap curiga ke arah pria itu. Siapa dia? Apa mungkin pria yang memperkosanya tahu kalau dia hamil. Lalu dia ingin menculiknya dan menggugurkan kandungannya karena pria itu sudah beristri?
Anya berlari, wanita itu terus memilih meninggalkan pria yang dia anggap mencurigakan itu.
"Bos, target lari. Dia terlihat mencurigai saya dan ketakutan!", lapornya pada seseorang
"Ikuti dia, pastikan dia aman. Saya hampir sampai!."
Pria berjas itu masuk kedalam mobil kemudian melajukan mobilnya. Tujuannya adalah rumah Anya. Dia berhenti didekat rumah Anya saat melihat Anya masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Anya sendiri berdiri didepan pintu dengan nafas terengah-engah. Dia mengintip dibalik jendela. Hembusan nafas lega keluar dari hidungnya saat tak melihat siapapun didepan rumahnya.
Maafkan bunda karena mengajakmu berlari, semoga kamu baik-baik saja diperut bunda.
__ADS_1
Anya berjalan kedapur lalu meminum segelas air. Perutnya mulai lapar, dia membuka kulkas dan melihat ada sebuah apel.
Kita makan ini dulu ya, sayang. Nanti sore kita beli makanan.
Miris, ayah dari bayinya hidup enak bahkan mungkin sangat nyaman. Dilihat dari tampilannya saja, sudah jelas jika pria itu bukan orang biasa. Dia adalah orang kaya.
Saat Anya masih sibuk dengan pikirannya, sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Jantungnya berdetak kencang, Anya takut jika yang datang adalah pria tadi. Dengan langkah pelan sambil berjinjit, Anya berjalan menuju depan. Dia mengintip dibalik jendela dan melihat seorang pria berdiri disana, tapi bukan pria yang tadi.
"Maaf, cari siapa ya?", tanya Anya yang sesaat tadi memberanikan diri membuka pintu.
Pria itu tersenyum, "Kamu Anya?", wanita itu mengangguk, " Saya Agung, bisa kita bicara sebentar?."
Anya berfikir sejenak kemudian mengangguk, "Silahkan!."
Agung mengamati rumah Anya, tidak ada yang istimewa. Hanya ada beberapa foto usang yang terpasang didinding ruang tamu.
"Silahkan duduk!."
Agung mendudukkan pantatnya di kursi kayu yang jauh dari kata nyaman. Dia menatap Anya sekilas, merasa iba pada wanita didepannya.
Anya masuk kedalam rumah, dan keluar dengan nampan berisi teh diatasnya.
"Silahkan diminum tuan!."
Lagi-lagi Agung tersenyum, "Terima kasih!."
"Jadi, siapa anda sebenarnya? Dan apa tujuan anda menemui saya!."
Agung kembali menatap Anya, dan terdiam sejenak, "Saya adalah papa dari pria yang menodai kamu. Dan saya tahu, saat ini kamu sedang mengandung cucu saya!."
Deg
Wajah Anya memucat, tubuhnya terasa lemas. Apa yang akan pria ini lakukan padanya. Tidak, Anya tidak mau kehilangan bayinya. "A-apa maksud anda tuan? Saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan!."
Agung tersenyum, "Kamu mengerti, bahkan sangat mengerti maksud saya!."
Anya menunduk sambil meremas jari-jarinya.
"Saya tidak akan meminta pertanggung jawaban putra anda. Saya juga tidak akan mengusik rumah tangganya. Tapi tolong, jangan melenyapkan bayi saya!", pinta Anya
Agung menatap wajah Anya yang diliputi ketakutan. Apa wanita ini berfikiran dia akan melenyapkan bayi dalam kandungannya?.
"Jangan salah paham. Kedatangan saya bukan untuk melenyapkan bayi kamu. Saya masih punya hati nurani, tidak mungkin saya membunuh cucu saya sendiri. Saya datang untuk membawa kamu menemui putra saya. Bagaimanapun, dia harus bertanggung jawab!!",
"TIDAK! SAYA TIDAK MAU TANGGUNG JAWAB APAPUN DARI PRIA BA*INGAN ITU!!!."
__ADS_1